Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Hari Pertama


__ADS_3

"Lil, mau ikut aku gak besok kumpul sama teman-teman diving?" ajak Nana yang nyelonong masuk ke kamar saat Lila hendak mengganti bajunya.


"Aku baru 1 jam menginjakkan kaki di sini, kamu mau aja aku diving?" Lila yang saat itu masih capek dan langsung menyembur Nana dengan amarah. Padahal kan Nana berniat mengajak kumpul bukan langsung diving.


Nana memicingkan mata. Menatap Lila yang masih saja lemot sejak kecil.


"Apa?" tantang Lila.


"Aku cuma ngajak kumpul, bukan diving loh ya," tegasnya.


Barulah Lila mengerti maksud Nana. Ia pun tersenyum malu. Duduk di samping kopernya sambil melipat-lipat baju yang ada di dalam koper.


"Mau gak?"


"Masih capek loh aku, Na. Mau ngapain sih?"


"Eh, di sana banyak cowok keren dan kaya. Capekmu itu pasti terbayar lunas," Nana memaksa.


"Keren dan kaya? Om ku alias papamu juga keren dan kaya."


"Ah, bodoh ah. Malas aku bicara sama kamu. Lemot," Nana ngambek.


Melihat Nana ngambek, Lila jadi teringat saat kecil mereka dulu. Kalau ngambek atau marah, Nana akan lari ke dapur, mencicipi yang manis-manis dan khilaf sampai menghabiskan. Giliran bobotnya naik, Nana akan merengek sejadi-jadinya dan olahraga ekstrem sampai berat badannya kembali semula. Tante sempat khawatir karena kebiasaan Nana ini. Tapi syukurnya sejak pindah ke sini, dan ia menemukan hobby baru yaitu diving, dia gak pernah lagi melakukan olahraga ekstrem seperti dulu.


"Yaudah, lihat besok kalau gak malas, ini aku mau tidur dulu. Udah izin sama om tante tadi buat tidur."


"Oke, oke. Besok, aku jemput. Seperti biasa aku kerja dulu."


"Iya," ucap Lila mengakhiri percakapan.

__ADS_1


Benar saja, tubuhnya tak bisa berbohong, karena memang sangat melelahkan perjalanan yang ia lakukan, terlebih bawa barang yang setengahnya adalah oleh-oleh untuk om dan tante.


Lila merebahkan tubuhnya ke ranjang. Menghela nafas dan mengosongkan pikirannya, bersiap untuk tidur. Tapi, sekelebat bayangan laki-laki yang tadi membantunya di bandara tiba-tiba terngiang bebas di pikirannya. Betapa menyesal dia karena tak bertanya nama laki-laki itu. Memandangi wajahnya secara leluasa pun ia tak puas. Jadi tak bisa menilai, tampan, atau tidaknya laki-laki itu. Yah, paling tidak, laki-laki itu orang asing pertama yang ia temukan, dan berbaik hati menolongnya.


"Hah.." helaan nafas Lila yang penuh penyesalan mengantarkan dirinya menuju alam tidur yang menenangkan. Hingga pagi hari tiba dan dia terlambat untuk bangun.


Matahari sudah terik, begitu panasnya hingga menusuk punggung Lila yang tidur telungkup melalui jendela kamar. "Panas," gumamnya dalam tidur. Tubuhnya mengeluarkan butiran keringat. Tak tahan dengan kondisi itu, ia terpaksa membuka mata yang masih merindukan bantal. "Jam 8?" gumamnya lagi setelah memeriksa ponselnya.


Setelah membersihkan diri, Lila ke dapur dan melihat Bu Mis yang sedang sibuk membersihkan peralatan makan. Sepertinya Lila benar-benar bangun terlalu siang. Sampai-sampai keluarga ini selesai sarapan dan Om Jo sudah berangkat kerja.


"Tante," sapa Lila merasa gak enak.


"Eh, udah bangun, Lila? Sarapan dulu sana, tante masak nasi goreng, tapi udah dingin. Apa mau ganti menu? Biar tante masakin?"


"Gak usah, tante. Resiko aku yang bangunnya siang," canda Lila. Padahal hatinya tuh segan gak karuan, baru hari pertama menumpang, eh, malah kesiangan. Kalau itu di rumah, habislah dia diceramahi 2x24 jam sama mamanya.


"Namanya kamu juga masih kecapekan kan? Gak apa-apa lah, Nana juga kalau gak kerja ya lebih parah bangunnya. Pernah, dia bangun sampai jam 3 sore. Anak gadis tante itu, Lil. Tau deh, kelakuannya," curhat Bu Mis mengingat perangai anaknya yang jauh berbeda dengan Lila.


