
Naila duduk di kursi nya dengan firasat yang kurang enak, dia tidak mau jika suaminya datang dan melihat semua barang pemberian nya hancur, tapi dia juga khawatir mengapa suaminya belum datang juga padahal sedari tadi dia sudah menunggu dan pasrah untuk di marahi.
Naila keluar untuk mencari Ciara karena ponsel nya yang tidak mau hidup lagi.
"Cia, aku minjam hp mu, apa kamu ada menyimpan nomor Ezra,?" tanya Naila dan di jawab gelengan kepala dari Ciara.
"Aduh aku menyesal tidak memberikan nya dulu," ucap Naila.
"Bagaimanapun dengan mami,? tanya Naila dan kembali mendapat gelengan kepala dari Ciara.
"Kamu bawa mobil kan,?" tanya Naila dan di angguki oleh Ciara.
"Ayo temani aku ke perusahaan suami ku,"ucap Naila.
"Untuk apa kesana,? tanya Ciara.
"Ahhg, cepat lah, aku ingin menjelaskan nya bahwa barangnya hancur semua, sebelum dia melihat nya dengan mata kepalanya sendiri," ucap Naila.
"Baiklah," jawab Naila.
Mereka melajukan mobilnya ke arah perusahaan Irsyad tapi tidak jauh dari perusahaan nya terjadi macet parah.
"Kenapa disini macet sepanjang ini,?" tanya Naila.
"Mana ku tau," saut Ciara.
__ADS_1
Kebetulan ada polisi yang mengatur lalu lintas tersebut membuat Naila menurunkan kaca mobilnya untuk bertanya.
"Pak, kalau boleh tau kenapa ya, kok macet seperti ini dan banyak polisi,?" tanya Naila.
"Ada kecelakaan di depan mbak," ucap polisi tersebut yang entah mengapa membuat Naila merasa firasatnya tambah aneh.
"tabrakan atau kecelakaan biasa pak,? tanya Ciara ikut kepo.
"masih di selidiki mbak karena posisi truk yang seperti di sengaja dan tidak ada orang di dalam truk tersebut, hanya mobil sport warnah hitam yang di kendarai seorang laki laki dan sudah di larikan ke rumah sakit dan kalau gak salah platnya bernomor *** " saut polisi yang membuat Naila seketika terdiam, jantung nya seakan berhenti berdetak.
Naila berusaha untuk meyakinkan hatinya jika itu bukan mobil suaminya.
"Naila, kamu kenapa,?" tanya Ciara yang melihat wajah Naila panik.
"Tidak," saut Naila.
"Maaf saya tidak terlalu memperhatikan nya karena wajahnya juga sudah di penuhi darah," jawab polisi tersebut.
"Owh, makasih ya pak," ucap Naila.
"Kalau begitu saya permisi dulu mbak," ucap polisi tersebut dan di angguki oleh mereka berdua.
"Ciara, pinjam hp mu, kamu ada menyimpan nomor suami ku bukan,?" tanya Naila dan di angguki oleh Ciara.
Saat melewati tempat kecelakaan tersebut, Naila melihat mobil yang sudah hancur dan melihat plat dan warna mobilnya sama persis dengan mobil yang jarang di gunakan oleh suaminya.
__ADS_1
"Cia stop," ucap Naila dan saat mobil berhenti Naila dengan cepat turun dan berlari ke arah sana.
"Naila...." ucapan Cia terhenti saat melihat Naila sudah menutup pintu.
Terlihat Naila disana di tahan oleh polisi untuk masuk ke dalam garis yang telah di pasang.
"Pak, tolong saya ingin memastikan jika ini bukan mobil suami saya," ucap Naila sudah menetes kan air matanya.
"Maaf Bu, kami dalam penyelidikan, jadi kami harap anda mengerti," ucap polisi tersebut.
"Apa ada barang yang ada di mobil tersebut.
,?" tanya Naila lagi.
"Komandan," ucap polisi tersebut sedikit berteriak ke arah polisi lainnya.
"Maaf pak, dia mengaku sebagai suami pemilik mobil tersebut," ucap polisi tersebut.
"Apa benar anda adalah istri nya,?" tanya komandan polisi tersebut.
"Tidak, saya hanya ingin memastikan bahwa itu bukan mobil suami saya, dan apa ada barang yang ada di mobil tersebut,?" tanya Naila semakin meneteskan air matanya.
"Polisi tersebut mengambil ponsel yang sudah di bungkus dalam plastik, dan foto foto yang ada di mobil tersebut.
Naila seketika diam memperhatikan nya, tenaganya seakan hilang begitu saja, air matanya semakin mengalir deras saat melihat foto dan ponsel tersebut, Ciara yang baru turun melihat foto Irsyad dan Naila membuat nya juga ikut terdiam seketika.
__ADS_1
"Mungkin benar Bu, ini foto anda bukan,?" tanya polisi tersebut tapi Naila tiba-tiba terjatuh begitu saja tak sadarkan diri.
"Naila," teriak Cia ikut menangis sejadi jadinya.