Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Dhika Permadi


__ADS_3

Baru masuk ke ruang tamu rumah, Nana dibuat heboh karena sosok yang sangat ia kenal ada di tengah-tengah om dan tantenya yang sedang berbincang.


"Mas dhika..." terjang Nana langsung memeluk kakak laki-laki nya.


Lelaki yang bernama Dhika itu menyambut pelukan itu sembari mengacak-acak rambut adiknya.


"Aku bukan bocah loh!" sungut Nana.


Mata Dhika lalu tertuju ke seorang cantik yang tadi masuk bersama adiknya.


"Oh, ini om, teman aku yang digangguin pria cabul di halte waktu itu. Aku bawa ke sini, tapi dia takut sama polisi katanya." jelas Nana memperkenalkan Sindi dengan menggandeng tangan wanita yang nampak canggung itu.


Om Rudi tertawa renyah saat ada orang dewasa yang masih takut pada polisi. Tak Nana memperkenalkan Sindi ke kakak nya. Mereka berjabat tangan dan berkenalan seperlunya.


Kedatangan dua tamu sekaligus membuat tante Jasmin gak bisa diam aja. Dia langsung menuju dapur dan menyiapkan makan malam dibantu oleh Nana dan putri nya yang masih SMP.


Tampak canggung di ruang tamu sementara matanya terus memperhatikan Dhika, Sindi beranjak menuju dapur dan berniat membantu tante Jasmin. Ternyata semua sudah selesai dikerjakan dan sisanya ia lakukan agar matanya tak terus memandang sosok Dhika. Sosok dewasa, gentle, berpengetahuan luas, dan ganteng. Berbeda dari sosok Nana yang kekanakan.


"Kamu sampai kapan liburan, Dhik?" tanya tante Jasmin di tengah makan malam.


"Minggu depan aku balik tante. Sidang tinggal satu bulan lagi soalnya." jelas Dhika.


"Habis itu rencananya mau apa? Balik ke Kepri?" sambung tante Jasmin lagi.


"Rencana aku mau ikut beasiswa ke Jerman tante. Sayang rasanya kuliahku kalau cuma di S1." tawa Dhika.


Ah, senyumnya manis. Batin Sindi.


"Lah, jauh banget. Mama udah ijinin?"

__ADS_1


"Belum bilang sih tante. Lagian aku masih ngasih tau fokus ke sidang dulu. Habis sidang aku balik dulu ke Tanjung, nanti aku bicarakan pelan-pelan ke mama. Biar gak kepikiran."


Makan malam diiringi oleh perbincangan ringan keluarga. Walau Sindi satu-satunya orang asing, tapi ia tak merasa diintimidasi. Om Rudi yang awalnya ia takuti juga ternyata ramah.


"Om, Sindi ini juga pintar loh, dia itu siswi paling berprestasi se fakultas. Sekarang aja aku mau ikut lomba debat sama dia, berasa aku kaki tangannya." pamer Nana ke om Rudi yang memang sangat menyukai anak-anak pintar dan pekerja keras.


"Oh ya? Hebat banget."


"Sebelumnya dia juga ikut mewakili kampus jadi duta anti narkoba, om." sambung Nana.


"Wah, cocok sekali dong. Berarti om bisa minta bantuan Sindi kapan-kapan kan buat ngasih penyuluhan ke anak-anak muda biar gak salah kaprah."


"Bisa, om." Jawab Sindi. Sedikit ia melirik ke Dhika yang tampak tak tertarik soal pembahasan tentang dirinya.


"Om, seminggu ke depan, boleh kan Sindi nginep di kamar aku. Karena waktu debat tinggal seminggu, aku butuh banyak latihan dan informasi terkait topik. Aku butuh bantuan Sindi, om." pinta Nana dengan wajah memelas.


"Kalau untuk akademik, om gak pernah melarang." Jawab om Rudi ramah pada anak orang, sementara sama anaknya sendiri... "Lila kamu lihat tuh mas Dhika, mbak Nana, pintar dan rajin belajar semua. Kamu jangan main aja dong!" sentak om Rudi pada anaknya yang sedang asyik memainkan tamagochi.


