
Suara gaduh menyadarkan Lila dari pingsannya. Ketika mata terbuka, Lila melihat Nana yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki. Oh, dia orang yang membantu Lila tadi. Yang mobil mewahnya Lila gores dan sedang menunggu pergantian biaya reparasi dari Lila.
Pikiran macam-macamnya lalu menghentakkan tubuhnya dan memaksa untuk bangun. Padahal, kepalanya masih sangat pusing.
"Kamu udah bangun?" sontak laki-laki itu mendekati Lila.
Nana juga ikut di belakangnya. "Lil, masih pusing?"
"Aku mau pulang, Na."
Nana mengiyakan permintaan Lila untuk pulang dari rumah sakit. Tak butuh waktu lama, dan Lila segera pulang. Berpamitan ke laki-laki itu dengan pikiran yang masih mengambang soal ganti rugi mobil yang sudah ia gores.
Selama perjalanan..
"Kok diam aja, Lil? Masih pusing?" tanya Nana tiba-tiba.
"Enggak, motor dimana?"
"Udah dibawa Demian ke bengkel. Gak usah mikirin itu dulu. Istirahat aja kamu," kata Nana menghibur pikiran Lila yang terganggu oleh banyak hal, salah satunya adalah motor. Tapi dia tak tahan untuk mengomeli Lila saat itu.
"Mulai sekarang aku gak mau dengar kamu kelayapan bawa motor ya, Lila. Bukan pelit atau gimana, tapi ya kayak gini kejadiannya kalau kamu bawa motor. Pasti kamu melamun di jalan kan?" tuduh Nana tepat sasaran.
Ya, Lila melamun. Memikirkan Marcel dengan hati yang terhimpit perasaan sesak.
"Kamu boleh jalan-jalan, tapi harus diantar Pak Budi. Jangan kelayapan dan mengemudi sendiri!" imbuh Nana lagi.
Hah... Dan ia hanya bisa menerima omelan itu bahkan hingga ke rumah. Walau Om Jo dan Bu Mis sudah berusaha menghentikan omelan putrinya, tetap saja kata-kata menusuk Nana tetap terurai.
Siang akhirnya berganti malam, dan omelan Nana syukurnya sudah berhenti sejak sejam yang lalu. Kini Lila tak perlu repot-repot mencari penyumbat telinga lagi untuk menghalau kata demi kata yang dilontarkan Nana tanpa lelah sedikitpun.
Beberapa hari kemudian, Lila merasa ada yang tidak beres dengan hatinya. Rasa gelisah terus membayanginya, sebab sudah hampir tiga hari ia tak memberi kabar ke Marcel. Pria itu pasti sudah marah-marah seperti orang gila jika saat ini mereka bertemu. Yah, mau bagaimana lagi, pengurungan yang dilakukan Nana benar-benar belum selesai. Bahkan luka kecelakaan itu sudah mengering, tapi dirinya masih terbelenggu dengan ancaman Nana.
"Kalau kamu pergi dan ugal-ugalan lagi, terpaksa nih, Lil, aku mesti lapor ke tante Jasmin."
Hah, Lila menghela nafas panjang ketika membayangkan reaksi mamanya yang tau dia terluka atau mengendarai motor secara sembrono.
"Lil, ada Demian di bawah!" sahut Bu Mis di depan pintu kamar Lila yang tertutup. Padahal baru saja ia beristirahat dari cengkraman penyihir alias anaknya yang menyuruh Lila untuk memakan apa saja agar luka di kakinya lekas mengering.
__ADS_1
"Demian? Pesulap?" tanya nya kebingungan, lalu ia ingat wajah laki-laki yang ia gores mobilnya. "Oh orang itu!"
Dengan langkah gemuruh ia keluar dan menuruni anak tangga secara terburu-buru.
"Pelan-pelan, kakimu bukannya masih bengkak!" perintah Nana yang duduk menemani laki-laki bernama Demian itu.
"Hai," sapa Demian. Yang lalu dibalas dengan anggukan pelan dan senyum canggung dari Lila.
Lila perlahan duduk di sebelah Nana dan ikut menemani Demian.
