
Pagi ini terasa beda. Jika biasanya Lila akan menyuapi makanan Marcel dan menunggunya hingga selesai, kali ini Lila melengos pergi dan membiarkan Marcel makan sendiri. Mungkin Lila sudah sadar, yang sakit bukan tangan, tapi kepala Marcel.
Ceklek. Pintu kamar rawat Marcel terbuka. Marcel menoleh antusias dan tersenyum bahagia membayangkan Lila lah yang sedang membuka pintu. Namun senyum itu menjadi canggung ketika om Rudi yang nongol dari balik pintu.
"Loh, sendirian nak Marcel? Mana Kalila?" tanya om Rudi celingak celinguk mencari anaknya sembari menaruh bekal baju untuk Lila.
"Lagi keluar om. Cari sarapan." Jawab Marcel berbohong. Padahal Lila tak mengatakan apapun kemana ia pergi. Dengan wajah yang sembab Lila keluar dari ruangan dan pergi tanpa pamit. Dibilang pulang, masa om Rudi tak tahu anaknya sudah di rumah.
"Duh, padahal udah om bawain sarapan dari mamanya." sesal km Rudi melihat kotak makan yang masih hangat-hangat nya.
Marcel pun jadi tersenyum kaku karena takut takut lihat om Rudi, apalagi kini hanya mereka berdua di dalam ruangan.
Om Rudi duduk di pinggir kasur. "Gimana? Udah baikan?"
"Udah om. Walau masih nyut-nyutan sedikit." Jawab Marcel cepat.
"Hmm." Om Rudi mengangguk. Sedang memikirkan topik apa lagi yang akan dibicarakan.
"Bagaimana si Aldo om?" Marcel yang akhirnya basa basi menanyakan Aldo agar ada bahan bicara.
"Masih ditahan anak buah om. Sedang menunggu proses. Sebaiknya jangan sebut nama Aldo di depan Kalila, ya. Nampaknya aja dia tegar di luar. Tapi dalamnya kan..." jelas om Rudi mengingat sifat Lila yang trauma-an kalau soal Aldo.
"Iya, om." Jawab Marcel lalu ia menunduk dalam.
"Nak Marcel." panggil om Rudi memecah keheningan di antara keduanya saat tak ada lagi yang bisa mereka katakan.
"Iya, om." mata nanar Marcel menatap gugup ke arah om Rudi yang seperti nya punya segudang wejangan untuknya.
"Sebagai ayah, om sadar yang om lakukan tak maksimal untuk Kalila. Kekurangan nya, kelemahannya, semua karena om yang tak selalu memberikan waktu untuk perhatian padanya." tutur om Rudi menerawang ke arah jendela. Menatap biru nya langit Tanjungpinang pagi itu.
__ADS_1
Sementara Marcel masih menatap wajah tua om Rudi yang penuh penyesalan. Sesuai dengan apa yang sedang ia katakan.
"Akhirnya untuk menebus kesalahan om padanya, om janji tidak akan menentang apapun yang ia suka. Om akan menuruti semua permintaan nya termasuk urusan pasangan hidup." Om Rudi mengambil nafas sejenak.
"Om bukan orang bodoh yang tidak tahu asal usul dan perangai Aldo. Tapi karena sudah terlanjur berjanji pada diri sendiri, om tak bisa melakukan apapun. Karena om lihat Kalila sangat bahagia bersama anak itu. Om sama sekali gak tau apa yang sudah dilakukan Aldo ke Lila, om gak tau."
"Om menyadari ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka karena Lila selalu mengkonsumsi obat penenang. Di beberapa bagian tubuhnya juga lebam lebam. Tapi om gak bisa bertanya ketika ia sudah berkata baik-baik saja lewat senyum bodoh nya." tawa om Rudi memantikkan rokoknya lalu menyesap pelan.
"Om pakai cara lain untuk membuat Lila sadar bahwa orang yang bersamanya bukan orang baik. Dan bahagianya kami ketika Lila memutuskan untuk melepas si biadab itu walau hatinya penuh luka."
"Asal kamu tahu aja, dia ke sini tuh untuk menenangkan diri. Eh malah ketemu kamu." seloroh om Rudi.
Yah, sedikit banyaknya, Marcel sudah pernah mendengar kisah Lila ini dari om Jo. Bagaimana Lila ingin mengakhiri hidupnya demi seorang Aldo.
"Maafkan saya, om." isak Marcel menunduk dalam di depan om Rudi.
Marcel menurut. Ia menatap lagi ke om Rudi yang masih ingin mengeluarkan isi hati nya yang sedang menjerit sebagai orang tua.
