
Akhirnya Lila memutuskan dalam hati mengikuti mereka. Oke, awalnya sukses. Ia menemukan pintu. Cuma, kok suasananya aneh. Gak ada aura mall nya sama sekali. Sepi, dan terkesan private.
"Widih, ini hotelnya," gumamnya pelan saat menyadari tempatnya berada. Anehnya, suasananya kok sepi banget. Bukannya pintu masuk hotel akan ketemu lobby? Ramai dong pastinya di sana. Sementara muda mudi yang tadi ia ikuti, berjalan pelan. Berciuman mesra di lorong koridor yang tidak ada orang.
Tunggu, punggung laki-laki nya terlihat familiar. Terasa seperti punggung laki-laki yang ia sebut bidadara di bandara beberapa waktu lalu. "Bidadara?" Ucapnya penasaran pada si pemilik punggung itu. Lila mencoba menggerakkan tubuhnya mengikuti bagian depan laki-laki itu untuk memastikan identitasnya. Agar bayangan yang aneh-aneh tidak lagi muncul dan dirinya juga tidak berspekulasi berlebihan. Walau ia yakin seratus, ah tidak seribu persen, punggung itu milik bidadara yang berhati lembut dan gentle yang ia temui di bandara. "Lihat sini please, bidadara. Kamu siapa?" pintanya dalam hati seraya memohon sendu jika yang ia yakini bukan orang yang dihadapannya sekarang.
Namun bukan pikirannya lagi yang liar, tapi kedua muda mudi itu yang semakin liar. Mereka berciuman secara intim. Tak lama tangan laki-laki itu yang tadinya di tengkuk sang perempuan, menjalar menjajali tubuh dan sampai ke area bokong. Lalu ia meremasnya. Menarik rok yang hanya berukuran sekepalan tangan dari bagian intim perempuan itu. Yah, mesti Lila akui, perempuan itu memiliki paha yang jenjang dan mulus. Makanya tangan laki-laki itu sudah mendarat ke bagian depan dan di organ intim perempuan. Ditambah ciuman tadi yang semakin memanas dan terjadi pergulatan lidah di sana.
"Anjrit. Mereka mau nge-****?" tanpa sadar Lila mengeluarkan suara yang pastinya kedengaran untuk ukuran koridor sepi yang tak berpenghuni. Sontak muda mudi tadi menghentikan kegiatan sakral mereka dan menoleh ke asal suara.
Tidak ada tempat untuk sembunyi, bahkan seinchi tembok pun tak bersahabat untuk melindungi tubuhnya dari sorotan mata yang juga familiar dirasakan Lila menusuk seluruh aliran darahnya.
Marcel akhirnya mengenali sosok perempuan yang mengganggu waktu senang-senangnya. Iya, iya, Marcel. Laki-laki yang tadi dilihat Lila sedang berkecamuk dengan gelora nafsu itu Marcel.
Lantas Marcel meninggalkan perempuan yang tadi ia pegang dengan leluasa hanya untuk mendekati Lila yang tampak kebingungan karena perbuatannya. Lila dikagetkan dengan sapaan menggoda yang dilontarkan Marcel padanya. "Hei cantik, kemari untuk mencariku? Atau ingin bergabung denganku?" Terlihat senyum aneh keluar dari sudut bibirnya.
"Enggak, aku gak bermaksud mengikuti kalian. Aku cuma mau ke mall nya. Mengikuti orang untuk masuk dan sampailah di sini," sangkal Lila.
__ADS_1
Marcel kembali tersenyum aneh, yang tidak dapat dimengerti oleh Lila arti senyuman itu. "Jika kamu ingin ke bagian mall, bukan di sini jalan masuknya. Kamu bisa naik satu lantai dengan lift, lalu kamu akan ketemu dengan lantai dasar mall. Kalau masih bingung, apa perlu aku temani, Lila?" tanya Marcel kembali menggoda.
Lila tak menyadari namanya disebut oleh bibir Marcel yang merah dan tampak tebal bagian bawah itu. Dirinya hanya fokus kepada jalur keluar yang akan membebaskannya dari situasi canggung ini. Bahkan setelah ia mengetahui kemana ia hendak pergi, Lila langsung nyelonong kabur, hingga ia lupa untuk mengucapkan terima kasih. Jangankan berterima kasih, melihat wajah yang ada di depannya pun enggan, karena dirinya yang saat itu sudah diliputi rasa takut.
