
Lila sampai di klub malam Tiger. Tempat tersohor sekota Tanjungpinang. Banyak orang penting dan kalangan atas ada di sana untuk bersenang-senang. Bukannya malu, Lila justru puas, karena penampilannya yang berhasil memikat banyak mata bahkan saat ia menuruni taxi. Iyalah, mana ada mata yang menolak sesuatu yang bening, molek, dan sexy. Dengan sengaja, Lila menyibakkan rambutnya ke depan hingga mengekspos bagian punggung yang ia banggakan. Semakin membuat mata pemangsa kelaparan.
"Minnie!!!" panggil Lila saat ia lihat Minnie, Tania, dan lainnya juga memiliki konsep yang sama. Paling tidak, gak akan dibilang norak atau salah kostum.
"Aku fikir artis mana yang manggil Minnie, ternyata Lila. Cantik banget beb!" puji Tania yang takjub melihat Lila berubah jadi putri.
"Beda banget sama Nana ya beb. Astaga..." canda Minnie.
Mereka lalu mengobrol. Dan menggibah.
"Eh, tau gak, aku tadi ketemu siapa waktu mau ke toilet?" Joyi membuka bahan gibahan.
"Siapa?" serempak semua menanyakan.
"Carlos."
Lalu semua sibuk mencari keberadaan pria yang mereka tahu sohib kental Marcel.
"Ah itu!" tunjuk Tania. Semua menoleh, tak disangka, Carlos juga sedang menyoroti cewek-cewek itu dengan hapenya.
"Wajar sih, ini kan klub nya Dem."
"Dih, lupa."
Siapa lagi Dem itu? Batin Lila. Tak lama datang seorang pria muda yang mendekati Lila.
"Hai, boleh gabung?" tanya pria itu yang membingungkan Lila dkk.
"Jir, Bryan. Anak Pak Soleh, Bupati." Bisik Joyi dari kuping ke kuping.
Pria bernama Bryan itu lalu mendapat tatapan mematikan dari Minnie, Tania, dan Anis yang penduduk setempat dan mengetahui betul sosoknya.
"Boleh, tapi gak bisa lama karena kita lagi nunggu teman yang lain." ucap Minnie dingin.
Lila kebingungan. Mengapa semuanya tampak tak nyaman didatangi pria tampan. Apa memang adat setempat untuk menolak perkenalan dengan cowok di klub malam?
"Aku Bryan, kamu siapa?" tanya Bryan ke Lila to the point. Tak lupa ia menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Lila." sambut Lila menyalami Bryan.
"Kamu bukan orang sini ya?"
"Iya."
"Kelihatan."
Dan mereka melanjutkan obrolan lain. Syukurnya Bryan ini tebal muka dan tetap gencar mengajak ngobrol Lila walau Minnie dan yang lain tampak tak nyaman di dekatnya.
Obrolan yang biasa lama lama menjadi aneh. Bryan mulai menunjukkan gelagatnya. Perlahan ia mendekatkan dirinya ke Lila dan hampir tak ada jarak di antara mereka. Lila sudah mengirim sinyal pertolongan melalui matanya ke Minnie. Dan Minnie sudah berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan Bryan, tapi pria itu tak padam. Ia terkenal di kalangannya, gencar terhadap apapun yang diinginkannya. Termasuk cewek. Inilah yang membuat Minnie tak suka begitu melihat wajahnya di kerumunan mereka.
Tangan Bryan mulai menggeranyangi punggung Lila. Memang dirinya sudah biasa akan sentuhan sejak mengenal Marcel, tapi yang tubuhnya inginkan hanya Marcel, bukan pria lain.
"Lepas dong, kak. Jangan gini." pinta Lila.
"Ayolah, kamu udah berpakaian begini tujuannya untuk menarik perhatian ku kan." Jawab Bryan seraya melontarkan tatapan mengancam ke Minnie untuk tak bertindak macam-macam terhadapnya jika masih ingin aman tinggal di daerah kekuasaan ayahnya.
Makin menjadi, tangannya menyentuh pantat Lila yang tampak menggoda. Membuat Lila risih tak berdaya. Bukannya malu, Bryan malah bertindak menjijikan. Sedihnya tidak ada satu orang pun yang bisa membantunya termasuk Minnie.
