
Lila beranjak pulang. Sementara hari sudah sore dan dipastikan Nana juga sudah pulang dari kegiatan komunitas diving nya. Paling tidak hatinya sudah dipersiapkan untuk kecurigaan lanjutan dari Nana. Karena anak itu pasti sudah mendengar dari papa dan mamanya soal kedatangan Marcel menjemput Lila ke rumah.
"Lil," panggil Nana saat Lila baru saja duduk di sofa kamarnya. "Aku dengar Marcel ke sini ketemu kamu. Mau apa dia?"
Tak berniat menjawab pertanyaan Nana, Lila hanya melengos ke kamar mandi untuk mencuci sisa-sisa air mata yang dari tadi jatuh.
"Lila jawab!"
"Kan kamu udah denger dia dateng. Pasti kamu juga dengar alasannya kenapa dia kesini kan?" jawab Lila malas.
Nana mengikuti kemana Lila melangkah. Ke kamar mandi, sofa, lemari. Sampai ia menemukan jawaban yang ia mau.
"Kamu jangan bohong Lila! Aku tadi ketemu Dem di klub diving."
"Yaudah kalau gitu."
"Lila!!!" sentak Nana yang kesal dengan sikap cuek Lila.
"Aku gak suka kamu dekat-dekat sama dia. Dia sudah menikah Lila!"
__ADS_1
Lila pun kehabisan kesabaran. Ia balik berteriak ke Nana. "Iya. Aku tahu dia sudah menikah, punya istri, punya selingkuhan, aku tau, Na!! Aku tau!!" Tanpa sadar air matanya merembes jatuh.
Nana memandang curiga. Namun ia tak melanjutkan interogasinya karena melihat Lila yang lemas karena sesak nafas bawaan yang dideritanya.
"Kumohon jangan bahas ini lagi, Na."
"Baiklah." Jawab Nana lalu ia membantu sepupunya itu dan mengambilkan obat yang biasa dikonsumsi Lila.
Keesokan harinya, seperti yang diduga, Nana tak bisa membiarkan begitu saja apa yang terjadi antara Marcel dan Lila. Ditemani sang ayah, Nana berkunjung ke hotel Marcel dan masuk begitu saja ke kantor pribadi Marcel.
Awalnya ia hendak mengusir Nana yang berlaku tidak sopan memasuki ruangannya secara paksa. Namun ketika ia melihat sosok om Jo yang tertinggal di belakang ia urungkan niat itu dan malah menyambut kedatangan om Jo dengan tangan terbuka tanpa memperdulikan Nana.
Marcel hanya memandang sinis Nana tanpa menjawab pertanyaan perempuan itu.
"Lila itu bukan kayak yang lo fikir ya. Jadi jangan sampai gue denger lo nargetin dia buat jadi mainan lo!" sentak Nana terus-terusan.
Masih tidak ada jawaban dari Marcel. Sementara Om Jo merasa sungkan melihat anaknya memaki Marcel.
"Ingat istri lo! Kalau bukan karena kegilaan lo, gak mungkin dia pergi sekarang! Dasar brengsek menjijikan!"
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Nana langsung pergi meninggalkan kantor Marcel. Dan Marcel juga tak heran dengan kelakuan tersebut. Yang justru membuatnya heran, om Jo masih duduk di sofa menatap dirinya dengan wajah memelas. Sontak sikap angkuh yang tadi ia tunjukkan ke Nana sedikit melunak di hadapan orang tua.
"Maaf ya nak, dia begitu karena khawatir sama Lila. Begitu juga om. Lila itu anak yang baik, sangat baik malahan. Makanya kami semua takut Lila mengalami kesulitan nantinya." Jelas om Jo membuka pembicaraan.
"Jika Kalila membuat masalah dengan nak Marcel, om mewakili pula untuk minta maaf. Karena sebagai pengganti orangtuanya selama di sini, om bertanggung jawab atas dirinya. Kesembuhan, traumanya, kami semua sedang berusaha agar Lila terlepas dari masa lalunya yang berat. Maka..."
Belum sempat om Jo melanjutkan kalimat, Marcel buru-buru memotong setelah ia mendengar kata, "Trauma?"
"Iya, sebelum berlibur ke sini, kondisi Lila amat parah. Dia batal menikah dengan pacarnya yang sudah dipacarin selama 5 atau 6 tahun. Saat persiapan pernikahan sudah hampir matang, lelaki itu malah meninggalkan Lila bersama wanita lainnya. Lila yang depresi hampir mengakhiri nyawanya secara sia-sia karena anak brengsek itu."
Bola mata om Jo berputar. Ia seperti mengingat sesuatu dan dirinya tersentak dengan kalimatnya sendiri. Tiba-tiba wajahnya menunjukkan ketakutan kembali di depan Marcel yang masih diam dan menelaah kata-kata om Jo.
"Maka dari itu, om minta tolong, jika ada kesalahan Lila, mohon dimaafkan. Jika harus berlutut, maka om akan berlutut di depan nak Marcel."
Om Jo beranjak dari duduknya dan hendak berlutut di kaki Marcel. Untungnya dicegah oleh Marcel yang juga ikut bangkit dari duduknya dan memapah tubuh tua renta itu.
"Nana juga tidak tahu apapun. Om minta maaf karena tak mengatakannya!" sesal om Jo.
Setelah menenangkan pria tua itu, Marcel mempersilahkan om Jo untuk meninggalkan ruangan dan menyusul putrinya yang sudah dari tadi meninggalkan pertemuan itu. Pastinya dengan cara yang sopan.
__ADS_1
"Hahhh." hela Marcel pada nafasnya yang barusan ditarik panjang untuk menghilangkan rasa aneh dalam dirinya.