
Marcel mencari Lila kemanapun dengan mobilnya. Sesekali ia menelepon Fandi yang juga membantu dengan mengerahkan anak buah papanya. Ditambah orang suruhan pak Burhan alias papa Dem yang juga membantunya.
Hampir satu jam sudah mereka mencari Lila. Tak tahu kemana perginya. Karena Lila memang tidak pernah nongkrong dimanapun selain hotel Marcel, cafe, dan bar Dem, itupun sesekali.
"Gimana?" tanya Nana menghubungi Marcel.
"Belum ada kabar. Gue masih di jalan XX. Dia pernah ke sana, gue cek dulu." tutup Marcel.
Om Jo dan bu Mis yang ketakutan tak dibiarkan mencari di jalanan. Mereka menunggu di rumah sembari membantu para ART yang kesulitan karena terseret masalah ini.
Tiba-tiba seluruh rumah dikejutkan dengan suara deru mobil yang gak santai. Suara pintu mobil ditutup sekencang-kencangnya. Gedebak gedebuk, langkah kaki beberapa orang memasuki rumah om Jo.
"Mas!!!! Mana Kalila-ku????" teriak tante Jasmin yang sangat menyayangi putri semata wayangnya.
"Jasmin, kenapa kamu di sini?" tanya om Jo kaget melihat adik nya sudah menginjakkan kaki ke kediamannya.
"Mana bisa aku tenang selama anakku belum ditemukan." tangis tante Jasmin.
"Mana Rudy?" tanya om Jo lagi.
"Sedang mengunjungi Kapolda Kepri. Meminta bantuan mereka sekaligus menghentikan pergerakan media." Jawab tante Jasmin sesegukan.
"Tante, minum dulu." ujar Nana memberikan segelas air. "Kita tunggu di sini. Marcel juga sudah mencarinya."
***
Pesta perayaan sudah berlangsung selama beberapa jam dan akan berakhir sesuai kesepakatan sebentar lagi. Tapi, sejak pesta dimulai, batang hidung Aldo menghilang.
"Aldo dimana?" tanya pacarnya pada sekretaris Aldo.
"Sebentar bu, pak Aldo sedang berbincang dengan pemilik hotel." Jawab sekretaris itu sudah pasti berbohong.
Untungnya Sherly, pacarnya Aldo gak ambil pusing untuk repot mencarinya. Ia percaya jika Aldo bertemu dengan pemilik hotel. Sebab Marcel juga tidak muncul sejak Aldo menghilang dari pesta.
__ADS_1
Cih. Menjual nama Marcel. Padahal Marcel juga sedang kalang kabut mencari Lila kemana-mana.
***
Di sebuah kamar hotel yang tak tahu di mana itu, mata Lila yang tertutup baru saja dibuka oleh seorang lelaki bertubuh besar yang tadi ia jumpai di rumah om Jo. Pria yang sudah menculiknya dan membawanya seperti seekor anjing.
Lila memandangi langit-langit hotel yang lumayan megah. Tak kalah dari M2M milik Marcel.
Btw, tangannya tak terikat, tapi nyalinya menciut untuk memberontak karena orang yang sedang mengawasinya berasa dewa poseidon. Kejam dan besar. Takut.
Suara langkah kaki beberapa orang terdengar dari luar kamar tempat Lila disekap.
"Mana dia?" tanya seorang pria di luar yang membuat Lila gemetaran tak karuan. Ya, dia tanda suara siapa itu. Itu Aldo. Suara orang yang sudah ia dengar kurang lebih 5 tahun.
Ceklek. Dan pintu terbuka. Mata Lila menatap waspada kedatangan Aldo di kamarnya.
"Halo, sayang!" sapa Aldo menjijikan. Ia mengisyaratkan pada pria poseidon tadi untuk meninggalkan mereka berdua di kamar.
Pria itu menurut. Aldo lalu mengunci pintu dan memandang Lila penuh nafsu.
"Mau ku?" Aldo pura-pura berpikir sejenak. "Banyak." tawanya girang.
Aldo melangkah mendekati Lila yang tersudut jongkok di pojokan kamar. "Salah satu mauku, puas bermain denganmu sebelum aku menikah. Lagi pula sejak kita pacaran, belum pernah aku menyentuh mu. Mungkin, sekarang saatnya." seringai nya berdiri di depan Lila.
Aldo berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan Lila yang sedang gemetar ketakutan di lantai.
