
Marcel tiba-tiba berada di sebuah lorong gelap yang tak dapat melihat apapun di sekitarnya. Sunyi, dan juga senyap.
"Halo." suaranya menggema lurus mengikuti jalan lorong dan membal kembali ke dirinya.
Ah, buntu. Pikirnya. Ia beralih ke arah yang berbeda. Suasana nya berbeda dari lorong tadi. Di depannya ada sebuah pemandangan taman yang sangat indah. Dipenuhi bunga bermekaran dengan intens cahaya matahari yang bersinar terang.
Kakinya melangkah menyusuri taman itu. Yang di sepanjang jalan dipenuhi semak belukar dan tanaman berduri yang telah menggores kakinya yang tanpa alas kaki.
Marcel bingung. Ia mengernyitkan dahi pertanda heran. Kakinya dipenuhi darah, tapi tak ada sedikit pun rasa sakit diterimanya.
Semakin ia melangkah, semakin parah goresan yang ia terima. Hingga ia tiba di tengah taman yang tak ditumbuhi bunga. Seseorang memeluknya dari belakang. Marcel menoleh dan dia kaget melihat Sindi yang memeluknya. Wanita itu menangis tersedu. Marcel pun tampak bahagia begitu melihatnya.
Ia peluk lagi wanita yang menyerupai Sindi itu. Membenamkan kepala wanita itu ke dada miliknya. Namun matanya menatap pula sesosok gadis muda yang tak kalah bersinar di bawah matahari dari kejauhan. Tampak bahagia, melompat-lompat kegirangan mengejar kupu-kupu.
Tersungging senyum dari bibir Marcel tatkala melihat tingkah konyol gadis itu. Gadis itu terus memperlihatkan punggung kecil nya, membuat Marcel penasaran dan berdoa agar gadis itu menoleh. Ia penasaran dengan wajahnya.
Bak mendengar isi hati Marcel. Gadis kecil tadi menoleh. Dan ketika ia menoleh, sosok nya berubah menjadi sosok Kalila dewasa yang mampu membuatnya melepas pelukan dari Sindi, orang yang ia rindukan selama ini.
Kaki Marcel melangkah mendekat ke Kalila yang melihatnya dengan pandangan sedih. Namun, semakin dikejar, Kalila semakin menjauh.
"Tidak, tidak. Jangan pergi. Kumohon!" teriak Marcel mengulurkan tangannya pada Kalila, sekiranya agar gadis itu menyambut tangannya dan tak pergi menjauh lagi.
***
"Tidak!!" teriak Marcel membuka matanya spontan. Ia keringat dingin walau ada AC di ruangannya. Sepertinya Marcel bermimpi buruk. Nafasnya tak beraturan saat ia hendak mengingat mimpi buruk itu.
"Selamat pagi..." sapa Lila tepat di samping kasur Marcel saat pria itu terperanjat kaget melihat dirinya. Sebelumnya ia hanya memandangi wajah teduh Marcel yang begitu damai ketika tidur.
Begitu membuka mata dan lihat ada orang di sampingnya tentu saja mengagetkan Marcel. Walaupun sudah biasa baginya ditemani Lila saat tidur.
__ADS_1
Hanya saja, sudah berhari-hari wanita itu tak mengganggunya. Dan ajaib sekarang ia ada di depannya.
"Ngapain lagi kamu? Kok bisa masuk ke sini?" Marcel terduduk di kasurnya dan mengusap wajah nya kasar.
"Gampang, seribu kali kamu ganti passcode, sepuluh ribu kali aku akan mencobanya. Lagian gampang, ulang tahun kamu dan benar." Jawab enteng Lila.
Marcel diam, menatap sinis ke arahnya.
"Kata Pak Anto, kakak hari ini ada kerjaan kan? Ketemu klien penting, ayo siap-siap mandi terus sarapan. Aku udah siapin nasi goreng." ajak Lila mendorong punggung kekar marcel agar meninggalkan tempat tidur. Lila bahkan mengantar Marcel ke kamar mandi. Semua sudah ia siapkan. Air hangat, handuk, dan baju. Marcel tinggal melenggang bebas tanpa beban. Eh, yang jadi beban baginya sekarang adalah Kalila.
"Kamu pelayan?" sindir Marcel.
"Anggap aja begitu. Ayo cepat, kita gak punya waktu." tepuknya pada pantat Marcel lalu memeras pelan gumpalan daging itu. Sentuhan Lila membuatnya bersemangat. Ah, lebih tepatnya Mister yang bersemangat. Seolah menerima sinyal dari gudang favorit nya.