"Kamu diajak ke perkumpulan nya Nana nanti, Lil? Kalau capek gak usah dulu lah, nanti kamu sakit lagi. Tubuh kamu kan lemah," Bu Mis memulai percakapan sambil menemani Lila makan sebelum ia berangkat kerja.


"Aku udah nolak, Tante. Tapi Nana maksa, ya udahlah. Katanya di sana banyak cowok ganteng dan kaya, Tante. Kan aku penasaran jadinya," seru Lila ditimpali candaan.


"Halah, ganteng, kaya, tapi gak ada satupun yang dia bawa ke rumah ini," keluh Bu Mis kembali mengingat anak gadisnya.


"Gimana ya, Tante. Bukan salah Nana kok, tapi laki-laki nya aja yang gak sepadan dengan Nana. Suatu saat nanti pasti dia ketemu sama yang sepadan, yakin deh, Tante."


"Sepadan tempramennya kali, ya." Mereka berdua tertawa kecil jikala menceritakan keburukan orang lain.


Hari masih pagi, Tante Misha baru aja pergi ke sekolah karena dia adalah Kepala Sekolah SMA Negeri di kota itu. Tinggal-lah Lila sendiri di rumah yang besarĀ  dengan beberapa pekerja.

__ADS_1


Walau tubuhnya masih lelah dan capek, melihat orang lain mondar-mandir bekerja membuat hatinya risih. Lila pun menyambangi para pekerja itu satu per satu. Mulai dari Bik Nah, yang bertugas sebagai mengurus rumah dan keperluan dapur, hingga Pak Abu yang mengurus taman dan sekitarnya.


Saat itu Bik Nah sedang sibuk membersihkan pakaian kotor, takut mengganggu pekerjaan orangtua itu, Lila akhirnya memilih nimbrung ke taman dan membantu pekerjaan Pak Abu. Lumayan lah, dia mengerti ilmu pertanaman dari mamanya yang hobby dengan dunia flora ini.


"Dah lama kerja di sini, Pak Abu?" tanya Lila pada Pak Abu yang bisa mengerjakan pekerjaan lain karena dibantu Lila yang saat itu mengurus dedaunan liar di sekitar tanaman.


"Dari pertama kali Pak Joni di sini, saya udah kerja di sini, Non."


"Gimana? Baik gak Om Jo, Pak?"


"Baik banget, Non. Gak sombong, paling penting, gak pelit. Hehehe," jawab Pak Abu sekenanya.


Tanpa terasa waktu yang ia habiskan untuk membantu Pak Abu sudah hampir petang. Saat itu, Nana pulang dari pekerjaannya. Diikuti mobil Bu Mis. Lantas ibu dan anak itu menghampiri Lila yang berpeluh dengan keringat.


"Apa-apaan nih?" cerca Nana memelototi Lila dan Pak Abu secara bergantian.


"Ternyata aku lebih lelah kalau berdiam diri, Tante. Udah terlatih bantuin mama sih, makanya aku bantu Pak Abu nanam nanam di sini," jawab Lila dengan polosnya.


"Ih, yaudah, kamu mandi dulu sana. Lihat keringatmu udah kaya kerja keras bagai kuda," canda Bu Mis.


Menuruti permintaan tantenya dan tak menggubris tatapan tajam Nana, Lila langsung masuk ke rumah dan segera menuju kamar mandi. Terlebih, dia sudah janji ke Nana untuk pergi ke perkumpulan diving nya.


Tak butuh waktu lama bersiap, baik Nana maupun Lila sudah berada di mobil dan segera berangkat menuju tempat yang dimaksud Nana. Tak perlu juga makan malam, karena akan ada banyak jamuan di sana.


"Aku gugup, Na. Jarang ketemu banyak orang aku tuh."


"Makanya belajar mumpung di sini."


Memandangi arah jalan yang terasa asing di mata Lila, ditambah skill menyetir Nana yang sesara atlit Formula 1, menambah kegugupannya. Ia saat itu tak tahu sedang berada di mana dan akan dibawa kemana. Tiba-tiba sudah sampai saja mereka ke tempat yang dituju.

__ADS_1


"Turun!" perintah Ratu Nana yang tak bisa dibantah bahkan dengan kata Ah.


Mata Lila seketika takjub saat berdiri di sebuah pondok pinggir laut yang luar biasa penuh lampu-lampu gemerlapan yang elegan. Suara laut yang disapu angin, berhasil menenangkan kegugupannya. Tenang, damai, itulah yang ia rasakan. Aroma angin ini mengingatkan dirinya pada hal-hal yang ia rindukan.


__ADS_2