"Kok muka kamu pucat? Dia kemari mau balikin motor, baru aja dia ambil dari bengkel," terjang Nana.
"Ini juga hape kamu udah aku ganti," sahut Demian meletakkan sebuah tas berlogo merk ponsel ternama di atas meja ruang tamu.
Baik Nana maupun Lila tertakjub melihatnya.
"Kok kakak yang ganti?"
"Hape kamu kan terlindas ban mobilku, mau gak mau ya harus aku ganti."
"Cuma lecet, gak masalah."
"Terus aku harus ganti berapa? 30 juta, kak?" tanya Lila lagi dengan polos, yang disambut gelak tawa dari Demian dan Nana. "Kok ketawa? Aku serius!"
"Lecet doang gak bakal nguras sebanyak itu, Lil. Lagi pula ada asuransinya. Kok kamu mikirnya begitu. Memang aku kelihatan seperti lintah darat yang mau memeras kamu?"
"Kamu kebanyakan nganggur deh, jadi tolol banget sekarang!" sambung Nana ikutan.
Bukannya bersyukur karena bebas mengganti kerugian mobil Demian, pikirannya lalu terhubung ke Lea yang meminta biaya ganti rugi 30 juta saat ia menggores mobilnya. Tunggu, yang mengusulkan 30 juta bukan Lea, tapi Marcel biadab itu.
"Jadi kalau misalnya yang tergores mobil Porsche, biaya nya bisa sampai 30 juta, Kak?"
"Rata-rata mobil mewah itu ada asuransi nya, Lil. Jadi kalau misal mobil mereka tergores atau kecelakaan, pihak asuransi yang akan membayar. Dan gak ada ya biaya perbaikan tergores sampai segitu mahal. Walau mobil mewah sekalipun."
Dunia Lila seakan runtuh, dirinya sadar sedang dipermainkan oleh Marcel, dan semua diawali dari Lea sialan itu yang pasti bekerjasama dengan Marcel untuk menjebaknya.
"Kamu kenapa sih? Jangan-jangan ini ada hubungannya sama 30 juta yang mau kamu pinjam ke aku untuk beli tas ori waktu itu ya?" desak Nana yang memang tidak bisa dibohongi.
__ADS_1
"Gak ada, kok," jawab Lila terbata-bata.
Tiba-tiba suara ponsel Demian berbunyi. Ia lantas mengangkat panggilan itu di depan Nana dan Lila setelah permisi pada keduanya.
"Apa?"
"Hah? Kalian di klub?"
"Gue di.."
"Yaudah gue meluncur."
Panggilan itu diakhiri tanpa Demian bisa menjelaskan keberadaan dirinya. Lila yang mendengar percakapan itu pun mulai panik. Pikirannya tertuju pada Marcel. Untung saja Demian tidak menjelaskan bahwa ia di rumah Nana.
"Na, gue ke klub dulu ya."
"Orang-orang sinting itu ngajak kumpul?" sinis Nana.
"Teman gue tuh."
"Ya, berarti lo juga orang sinting."
"Makasih pujiannya. Aku pergi dulu ya Lila. Bye."
"Iya kak."
Setelah Demian pergi, Lila kelupaan sesuatu.
"Dih, hp baru." Kata Lila nyengir sendiri sambil mengejek Nana.
"Seneng lo? Lain kali traktirin makan atau apa gitu, udah baik tuh anak mau bagusin motor, beliin hp buat lo."
"Iya, tenang aja ah. Nanti aku hubungin kak Dem. Bagi no nya."
Sudah pasti, Lila harus mengucapkan terima kasih yang lebih pada Demian. Apa yang sudah ia dapatkan bahkan melebihi imajinasinya sendiri mengingat apa yang sudah ia perbuat ke mobilnya. Tapi dengan lapang dadanya pria itu melepaskan masalah ini. Baik banget, Demian.
"Andai saja aku bertemu lebih dulu sama Kak Dem. Pasti gak bakal sesusah ini hidupku," keluh Lila menerawangi ponsel miliknya yang baru saja diberikan Demian.
__ADS_1