
Reinan memberikan masakan nya kepada Naila dengan wajah datar nya , Naila dengan sangat senang hati menerima nya dan senyuman manis yang terukir di wajah nya
" Terimakasih suami ku " ucap Naila tanpa sadar membuat seketika wajah Naila merona malu
" apa yang baru ku ucapkan " gumam Naila
" cepat makan , tidak usah ngejek " ucap Reinan ketus walaupun hati nya sudah berdegup sangat kencang
" apa ini , dia baru saja memanggil ku apa " gumam Reinan
Naila tanpa berbicara lagi langsung memakan masakan Reinan tanpa sisah
" ahhg enak sekali " ucap Naila mengelus perut nya yang kenyang
" mana obat nya ?? tanya Reinan yang terus mengingat nama obat yang disebut kan oleh Naila
" obat apaan ?? tanya balik Naila
__ADS_1
" kok malah nanya balik sih , kamu bilang tadi akan memberikan ku obat penawar bukan " ucap Reinan mulai merasa diri nya dikerjain oleh Naila
" aku tidak mencampur obat apa apa , jadi kamu tidak akan mati kok , aku hanya memberikan mu pembalasan yang setimpal karena menghabiskan makanan ku " ucap Naila
" bukan aku yang habiskan " jawab Reinan masih mengelak
" bukan kamu ?? jadi siapa hah ?? kucing garong?? jelas jelas kamu yang kucing garong , udah ketangkap basah masih tidak mau ngaku lagi , jadi buat apa kamu minta obat penawar kalau kamu gak dengar yang aku omongin tadi dan sudah jelas kamu yang memakannya dan kamu cuma pura pura tidur " ucap Naila kesal
Reinan seketika diam dengan wajah Datar nya
" aku gak sengaja , aku mau tidur " ucap Reinan langsung melangkah ke arah kamarnya dari pada diri nya akan semakin disudutkan oleh Naila
" siapa juga yang ngomong sama kamu , aku ngomong sama diriku sendiri " saut Reinan
" berarti kamu sudah tidak waras , ngomong sama diri sendiri , kalau perlu tu tembok ajak bicara biar wajah mu dan tembok bisa mirip hanya Datar " ucap Naila
" apa yang kamu ucapkan hah ?? tanya Reinan dengan tegas
__ADS_1
" tembok datar seperti wajah mu " jawab Naila tanpa rasa takut lagi , ingin sekali Reinan menampar bibir nya tapi beruntung di mata Reinan bibir Naila sangat mungil
" untung aja bibir mu mungil kalau gak udah ku tabok tu " ucap Reinan tanpa sadar
" lupakan , aku hanya bercanda " ucap Reinan menahan Rasa malu nya dan masuk ke kamarnya
Didalam kamar Reinan seperti cacing kepanasan menggigit bantal serta meninju-Ninjunya
" kenapa aku sangat terlihat bodoh kalau aku ada didepannya " ucap Reinan pada dirinya sendiri
" dan apa yang tadi dia ucapakan , dia bilang suamiku , ahhg kenapa hatiku ingin sekali keluar , apa dia sangat membenci Naila hingga mau keluar menghajar nya " ucap Lagi Reinan
" tapi diriku tak berdaya didepannya , dia sudah mulai lancang padaku , Gadis bodoh itu sudah melawan ku dan kenapa aku semakin senang mengerjai nya " lanjut Reinan
sedangkan Naila yang sudah selesai membawa piring nya ikut masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur empuknya
Naila ikut terhanyut dalam khayalan nya , tiba tiba dia mengukirkan senyuman manisnya mengingat Reinan yang habis dia kerjain balik ,ini pertama kalinya dia mengerjai suami nya , senyuman Naila sangat cerah saat kembali mengingat kata kata yang diucapkan Reinan yang membuat nya tadi sempat berdetak sangat kencang
__ADS_1
" dia memujiku barusan bukan , dia bilang aku mungil , ehh bukan tapi bibir ku mungil " ucap Naila ikut menjadi cacing kepanasan di kasur nya
" kenapa senyuman kak Reinan sangat indah walaupun cuma sesekali dan hanya sekilas tapi sudah terlihat sangat indah " gumam Naila menyembunyikan wajahnya di selimut seperti ada yang melihatnya sampai menyembunyikan wajah nya yang merona malu