"Jangan banding-bandingin anak!" tepuk tante Jasmin ke lengan om Rudi.


"Aku jadi khawatir kalau nih anak bakal nikah duluan. Dah anak cuma sebiji." keluh om Rudi.


Perselisihan antar orang tua itu malah disambut gelak tawa oleh yang lebih muda.


***


Sudah tiga hari berlalu Sindi ada di rumah om Rudi. Kini ia tak canggung lagi pada orang-orang di keluarga itu.


Pergi ke kampus bareng Nana, diskusi, ke perpustakaan, balik lagi ke rumah om Rudi, kumpul dan berbincang-bincang. Sindi sudah merasa menjadi bagian keluarga mereka.

__ADS_1


Di hari kedua sebelum waktu debat, baik Sindi maupun Nana belajar sangat giat. Dimanapun ada kesempatan, mereka gunakan untuk diskusi dan diskusi.


Sindi sudah duduk di taman belakang rumah ditemani buku-buku tentang politik yang bikin mual perut. Sendirian, karena Nana sedang mencari buku yang dianjurkan kajur pada mereka.


Tes.. Darah menetes melalui hidung Sindi dan mengenai satu lembaran buku yang ia baca. Cepat-cepat ia dongakkan kepalanya berharap darah itu berhenti dan ia tak bisa membuang waktu untuk beristirahat.


Tanpa melakukan apa-apa, Sindi melanjutkan kegiatan bacanya. Ada sosok yang dari jauh memperhatikan kerja kerasnya.


"Nih," celetuk Dhika memberikan secangkir teh jahe pada Sindi. "Belajar keras boleh, tapi jangan sampai cuek sama kesehatan. Bisa-bisa sebelum lomba kamu tumbang duluan."


Terperanjat mendengar suara Dhika, Sindi bangkit dari duduknya dan memperlihatkan wajah bodohnya pada orang yang selalu ia perhatikan beberapa hari ini. Sisa darah mimisan tadi masih terlihat.


"Nih, buat ingus merahmu." lanjut Dhika memberikan tissue menyindir kelakuan Sindi.


Lalu ia pergi nyelonong begitu aja tanpa ingin mengganggu waktu gadis itu belajar. Ia begitu sibuk dan seserius itu pada tanggung jawab nya. Makanya Dhika tak ingin mengajaknya berbincang untuk sementara. Nanti saja, selesai mereka lomba debat itu, baru ia akan mengajak Sindi mengobrol secara leluasa.


Ternyata waktu sidang dipercepat, belum genap satu minggu, Dhika sudah harus kembali ke Semarang. Semua orang tampak kecewa karena masih kangen. Dan Sindi juga tak kalah kecewa karena belum sempat ngobrol apapun ke Dhika. Ia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih untuk teh jahe kemarin.


"Terima kasih untuk jahe kemarin, mas. Ini." seru Sindi memberikan sebuah tas plastik ke Dhika yang siap berangkat ke stasiun.


"Wah, apa ini?" tanya Dhika dengan wajah datarnya.


"Ini ucapan terima kasih ku." Dhika mengambil tas itu dan mengintip sedikit isinya.


"Oke, terima kasih ya. Oh iya, semangat ya lomba nya. Kamu udah berusaha keras jadi hasilnya juga pasti akan memuaskan. Semangat!!" ujar Dhika mengelus kepala Sindi tanpa ia sadari. "Ah," celetuknya lalu menarik tangannya dari kepala Sindi.


Senyum terurai dari bibir indah Sindi. Dhika baru saja membelai kepalanya dan mengucapkan semangat. Tentu, ia pasti harus semangat karena hari lomba semakin dekat.


Ditambah, Nana berjanji akan mengajak Sindi bertemu seseorang jika mereka selesai ikut lomba ini.

__ADS_1


"Mas Dhika?" terka gadis itu sendirian.


__ADS_2