"Tolong aku.. Marcel.." mohon Lila dalam hati. Saat inilah ia mengingat Marcel.
Mengangetkan. Kejadian super kilat itu mengagetkan semua orang. Lila yang membuka mata, melihat tubuh Bryan tergetak tak berdaya di lantai.
"Marcel.. Marcel.." semua orang membisikan namanya.
Lalu Lila menoleh. Ia melihat wajah Marcel yang dipenuhi emosi tersorot lampu dansa dan menghilang di kegelapan saat lampunya ke arah lain.
"Woi.. Apa ini Cel?"
"Sorry, gue kira lo Carlos yang lagi gangguin cewek-cewek. Ternyata dia di sana!" ungkap Marcel dengan wajah dingin beralih ke tempat Carlos dan temannya nongkrong.
Bryan masih shock. Tapi karena malu dirinya dibanting bagai cucian, ia langsung pergi dan pulang menangis di balik pangkuan ayahnya.
"Tidak peduli ya, bro?" goda Carlos yang santai menyaksikan setiap kejadian seperti film action.
"Berisik lo, kalau tadi gue terlambat, beneran elo yang gue banting."
__ADS_1
Sementara itu...
"Kamu gak apa-apa kan beb?" tanya Minnie khawatir.
"Iya, shock dikit."
"Dia itu brengsek yang berkuasa beb. Maaf kita diam aja, ajudannya ngancam kita dari kejauhan."
"Iya gak masalah beb. Gak usah lapor ke Nana ya. Nanti jadi kalian yang kena semprot."
Lila menoleh ke segala arah, mencari Marcel yang sekali lagi bertindak sebagai bidadara nya. Tapi tak ia jumpai.
"Triing." Pesan masuk ke hape Lila. Ternyata dari Marcel. Isinya kurang lebih begini. "Keluar sekarang juga kalau gak mau Minnie tau kita ada hubungan. Kalau dalam 30 detik kamu gak keluar, jangan salahkan aku yang akan langsung narik kamu di depan mereka."
Isinya sih sebuah ancaman, tapi entah kenapa Lila tersenyum bahagia membacanya.
"Beb, kayaknya aku pulang duluan ya. Tante aku udah nanyain terus nih."
Selesai berpamitan Lila keluar secepat kilat menuju parkiran dan menghampiri Marcel yang ia lihat dari kejauhan.
Begitu pula Marcel yang sempat terpesona dengan konsep sexy elegan Lila malam ini. Tapi ia tak mengakui kecantikan wanita itu.
"Apa-apaan ini?" tanyanya begitu Lila sampai di depannya. Sambil memutar tubuh Lila dan mengamati baju sexy yang sangat memperlihatkan kulit putih mulus Lila. "Wajar aja si Bryan kalang kabut lihat yang beginian, memang kamu yang menggodanya. Mending gak usah aku tolongin ya." Omel Marcel sambil menepuk nepuk punggung Lila tanda sindiran.
Omelan kali ini terasa seperti pujian di telinga Lila. Secepat omelan Marcel mendayu, secepat itu pula Lila memberikan pelukan padanya. Tak lupa sambil mengucapkan terima kasih. Dan seketika amarah Marcel runtuh dan luluh.
"Udah gak marah sama aku?" tanya Marcel dengan suara lirih.
"Berisik, aku lepas nih ya." Ancam Lila yang sedang mencoba untuk bermain-main dengan Marcel.
"Sial. Rasanya ingin kucabik mata mereka yang melihatmu pake nafsu." Lila melepaskan pelukannya dan memandang wajah Marcel.
"Gak ngaca ya. Siapa yang lihat wanita kayak lihat ayam goreng?"
"Hah...." Marcel hanya bisa menghela nafas. "Btw, Mister bangun nih. Barusan lihat kamu, katanya dia mau kamu."
Kalimat ini benar-benar tak senonoh. Namun seakan sudah terbiasa, Lila tak lagi risih mendengarnya. Tanpa menjawab pun Marcel yakin dengan pede-nya bahwa Lila mau diajak ritual.
__ADS_1
Lalu mereka melaju ke hotel Marcel dan melakukannya di kamar seperti biasa. Menikmati waktu mereka berdua. Melampiaskan hasrat yang sedari tadi tertahan oleh moral.