"Lila sayang, kamu semakin cantik. Membuatku menyesal berpisah darimu!" Aldo mencium paksa bibir Lila. Tak terima diperlakukan seperti itu, Lila menggigit keras bibir Aldo hingga ia melepas ciuman itu.
Aldo melotot tajam. Ia tersinggung karena Lila menolak dirinya yang sudah di ambang batas nafsunya. "Plak. Plak." Dua tamparan dilayangkan ke pipi Lila. "Berani sekali kamu menggigit ku! Dasar murahan!!" Lanjut Aldo menampari Lila hingga dia tak berdaya.
"Berpura-pura polos padahal kamu juga sudah tidur dengan Marcel! Wanita murahan!!!" jambak Aldo kasar, membuat rambut indah Lila berantakan dan rontok.
"Pacaran denganku bertahun-tahun tanpa merasakan mu, tapi kamu menjual tubuh mu pada orang asing? Kurang ajar!!" tampar Aldo lagi.
__ADS_1
Lila tak berdaya. Darah segar sudah keluar dari sudut bibirnya. Baru saja tenang dengan kehidupan barunya setelah terbebas dari Aldo, kini ia harus merasakan kembali sikap kasar Aldo yang selalu ditunjukkan saat mereka berpacaran dulu. Ini pula lah alasan keluarga Lila tak menyetujui pernikahan mereka.
"Lila sayang," belai Aldo ke pipi Lila yang sudah lebam. "Aku janji akan bebaskan kamu sebelum aku menikah. Jadi turuti aku, dan jangan melawan lagi. Sakit rasanya hatiku melakukan ini ke kamu. Tapi mau bagaimana lagi jika kamu memaksa." ucap Aldo merapikan rambut Lila yang berantakan.
"Lagian tak akan ada yang menyelamatkan mu. Tak Marcel, tak juga papa sialanmu."
Aldo mengingat sosok om Rudi yang menakutkan. Jabatannya yang berpengaruh juga menjadi alasan perpisahan mereka. Dengan tekad bulat om Rudi mencari keburukan Aldo dan dibongkar di depan putrinya.
Apalagi sekarang, jabatan om Rudi semakin berpengaruh. Bergidik ngerih Aldo memikirkan jika tindakannya diketahui om Rudi.
"Berengsek kamu, Do!" lirih Lila di sisa kekuatannya.
"Iya, aku memang berengsek sayang. Kamu lebih tau itu. Tapi semua itu karena papa mu yang menjijikan itu." bisik Aldo ke telinga Lila sembari menjambak rambut perempuan itu.
"Kamu akan mendapat balasannya." kutuk Lila.
"Hahahaha." Aldo tertawa kencang mendengar doa Lila. Merasa tak akan ada yang menemukannya. Karena pekerjaan sudah ia lakukan serapi mungkin.
"Kita lihat saja nanti ya. Setelah aku puas bermain denganmu."
Aldo cepat membuka tali pinggang celana nya secepat nafas nya yang sudah diburu nafsu. Dengan gegabah pula ia merobek kaus yang Lila kenakan dan membuka paksa celana jeans Lila dengan susah payah.
"Celana berengsek." keluhnya yang masih berusaha membuka pengaman gua kesayangan mister.
Lega Aldo setelah ia berhasil membuka kancing jeans itu dan memeloroti celana Lila. Lila sudah pasrah. Ia tak punya tenaga untuk melawan bahkan bersuara. Matanya saja yang bisa berkata untuk tak ingin diperlakukan hina oleh Aldo.
"Oke, baiklah sayang. Siap-siap ya." kata Aldo meledek Lila yang sudah tak berdaya.
"Gedebak gedebuk." suara berisik terdengar dari luar kamar.
Aldo sempat menghentikan kegiatannya mencumbui Lila saat suara itu semakin mendekat ke arah kamar.
"Hah, siapapun di luar sana, kalau bisa mengalahkan mereka, paling tidak butuh waktu satu jam. Cukup lha buat kita bersenang-senang." seringai Aldo.
__ADS_1
Gubrak.... Pintu kamar ditendang paksa. Aldo kaget. Sekali lagi ia harus menunda kegiatannya. Penasaran siapa yang berani mengganggu keasyikannya, Aldo menoleh ke arah pintu dan melihat sosok Marcel berdiri penuh amarah padanya.
"Pak, pak Marcel?" Aldo tergagap. Kengerihan yang ia rasakan ke om Rudi entah kenapa juga menjalar ke Marcel. Mati aku, benak Aldo melepaskan gencetannya dari Lila.