
Kejadian yang sangat pahit kini berada di keluarga mereka, Ezra dan Irsyad masih sama-sama koma, hati Naila semakin teriris rasanya, mengetahui kejadian ini karena dirinya, orang menyukai dirinya namun berakibat pada orang yang ia sayangi.
Keluarga nya semua berusaha menyupport Naila agar tenang, untuk kesehatan kandungan dan dirinya sendiri, Naila sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa tenang tapi seperti sangat mustahil baginya.
Sudah beberapa Hari berlalu kedua sepupu tersebut masih berbaring di ruangan yang sama namun beda tempat tidur.
"Sayang, anak kita merindukanmu," ucap Naila lembut menarik pelan tangan Irsyad untuk memegang perut nya yang masih rata.
"Ahhggg, Sialan," teriak seseorang dari belakang membuat Naila refleks menoleh, langsung berjalan dengan cepat ke arah Ezra.
"Ezra, apa kamu tadi berbicara,?" tanya Aila.
"Mataku tidak bisa terbuka," ucap Ezra membuat air mata kebahagiaan Naila mengalir begitu saja, dengan cepat ia memencet tombol di balik sana untuk memanggil dokter.
Tak lama Dokter datang bersama beberapa suster.
"Dok dia sudah berbicara," ucap Naila
Dokter dengan segera mengecek keadaan Ezra senyuman manis terukir manis di bibir dokter tersebut.
__ADS_1
"Dia sungguh kuat, bahkan dirinya belum stengah sadar pun masih bisa melawan kesadarannya, mungkin beberapa jam lagi pasien akan sadar sepenuhnya," ucap Dokter tersebut.
"Hei dok, tidak usah berbohong, aku sudah sadar," ucap Ezra.
"Kenapa badanku semuanya sangat terasa sakit," ucap Ezra mulai membuka matanya.
Naila tidak bisa lagi menahan rasa bahagianya, dengan refleks dia memeluk Ezra, kekhawatirannya sedikit berkurang.
"Kakak Ipar, badanku sakit, aku akan di mangsa oleh Irsyad nanti," ucap Ezra membuat Aila segera melepaskan nya dan menghapus air matanya.
"Pasien harus banyak istirahat, usahakan jangan terlalu banyak bergerak dulu ya," ucap Dokter tersebut.
"Kamu bahkan salah perhitungan, seenaknya saja mengaturku," ucap Ezra ketus.
Ezra menoleh ke samping dan melihat Irsyad masih berbaring dengan alat medis yang masih sama sebelum ia pergi bersama Papi Irsyad.
"Apa kak Irsyad belum sadar,?" tanya Ezra dan hanya mendapat gelengan kepala dari Naila.
"Aku sudah berapa hari disini,?" tanya Ezra lagi.
__ADS_1
"Nanti malam sudah tepat 1 Minggu," ucap Naila.
"Ahg aku sungguh lapar," ucap Ezra untuk membuat Naila tidak terllau mengingat kejadian kejam itu lagi.
Aila menatap makanan yang dibawakan oleh Mami Rin tadi, ia mengambilnya dan menyuapi Ezra seperti anak kecil.
"Apa kakak ipar sudah makan,?" tanya Ezra dan di angguki oleh Naila.
"Jangan lupakan sarapan Kakak ipar, aku akan segera menjadi uncle," ucap Ezra dan hanya di angguki oleh Naila.
"Istirahat lah kakak Ipar, kamu pasti kelelahan," ucap Ezra.
"Tidak, aku akan menunggu suamiku sadar, dia pasti akan sadar juga sebentar lagi," ucap Naila.
"Ezra akan membangunkan Kakak Ipar jika Irsyad sudah bangun," ucap Ezra.
"Jangan paksakan diri kakak ya, Kak Irsyad bakal marah padaku jika aku tidak bisa menjadi adik sepupu yang baik, jadi tolong istirahat ya kak, mata Kakak kelihatan sekali kurang tidur, apa kakak mau jika kak Irsyad melihatnya nanti, dia pasti bakal sangat sedih," ucap Ezra membuat Naila hanya bisa menganggukan kepalanya.
Ezra kembali teringat malam saat itu, rahangnya kembali mengeras merasa belum puas dan tidak bakalan puas sebelum bajingan tersebut mati ditangannya.
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," gumam nya dengan penuh dendam yang amat mendalam.
"Jika saja terjadi sesuatu pada kak Irsyad kau akan mencarimu, bahkan jika kamu sudah di penjara pun aku bakal tetap membunuhmu," gumam lagi Eza dengan rahangnya yang sudah sangat mengeras dan wajah yang sudah memerah penuh emosi.