
Terbaring selama dua hari di rumah sakit, akhirnya angin kelegaan berhembus ke seluruh keluarga Marcel begitu mendengar kabar ia telah siuman. Pak Marlon yang baru saja pulang dari kantor segera beranjak menuju rumah sakit tanpa memikirkan rasa lelah dan kurang tidur yang ia hadapi.
Selama dua hari juga ia mencari tahu keberadaan Sindi dan Dhika di Jerman untuk menarik paksa menantu dan selingkuhannya lalu menjarah mereka di depan umum.
"Nak, kamu sudah sadar?" terjang pak Marlon memeluk tubuh Marcel yang masih terbaring lemas.
Marcel diam. Tatapan nya kosong. Iba dengan kondisi snag putra yang seperti itu, pak Marlon menanyakan kepada dokter yang merawatnya.
"Saat ini ia sedang shock berat, karena telah kehilangan sesuatu yang berharga untuk dirinya. Sebagai orang terdekat dan keluarga, saya mohon untuk terus memperhatikannya agar trauma yang ia alami tidak sampai ke tahap yang lebih serius."
Pak Marlon berjalan lunglai dari ruang dokter menuju kamar rawat Marcel. Ia tersenyum haru melihat Marcel mau makan beberapa suap dari tangan mama nya.
"Ma, pa." panggil Marcel bersuara lirih.
"Ya, nak?" sahut pak Marlon antusias. Ia memegang tangan Marcel dan duduk di sebelah putranya.
"Aku mohon, lupakan apa yang sudah Sindi lakukan pada keluarga kita dan jangan memiliki dendam pada dirinya. Aku yakin, dia akan kembali padaku karena dia tau, aku sangat mencintai dia." tutur Marcel dengan tatapan kosongnya menatap lurus ke depan.
Hati pak Marlon dan tante Henny meringis. Bahkan di saat seperti ini, Marcel masih mengharapkan kembalinya Sindi.
Kalau saja Marcel tak terbaring di rumah sakit, pak Marlon sendiri yang akan menjajaki negara Jerman untuk mencari keberadaan Sindi dan memberi perhitungan pada mereka yang menghina keluarganya. Tapi ini... Anaknya malah mengharapkan kembalinya perempuan laknat itu.
"Nak, jangan pikirkan hal yang macam-macam. Istirahat lah agar kamu pulih." nasihat pak Marlon mengelus pundak Marcel sembari menatap istrinya. Kedua orang tua itu saling berkomunikasi melalui mata mereka.
__ADS_1
Sejak saat itu, tak ada yang berani tertawa keras di rumah. Bukan tak berani sih, tapi memang rasa ingin tertawa musnah berkat penghinaan yang diberikan Sindi. Kabar ini sudah menjalar ke seluruh kota. Tak sedikit juga yang mencibir Marcel dan keluarga Marlon yang patut disalahkan.
Marcel yang belum bisa melakukan apapun, hanya menerima cibiran itu dengan telinga yang lebar dan hati yang gusar.
"Sebarkan rumor, bahwa aku menyelingkuhi istriku, hingga dia pergi dan tak tahan bersamaku!" perintahnya pada pak Sueb, asisten pak Marlon saat semua orang sedang bersantai di ruang keluarga.
Pak Marlon yang mendengar perintah itu pun dibuat ikut campur untuk menentang keputusan putranya.
"Kamu sudah gila Marcel? Rumor itu hanya akan mencoreng nama baikmu." sentak pak Marlon.
"Tidak apa-apa, pa. Dengan begini, Sindi bisa kembali pulang tanpa harus memikirkan gosip yang akan menimpa dirinya."
Astaga.. Teriak pak Marlon dalam hati. Ingin sekali ia memukul kepala Marcel agar anak itu sadar. Untungnya tante Henny menghentikan niatnya.
"Terserah kamu saja. Papa tidak akan mengurus masalah rumah tangga mu. Tapi dengar Marcel, jika perempuan itu datang kemari dan menginjakkan kaki di rumah ini, papa bersumpah akan mengusirnya jauh dari hadapan keluarga kita." suara pak Marlon menggelegar akibat menahan emosi.
***
Beberapa bulan sudah terlewati. Marcel masih tetap ogah-ogahan menjalani hidup. Sesekali ia menjerit heboh karena memikirkan Sindi yang tak kunjung pulang ke rumah.
Keluarga pun menyadari, diam nya Marcel di rumah, gak membuat kondisi anak itu membaik. Justru tertekan, mengingat kamar yang selalu ia gunakan masih terdapat barang-barang dan kenangan bersama Sindi.
Hari itu Dem datang. Biasa ia juga rutin melihat sahabatnya di rumah pak Marlon. Ia juga iba melihat Marcel semakin kurus dan tak memiliki tujuan hidup. Akhirnya ia membujuk Marcel untuk gabung ke komunitas diving yang baru saja ia masukin. Sekiranya agar ia tak terus memikirkan Sindi dan bertemu dengan orang-orang baru. Di sanalah Marcel berkenalan dengan Fandi yang ternyata teman SD nya, Aji, dan Carlos.
__ADS_1
Pak Marlon juga sedikit tenang karena putranya sudah mulai memiliki keinginan hidup terlepas dari Sindi.
"Pa." panggil Marcel menyambangi ruang kerja pak Marlon di rumah nya.
"Ya nak?" sahut pak Marlon kembali.
"Pa, boleh gak kalau aku melanjutkan studi ke Amerika?" tanya Marcel.
Secerca harapan tergambar di wajah pak Marlon. Yang ia pikirkan saat itu bahwa Marcel telah move on dan memikirkan bisnis keluarga mereka yang terbengkalai beberapa bulan.
"Kamu serius nak?" pak Marlon memastikan. Dan Marcel mengangguk.
"Iya, pa. Mungkin jika aku juga punya kualifikasi yang sama dengan laki-laki itu, Sindi bisa melihat ku dan kembali padaku." tutur Marcel.
Senyum tadi sirna diterpa angin malam dari sudut jendela. Pak Marlon kini dipuncaki emosi karena harus mendengar nama yang tak seharusnya disebutkan lagi di rumah ini.
"Marcel, hentikan!!!" sentak pak Marlon.
"Aku sudah menyiapkan berkas dan akan berangkat seminggu lagi." Jawab cepat Marcel yang seolah sudah meramal reaksi sang papa.
Yah, dengan berunding panjang bersama istri, pak Marlon membiarkan Marcel pergi ke Amerika. Sembari berharap ia serius belajar dan melupakan Sindi dan menjadi orang hebat tak terkalahkan ketika kembali lagi.
Tapi, setahun sudah Marcel di negara liberal yang terkenal bebas, kehidupannya menjadi tak berarah. Alkohol, sex bebas, dan sejenisnya menjadi teman seperjuangannya di negeri orang. Tak bisa membiarkan anaknya diliputi kehidupan yang begitu liar, pak Marlon mengutus putri tertuanya Hesty untuk belajar juga ke Amerika sekaligus mengawasi Marcel.
__ADS_1
Untungnya berkat pengawasan Hesty, Marcel jadi sedikit serius dan menyelesaikan studi nya selama dua setengah tahun. Dan kembali untuk menjalani bisnis hotel M2M yang diwariskan padanya.
Tak pelak, kehidupannya di Tanjungpinang pun menjadi terkontaminasi dari apa yang sudah ia dapatkan di negara liberal. Alkohol dan sex bebas menjadi teman hidupnya selama beberapa tahun belakangan sebelum ia bertemu dengan Kalila.