"Apa perlu aku yang mandiin?" goda Lila mulai berani nyosor duluan.
"Ish..." umpat Marcel buru-buru menutup pintu kamar mandi.
"Bagaimana aku bisa nolak kalau kamunya begini." batin Marcel.
Marcel duduk, tanpa banyak bicara ia menyantap nasi goreng bikinan Lila yang sudah pasti enak. Lalu diikuti Lila.
Lila terus berceloteh, mengajak Marcel ngobrol apa saja. Namun batin Marcel menjerit karena sudah mengabaikannya. "Hah.." Marcel hanya bisa menghela nafas panjang. Diiringi senyum penuh arti dari Lila.
"Aku akan menunggu sampai kamu pulang ya. Selagi beres-beresin kamar yang udah kayak pasar ini." sindir Lila melihat sekeliling ruangan yang memang sangat berantakan. Beda saat ia masih sering datang ke sini.
"Pergilah. Aku gak butuh bantuanmu." tepis Marcel ketus.
"Tapi aku senang membantu tuh." Jawab Lila lagi membatu.
__ADS_1
Astaga wanita ini. Keluh Marcel. Sekali lagi ia helakan nafasnya panjang. Tersenyum tipis menyadari Lila memang keras kepala.
Setelah selesai berberes ria, Lila mandi dan beristirahat sejenak. Mengenakan pakaian yang sudah lama ada di lemari, khusus dibelikan oleh Marcel untuknya.
Sementara Marcel saat bertemu dengan klien penting dari Jakarta.
"Jadi pak Aldo, untuk penggunaan aula di tanggal 14 Februari saat ini masih kosong. Sudah banyak yang memesan ke saya soal itu, tapi belum bertemu kesepakatan yang pas." tutur Marcel di hadapan pria muda lain yang lumayan lah.
"Tidak masalah. Saya bersedia membayar lebih dari kesepakatan dengan klien sebelumnya, karena di tanggal itu akan menjadi waktu yang penting bagi saya. Saya akan melamar pacar saya di sana dan mengadakan beberapa pesta untuk teman-teman." kata laki-laki bernama Aldo.
"Baiklah. Selebihnya akan saya kabari melalui asisten saya, pak. Terima kasih." Marcel menyodorkan tangannya untuk bersalaman secara hangat. Aldo lalu menyambut ramah tangan itu dan kesepakatan mereka selesai.
Mendengar Aldo akan melamar pacarnya di hari Valentine membuat Marcel bergidik ngerih. Ia membayangkan masa lalu saat melamar sindi. Untung tidak ada persiapan seperti ini, pikirnya. Akan menghabiskan uang dan sia-sia jika pernikahan mereka tak berjalan mulus.
"Astaga." celetuk Marcel menepuk mulutnya sendiri yang sudah mendoakan hal hal jelek pada klien nya.
Selesai bertemu klien, Marcel tak urung kembali ke ruang kerja. Ia melihat sejenak kamarnya untuk memastikan apakah Lila sudah pergi atau belum.
Pintu baru dibuka dan takjub Marcel melihat semua sudut rapi dan bersih. Tapi terlalu sunyi karena ia tak melihat kehidupan di sana.
Saat ingin menutup pintu dan kembali ke ruang kerja, suara dengkuran terdengar memecah kesunyian. Marcel mencari asal suara itu dan menemukan Lila tertidur di sofa. Gak ada bagus-bagusnya pose tidur gadis itu.
"Astaga." cengir Marcel memandang Lila.
Tak ingin mengganggu, Marcel berniat untuk membiarkannya dan kembali fokus pada pekerjaan nya. Tangan Lila menggenggam tangan Marcel. Langkah kakinya dibuat tercekat karena suara lirih gadis itu terdengar sexy.
"Kamu mau pergi lagi? Aku merindukanmu. Rindu mister." goda Lila.
What? Dia gak sadar posisi nya sedang pasrah begitu? Bisa saja aku menyerangnya sekarang. Dasar gubluk! Batin Marcel menjerit.
__ADS_1
"Istirahat lah. Aku mau kerja." Marcel menghalau tangan Lila darinya. Bisa-bisanya dia mengungkit mister di pagi mendung yang mendukung ini. Kan jadi bangun benda hidup itu. Pikirnya.