Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Di Kota Orang


__ADS_3

Jodoh pasti bertemu. Kalau sudah cinta melanda dan merajai diri, kemanapun ia pastinya akan dicari. Dari pelupuk mata hingga ujung samudera, hati ini pasti akan merasa getaran kehadirannya. Tapi tunggu, cinta dengan nafsu bisa disamakan gak sih?


Pagi cerah ini di Kota Batam, pesawat airbus baru saja lepas landas di bandara Hang Nadim, membawa beberapa penumpang dengan selamat. Ada satu yang mencolok mata bahkan saat ia berjalan di koridor bandara menuju pintu keluar. Seorang cewek yang disibukkan dengan barang-barang yang super banyak. Selain itu ia juga terhenti di tengah jalanan ramai demi merogoh tasnya.


"Duh, untung cakep, kalau gak dah ku lempar ke laut," celetuk seorang asing yang gerah dengan tingkah perempuan itu.


"Iya, maaf ya, om," jawabnya.


Barulah ia meraih handphonenya dan mengangkat panggilan telepon.


"Kamu udah sampai?" tanya seorang wanita tua di seberang telepon.


"Baru aja, ma. Ini masih mau cari Nana," jawabnya masih kerepotan sendiri mengurus barang-barang.


"Oh yaudah, nanti kalau sudah sampai rumah Nana telepon mama lagi, kamu jangan bikin mama khawatir loh, Kalila. Jangan buat ulah yang aneh-aneh, dan jangan ngerepotin om dan tante. Mengerti?"


"Iya, ma," jawabnya.


Perempuan bernama Kalila itu menutup teleponnya, lalu melanjutkan perjalanannya ke pintu keluar sembari menunggu koper koper dan barang bawaannya keluar satu per satu. Teleponnya berdering lagi.


"Aku lagi nunggu koper. Sini dong masuk, barangku banyak," pintanya pada seseorang dengan nada suara manja yang membuat laki-laki di sisi kiri dan kanannya terhentak ingin membawakan koper banyak yang ia maksud tadi.


Peraturan hanyalah peraturan, si penjemput tidak bisa masuk ke dalam wilayah bandara jika tidak ada keperluan. Dan mendengar penjelasan orang yang tadi meneleponnya, satu orang laki-laki berinisiatif membantu si cantik. Diam-diam ia mengambil trolley dan menyerahkan ke sisi si cantik. Tak lupa perempuan itu tersenyum cemerlang dan mengucapkan terima kasih.


Tak lama barang pertama muncul, koper pink dengan ukuran besar siap untuk diangkut. Sedikit kesusahan ia mengeluarkan koper itu dari jalur barang, sementara barang lain sudah membludak, terhenti karena lambatnya Lila. Dan laki-laki tadi masih betah membantunya. Hingga barang kedua dan selanjutnya, laki-laki tadi masih juga membantunya. Menyusun barang di atas trolley demi memastikan tidak ada yang jatuh dan melukai kaki si cantik.


Begitu barangnya terkumpul, Kalila bersiap pergi dan tak lupa mengucapkan beribu rasa terima kasihnya yang dibalas dengan seutas senyum tipis dari bibir laki-laki itu. Lalu laki-laki itu juga pergi, sementara barang yang ia bawa hanya ransel yang sedang ia gendong, dan sebuah kotak berukuran sedang.


"Ah, daritadi dia menunggu untuk membantuku?" gumam Lila dalam hati sambil mendorong trolley ke pintu keluar. Sementara ia masih memandangi pundak laki-laki yang tadi membantunya.

__ADS_1


"Heh!!!" tegur suara perempuan lain amat kencang ke arah Lila.


Terhentak dari pandangannya dan sempat menoleh ke arah suara berisik itu, dan ternyata sepupunya yang tadi di telepon. Saat ia ingin melihat pundak laki-laki tadi, sosok itu sudah berbaur entah kemana.


"Cari apa?" tanya Nana setia menghampiri Lila.


"Ah, gara-gara suaramu yang kayak petir, aku kehilangan jejak bidadara dong," gerutu Lila begitu melihat Nana.


"Jadi kamu gak senang ketemu aku? Kok gitu sih?" goda Nana yang tahu sepupunya itu sedang kesal.


"Yah, gimana pun itu semua berkatmu, kalau kamu masuk tadi, aku gak dibantuin sama bidadara itu."


"Entahlah, ngomong apa sih. Ini mau di sini aja apa ke rumah nih?" sambung Nana yang tak mengerti ke arah mana obrolan mereka.


"Ya ayuk, emang aku cuma mau numpang naik pesawat doang ke sini? Lagian tante dah masak enak, masa iya aku gak cobain."