"Perempuan yang gak tau terima kasih," gumam Marcel sambil tersenyum kecil. Tak lupa Marcel merogoh saku celananya, mencari ponsel dan segera menghubungi seseorang.
"Lea, ke parkiran sekarang! Lila di sana!" kata Marcel setelah Lea menjawab telepon tersebut.
Lupa dengan tujuan awal kedatangannya ke mall ini, Lila buru-buru keluar dan menyambangi parkiran lagi. Menuju ke arah motornya dan bersiap hendak pergi walau tangan dan tubuhnya dipenuhi dengan getaran hebat. Sialnya, dia lupa plat nomor dan merek sepeda motor yang tadi ia tunggangin. Yang dia lihat di kuncinya hanya simbol salah satu merek motor Jepang Hando. Ya kali, Hando banyak model dan merek lainnya. Mau sampai kapan ia terjebak di parkiran.
Mondar mandir gak jelas dirinya memperhatikan setiap motor yang berlambang Hando. Ah, akhirnya dia menemukan satu petunjuk, merah dan hitam. Sepeda motor itu berwarna merah dan hitam. "Goblok, kan ada STNK nya!" sahutnya lagi memaki diri sendiri.
Setelah ingat bahwa ia juga membawa STNK sepeda motor itu, Lila jadi sedikit merasa tenang, perlahan ia mencari motor dengan nomor plat yang tertera.
"Ketemu!" ungkapnya begitu bahagia. Walau sebenarnya waktu yang ia butuhkan untuk menemukan motor itu sudah menghabiskan 20 menit lebih. Tapi tidak masalah, yang penting, segera keluar dari tempat ini dan jangan kembali.
Mesin motor dihidupkan. Karena gugup, Lila meraih pegangan gas nya dan secara tidak sengaja menerjang ke arah mobil mewah yang entah sejak kapan terparkir di depan motornya. Gak logis ya? Tapi ini beneran. Parkiran itu memang sepi dan dihinggapi beberapa mobil dan beberapa sepeda motor juga. Yah, namanya Lila tersesat ke lantai yang salah, ia pun memarkir di tempat yang salah pula.
__ADS_1
"Kriiieeet..." terdengar suara decitan antara gagang rem sepeda motor dan body sebelah kiri mobil Porsche yang gak sopan itu. Mendengar keributan yang berasal dari mobilnya, pemiliknya turun.
"Kok sial banget aku," gumam Lila pelan setelah sesosok perempuan yang pernah ia lihat entah dimana adalah si empunya mobil.
"Arrrggghh.. Mobil gue!!!" teriaknya heboh. "Anj*** lu, mobil gue lu apain tergores panjang gini?" Perempuan itu masih berjingkatan kesal karena mengetahui mobilnya memiliki tato bergaris panjang putih segar yang kira-kira 40 cm saja lah.
"Maaf, aku gak tau mobil kamu parkir di depan. Aku juga sedang kacau. Gak bisa ngontrol gas nya," jelas Lila yang dipenuhi kekhawatiran. Pasti mahal kalau mau ganti rugi, pikirnya.
"Lu tau gak berapa biaya ganti ruginya? Gini kalau gue bawa pulang juga pasti dicaci bokap gue, tolol!!" perempuan itu menangis sejadi-jadinya.
"Maaf, Kak. Aku juga takut."
"Ke kantor polisi aja, lu jelasin di kantor polisi aja sana," jejal perempuan itu tak mau menerima maaf nya Lila.
"Jangan, Kak. Ku mohon jangan!"
"Terus gimana? Lu mau ganti rugi?" tantang perempuan itu membuat Lila tak berdaya. Tubuhnya runtuh, kakinya melemas. Tak sadar dengan yang ia perbuat, dan tak tau apa yang akan ia lakukan. Menangis pun percuma, marah juga gak ada gunanya. Yang salah tetap salah. Masalahnya, Lila tak tahu bagaimana solusi dari masalah ini.
__ADS_1