Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Hutang ke Dem


__ADS_3

Siang ini Lila tak kemana-mana. Tak pula ke hotel Marcel karena pria itu tak menghubunginya karena disibukkan pekerjaan yang menumpuk. Daripada ia sendirian di hotel dan melihat Marcel mondar mandir tak karuan, lebih baik ia di rumah aja. Walau hatinya sedikit gelisah karena merindukan Marcel.


Mau ngajak jalan Nana, wanita itu sedang malas. Tiba-tiba ia teringat perkataan Nana untuk membalas kebaikan Dem tempo hari. Tanpa banyak bacot, Lila mengambil hp nya. Mengirim pesan karena tak baik kalau menelepon sebab sama halnya Marcel, weekend pasti hari tersibuk bagi Dem yang mengelola klub malam dan hotel sekaligus.


"Kak lagi dimana? Ngapain? Ada waktu?" Isi pesan Lila yang ia kirim ke Demian siang itu.


Padahal ia sedang sibuk mengawasi laporan keuangan bisnisnya, tapi jawaban klasik yang ia berikan adalah.. "Lagi nganggur. Kenapa Lil?"


"Bisa ketemu bentar gak siang ini, aku traktir makan deh karena hutangku yang bejibun banget sama kak Dem." Balasan lanjutan Lila.


"Dih, repot. Padahal aku gak minta apa-apa loh."


"Ya tetap aja gak enak. Gimana kak?"


"Oke, kalau begitu ada baiknya aku bangkrutin kamu sekali-sekali. Nanti aku jemput ke rumah ya."


"Iya kak."


Menjelang siang Lila siapan. Berpakaian rapi, imut berbalut blus bunga-bunga dan ditutupi baju kodok rok selutut. Dandanan peach ala ala korea memancarkan kulit sehatnya.


"Manis." sahut Dem begitu masuk ke rumah Nana.


Nana yang menemani Lila menunggu Dem dibuat terkejut karena ulah pria itu.


"Masuk tuh permisi dodol." Cerca Nana.


"Berisik. Gue pinjem dulu ya gadis cantik ini." Kata Dem sopan pada Lila. Ia memperhatikan penampilan Lila yang memang sangat manis.


"Bawa aja. Tapi awas kalau sampe pulangnya lecet. Gue obrak abrik tuh Tiger."

__ADS_1


"Siap, komandan."


Lalu mereka pergi. Dem memperlakukan Lila dengan gentle. Merasa perlakuan Dem yang begitu perhatian menggelitik hatinya untuk membandingkan, andai Marcel yang bersikap demikian.


Dem menggiring Lila secara sopan. Membukakan pintu untuk Lila dan memastikan wanita itu memakai safety belt nya. Sesekali ia mencuri pandangan ke wanita yang membuat hatinya takjub itu.


"Kakak sedekat itu sama Nana kah?" tanya Lila memecah suasana canggung di mobil.


"Ya begitulah, dibilang dekat ya dekat," jawab Dem malas awalnya.


"Loh kenapa?"


"Dia anti banget sama temen-temen ku."


"Oh, kak Marcel dan lainnya?"


"Kamu kenal?" tanya Dem kaget begitu nama Marcel disebut Lila.


"Yah, sayang sekali kita gak kenal di sana. Tapi yah, memang benar. Dia menjauhiku di klub karena Marcel."


"Hm begitu."


Lila berdehem gugup menyebut nama Marcel. Kali ini dia bingung ingin berkata apa lagi karena takut kepo sama urusan orang lain.


"Padahal dulu aku, Marcel, Nana, temen SMA loh. Kita bertiga akrab banget, kemana-mana bareng. Cabut bareng," kenang Dem sambil menerawang masa lalunya. "Tapi semua berubah."


"Ke... Napa kak?" tanya Lila hati-hati.


Karena Lila bertanya pelan, Dem menoleh sejenak. Entah apa yang dipikirkannya saat melihat Lila. Tapi dengan senang hati Dem menjawab.

__ADS_1


"Sebenarnya bukan rahasia lagi sih ini. Kalau kamu orang sini juga pasti tau sejarahnya. Kamu tahu kan Marcel sudah menikah?"


Lila mengangguk pelan, sembari memberi sedikit alasan yang masuk akal agar Dem gak curiga. "Minnie sama Nana pernah bilang."


"Jadi istrinya Marcel itu teman dekat Nana sewaktu kuliah. Tapi karena gosip gosip beredar soal rumah tangga mereka, Nana jadi sentimen sama Marcel."


"Gosip? Gosip apa kak?" tanya Lila yang merasa kehausan informasi tentang Marcel sedikit terpenuhi.


"Yah..." Dem tak langsung menjawab pertanyaan Lila. Dia berpikir sejenak. "Gosip yang juga kamu dengar dari Minnie dkk." Gelak Dem seolah menyembunyikan sesuatu tentang sahabatnya.


"Ah, kak Dem gosipnya setengah setengah," canda Lila menutupi kegugupan dirinya yang terus menanyakan soal Marcel.


Untung Dem juga menyambut candaan itu dengan tawa renyah pula. "Oiya, aku pernah dengar kamu ditolongin Marcel dari si Bryan ya waktu lagi hangout sama Minnie?"


"Ah, iya kak. Bukan ditolongin sih, tapi kak Marcel yang salah mengira orang."


"Apapun itu aku menderita kerugian. Dan hukuman dari big boss." Ucap Dem datar. Habis itu diselingi tawa lain yang keluar darinya. "Dia itu aslinya baik. Bukan soal uang atau materi. Memang baik. Makanya aku masih setia jadi sohibnya. Soal salah orang atau enggak itu memang dia sengaja sih menurutku. Karena kita satu kabupaten gak ada yang suka sama Bryan."


"Nah mulai gosip lagi. Gak mau dengar ah, nanti nanggung." Canda Lila lagi.


"Kamu belum pernah ketemu dia kan? Nanti aku kenalin. Kebetulan bentar lagi dia ulang tahun dan ngerayain. Kamu ikut aku ya, jadi partnerku."


Permintaan Dem mengagetkan Lila. Dia tau minggu depan adalah ulang tahun Marcel, dirayain pula. Tapi Marcel melarangnya untuk datang karena perayaan pesta yang pastinya asing untuk Lila yang polos. Lalu tiba-tiba datang bersama Dem, apa gak bahaya tuh.


Lila menelan ludah secara kasar. Bingung ingin jawab apa. Mau menolak, tapi segan. Tidak menolak, bak masuk ke kandang harimau.


"Gimana Lil?" tanya Dem mendesak.


Wajah ademnya Demian membuat Lila tak kuasa berkata tidak. Alhasil ia mengiyakan ajakan tersebut. Soal Marcel yang sudah dipastikan marah, nanti akan ia pikirkan bagaimana membujuknya.

__ADS_1


Mereka terus melaju ke tempat makan yang terkenal di kota itu. Menikmati hidangan dan berbincang sambil ditemani suara angin laut yang tenang.


__ADS_2