Nana tersenyum haru, melihat tingkah sepupunya yang masih saja polos dan kekanakan saat terakhir kali mereka masih berdekatan sebelum orangtua Nana pindah ke Tanjungpinang untuk tugas.


Akhirnya, dengan ketekunan dan kesabaran, sampai juga Lila ke rumah Nana. Untungnya tidak begitu jauh antara pelabuhan Tanjungpinang ke rumah Nana, karena masih bisa dijangkau di area perkotaan. Tapi begitupun, lelah yang tadi ia keluhkan serasa hilang ketika tau dirinya disambut dengan senyum sumringah dari yang punya rumah.


"Om!! Tante!!!" teriak Lila dan ia langsung menerjang tubuh-tubuh para paruh baya tersebut dan memeluk mereka tanpa perhatian kepada barang bawaannya yang heboh itu.


"Ya ampun, cantik banget keponakan tante ini, pasti capek ya jalan jauh ke sini?" tanya mamanya Nana penuh keramahtamahan.


"Tadinya sih capek, Tante. Tapi karena disambut om sama tante, hilang deh capeknya," jawabnya pas antara mulut dan pikiran.


"Halah, kamu ini. Titipan papa mu ke om dibawa kan? Hehehe," kali ini papanya Nana yang ikut ke percakapan. Tak mau kalah dalam hal menyambut keponakannya itu.


For information aja nih, jadi Nana dan Lila sepupuan sebab papa Nana adalah abangnya mama Lila. Gitu aja, udah.

__ADS_1


"Ada om, tapi masih di kotak, aku lupa kotak yang mana karena mama yang packing," jawab Lila lagi-lagi jujur.


"Hush, keponakannya baru datang kok langsung ditagih yang enggak-enggak, gimana sih? Ayo Lila, masuk, istirahat. Apa makan dulu ya?" mama Nana yang biasa dipanggil seantero gang dengan sebutan Bu Mis itu bimbang. Apakah ia harus membiarkan istirahat Lila atau menyuruhnya makan lebih dulu.


"Hello, papa, mama, anakmu di sini, lagi gak berkutik di hadapan koper keponakanmu yang seabrek ini. Tolong, perhatiannya!" sindir Nana yang rupanya dari tadi bersusah payah menurunkan barang-barang Lila.


"Ah, ganggu aja. Orang lagi temu kangen, panggil Pak Budi lah untuk angkat," Om Jo, tepatnya Jonni, sekali lagi ditekankan, papanya Nana, cuek kepada anaknya.


"Lagian kamu bawa apa sih, Lil? Jangan-jangan di dalam koper ini ada orang sekampung apa gimana sih?" tanya Nana masih kesal karena tak dianggap.


"Bekerja itu harus ikhlas. Kalau kamu mengeluh terus kapan selesainya tuh kerjaan. Lihat, papa suruh panggil Pak Budi aja daritadi belum terpanggil kan?" eh, si papa malah balik menyerang anaknya.


"Tau nih anak orang, kebiasaan kalau disuruh suruh itu selalu mulutnya bergumam daripada tangannya. Heran, keturunan siapa sih?" si mama menimpali.


Mendapat jawaban yang mengesalkan dari papa dan mamanya, tak lantas membuat Nana ngambek apalagi marah. Dia justru kembali menggoda orangtuanya dan berkata, "Coret aku dari Kartu Keluarga, please. Capek jadi bagian keluarga ini." Yang akhirnya menimbulkan gelak tawa semua orang termasuk Lila.


Itulah keluarga mereka, penuh dengan kebahagiaan dan canda tawa. Sebab mereka semua berasal dari keturunan yang dibesarkan dengan kasih sayang. Eseh.


"Tante, laper. Belum makan dari siang," seru Lila tiba-tiba.


"Loh, loh, kenapa gak makan siang? Ayuk masuk, masuk. Kita makan. Na, Pak Budi aja suruh masukin ke kamar Lila. Kamu juga makan!" ajak Bu Mis.


"Aku mau bangkrutin om sama tante di sini, biar mama kaget lihat aku pulang bengkak bengkak penuh lemak," canda Lila sembari mereka semua jalan menuju dapur.


"Masih dilarang makan juga kamu sama Jasmin?"


"Iya, om. Gak boleh makan ini, makan itu. Pokoknya di sini, kasih aku makan enak ya, om." pinta Lila.


"Iyalah, nanti om jejelin kamu semua makanan enak di sini. Biar aja," balik om Jo bercanda.

__ADS_1


Semuanya akhirnya makan malam disertai ngobrol-ngobrol panjang tentang hubungan kedua keluarga yang sudah terpisah lama. Tak lupa selesai makan, Lila menghubungi mamanya melalui video call. Percakapan antara orangtua, saling menitipkan anak dan penuh canda tawa.


__ADS_2