
Ciara sudah menelfon kedua orang tua Naila, mereka pun sudah sampai disana dan melihat putri satu-satunya sangat hancur, Bu Afra menitikkan air matanya dan berlari memeluk Naila.
"Ibu hiks...hiks..." ucap Naila dengan tangisan yang semakin pecah di pelukan sang ibu.
"Sabar ya nak," ucap Ibu nya mengelus lembut kepala putrinya.
"Apa kedua orang tua Irsyad sudah tau,?" tanya Pak Gibran dan mendapat gelengan kepala dari Ciara.
Dengan cepat ayah Naila mengambil ponselnya dan menghubungi pak Andi, dan selang beberapa lama pak Gibran menutup telfonnya.
"Ibu, Mas Irsyad hiks..hiks," ucap Naila dengan suara yang sudah sangat lemas.
"Iya nak, Ibu tau, tapi kamu tenangin pikiran kamu dulu ya, semuanya pasti akan baik-baik saja, ingat kandungan mu, pasti suamimu akan marah padamu jika bayi kalian kenapa-napa," ucap Bu Afra.
Beberapa jam kemudian semua keluarga Irsyad sudah datang membuat Naila langsung memeluk Mami Rin dengan erat dan tangisan yang tak ada henti-hentinya.
"Sabar ya Nak," ucap Mami Rin dengan air matanya yang juga sudah mengalir deras begitu pun dengan Oma yang sudah meneteskan air matanya merasa sangat tidak tega melihat Naila.
Terlihat pak Andi dan Pak Gibran pergi entah kemana, mereka langsung pergi meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
"Sayang, jangan terlalu seperti ini, kasihan cicit Oma," ucap Oma dengan suara lembut.
"Tapi mas Irsyad Oma hiks..hiks., dia didalam sana," ucap Naila menunjuk ruang IGD.
"Iya nak, kamu harus kuat ya, agar suamimu jika sudah bangun senang melihatmu baik-baik saja," ucap Oma tapi Naila tidak bisa jika orang yang dia sayang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Dokter keluar membuat Naila yang melihatnya segera berlari ke arahnya dengan air mata yang kembali jatuh begitu saja.
"Dok, dimana suamiku, dan bagaimana keadaannya?" tanya Aila dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Suami anda masih dalam keadaan koma, dan kami membutuhkan golongan darah, suami anda kekurangan darah," ucap Dokter tersebut membuat Naila terduduk lemas di lantai.
Naila seketika teringat saat suaminya pernah kekurangan darah dan yang mendonorkan darah adalah dirinya sendiri, dia kembali berdiri dengan wajah serius.
"Tidak Nai, jangan melakukannya, kamu sudah lemas seperti itu, Mami tau kamu mencemaskan suamimu tapi jangan bertindak gegabah, ingat dirimu sendiri dan bayi mu," ucap Mami Rin dan di angguki oleh Oma.
"Benar Bu, bukan kah anda tadi datang kesini dalam keadaan pingsan, dan anda juga mengandung, ibu hamil tidak bisa jika kekurangan darah sedikit saja," ucap Dokter tersebut membuat Naila tidak mau tua bagaimanapun caranya dia akan menyumbangkan darahnya.
"Jadi siapa yang akan mendonorkan darah kepada suamiku, hanya aku yang sama golongan darahnya, jadi tunggu apalagi cepat lakukan itu," ucap Naila dengan suara keputusasaan.
__ADS_1
Tiba-tiba Ezra datang dengan raut wajah cemas, dia menatap semua keluarganya yang sama dengan dirinya.
"Bagaimana keadaan kak Irsyad,?" tanya Ezra.
"Apa golongan darah mu Ezra,?" tanya Oma nya langsung.
"AB," jawab Ezra.
"Dok, ambil darah dia," ucap Oma langsung menunjuk ke arah Ezra membuat Ezra membulatkan matanya, dia sedari dulu sangat takut dengan jarum suntik.
"Oma, kenapa mau ngambil darah ku,?" tanya Ezra.
"Kakakmu saat ini koma dan dia membutuhkan darah, golongan darahmu sama dengannya, lihat istri kakak mu, dia sangat menderita, jadi Oma mohon padamu untuk membantunya," ucap Oma membuat Ezra langsung menganggukan kepalanya.
"Baiklah," jawab Ezra.
"Kalau begitu bisa ikut dengan saya," ucap Dokter tersebut dan di angguki oleh Ezra.
Naila sudah tidak peduli lagi dia langsung masuk tapi kembali di tahan oleh dokter.
__ADS_1
"Maaf Bu, jika anda ingin masuk, pakailah baju khusus," ucap Dokter tersebut.
"Dan batas orang yang masuk maksimal 2 orang," lanjut dokter tersebut dan di angguki oleh mereka semua.