"Om dan tante sudah dengar bahwa kamu dan Kalila ada hubungan. Dan sama seperti dulu, om tidak akan menentang apapun pilihan Lila. Tapi om melakukan penyelidikan soal kamu."
Deg. Jantung Marcel berdegub. Jika om Rudi menyelidiki nya, berarti masa lalunya juga pasti diketahui om Rudi. Malu rasanya Marcel di depan om Rudi.
"Kamu gak usah malu." celetuk om Rudi yang tahu arti muka Marcel. "Semua orang punya kisah sendiri. Begitu juga Lila, kamu, om, papamu. Kita semua punya masa lalu yang bisa kita jadikan pengalaman hidup. Bedanya, hanya cara kita menyikapi itu dan menjadi dewasa sesudahnya."
"Om juga sudah mendengar soal status pernikahan mu." Om Rudi menghela nafas. Bingung mau melanjutkan pembicaraan ini atau tidak. "Om tidak memaksa Kalila untuk pergi atau tetap tinggal denganmu. Karena semua keputusan ada padamu, nak. Lila hanya mengikuti keputusan final darimu. Dan sebagai orang tua, om hanya akan bertindak sebagai orang tua."
Om Rudi mematikan rokoknya ke asbak yang ada di nakas sebelah Marcel. Menepuk pundak Marcel dan menatap tajam ke arahnya.
"Om percaya, apapun keputusan mu, adalah yang terbaik. Karena kamu yang lebih paham dengan dirimu. Bukan orang lain. Jadi, gunakan nurani kamu nak Marcel. Jangan gunakan nurani mereka yang mementingkan norma dan nilai. Semua itu dari kamu. Dan untuk kamu. Paham?"
__ADS_1
Om Rudi menjelaskan panjang lebar maksud nya ke Marcel. Berharap yang terbaik untuk Marcel. Segala keputusan yang Marcel buat, berhubungan dengan Kalila di sana.
"Iya, om." Jawab Marcel dengan suara parau. Sedari tadi ia diam dan mencerna kata-kata om Rudi. Mengena di hatinya kah? Maka jawabannya mengena. Hanya saja tidak tahu keputusan apa yang akan dibuat oleh Marcel. Dulu pak Marlon juga memberikan pilihan yang sama, tapi Marcel memilih dengan isi kepalanya untuk menjauhi Kalila. Biarkan lah. Biarkan Marcel menentukan yang terbaik untuk dirinya.
***
Sementara itu di taman rumah sakit yang memang sengaja dibuat untuk membuat pasien tampak lebih nyaman dengan penghijauan, Lila duduk termenung si sama sembari melihat beberapa pasien yang berjalan di sana bersama anggota keluarga mereka. Ia tersenyum pula melihat senyuman pasien yang tampak bahagia.
"Orang sehat memiliki banyak permintaan yang aneh-aneh padahal hanya diberi satu. Tapi orang sakit , hanya akan memilih satu permintaan walau diberi banyak. Kesehatan. Dan kesehatan itu dimulai dari hati dan pikiran yang tidak tertekan. Jadi katakan, ada masalah apa?" celetuk pak Marlon tiba-tiba membuyarkan lamunan Lila yang menikmati pemandangan pasien-pasien tadi.
Lila menoleh ke arah pak Marlon, ternyata ada tante Henny juga di sebelahnya.
"Om! Mama!" sapa Lila antusias.
"Kamu kok di sini sayang? Gak di dalam?" tanya tante Henny ikut duduk di sebelah Lila.
"Habis cari sarapan tante. Kak Marcel mungkin sudah selesai bebersih." Jawab Lila lirih. Ia tak bisa menutupi raut wajahnya yang ada masalah dengan batin.
"Jadi, kenapa? Apa yang terjadi?" pak Marlon ikut-ikutan menelisik Lila.
"Gak apa-apa om, mama. Lila cuma suntuk." senyum Lila menyamarkam kesedihan di wajahnya.
Namanya orang tua, pengalaman hidup nya lebih banyak kan. Hati mereka peka melihat perubahan pada anak atau seseorang yang dekat dengan mereka.
"Pasti terjadi sesuatu dengan nya dan Marcel," ucap tante Henny dalam hati mencoba berkomunikasi dengan pak Marlon.
"Ayo kita ke dalam." ajak pak Marlon setelah mendapat isyarat dari istrinya.
Tante Henny lalu menggandeng tangan Lila dan berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Pikirnya, nanti ia bisa menanyakan ke Marcel. Anaknya itu pasti akan menceritakan apapun padanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
__ADS_1