Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Bosan


__ADS_3

Sejak kepulangan Lila dari Batam beberapa hari lalu dan dirinya yang dijemput oleh Dem, membuat hubungan keduanya semakin dekat sebab Dem jadi semakin rajin menyambangi Lila.


Seperti hari ini, Dem berinisiatif mengajak jalan Lila yang masih memasang wajah capek. Apalagi ini adalah malam minggu. Dem mulai melancarkan aksinya untuk pendekatan ke Lila. Tentu saja aksi itu disambut baik oleh Nana dan bu Mis. Om Jo yang taunya Lila bersama Marcel, hanya bisa tertegun diam. Membiarkan keponakannya memilih sendiri jalan hidupnya dengan pantauannya sebagai pengganti orangtua.


"Semangat!!" teriak Nana saat Lila dan Dem meninggalkan teras rumah.


Sudah gila ya dia itu, batin Lila. Hatinya masih mengganjal. Soalnya sudah beberapa hari ini pula Marcel tak ada kabar dan tak kunjung mengabari. Saat Lila datang ke hotel pun, Marcel seolah menghindari dirinya. Tak pernah ada di kamar maupun ruang kerja.


"Kamu baik-baik aja? Kok murung?" tanya Dem memastikan agar Lila merasa nyaman.


Lamunan Lila soal Marcel buyar begitu Dem bersuara. "Oh, baik kok, kak. Cuma lelah nya masih nempel nih." Candanya, tak ingin membuat Dem kecewa karena perlakuannya.


"Jadi? Lanjut atau balik?" sekali lagi Dem memastikan.


"Lanjut dong. Gas!" celetuk Lila berpura-pura antusias. Mengepalkan tangannya pertanda penyemangat.


Mereka lalu melaju ke pelataran gedung bioskop tersohor di kota. Mengajak Lila menonton film yang dikehendaki wanita itu. Lalu makan malam sebentar di cafe pinggir laut tempat ia pernah bertemu Marcel saat sedang kalut-kalutnya tuh pikiran.


Lagi-lagi Marcel. Apapun yang ia jalani kenapa selalu mengingat pria yang meninggalkan nya itu. Ingin kesal tapi rindu. Itulah Lila.


Kriing. Suara hp Dem berbunyi. Sebentar ia meminta ijin ke Lila untuk mengangkatnya.


"Oi bro? Dimana? Pak Burhan ngamuk nih!" seru Fandi dari balik panggilan.


"Ah serius lo? Kenapa beliau ada di sana sih?" keluh Dem yang pusing akan kedatangan papanya yang super galak itu tiba-tiba.


"Mana gue tau. Cepat datang! Lo sih, weekend malah ngeloyor!" panggilan dimatikan begitu aja oleh Fandi.


Tak enak pada Lila padahal ia masih ingin bersama. Dem menjelaskan bahwa pertemuan mereka harus dihentikan dulu karena urusan Pak Burhan lebih penting daripada masa depannya sendiri. Takut jika hal itu membuat Lila tersinggung. Dem yang mengajak, Dem yang menyudahi.

__ADS_1


"Aku boleh ikut, kak?" tanya Lila berbinar.


Bukan tanpa alasan. Pikiran yang dari tadi menjurus ke Marcel, mendadak menemukan jalan keluar mendengar Dem harus kembali ke klub miliknya. Barangkali ada Marcel di sana. Dan Lila bisa menanyakan alasan kepergian Marcel dan sikap diamnya yang mengganjal di hati Lila selama ini.


Tanpa banyak tapi-tapi an, Dem langsung mengajak Lila ke klub nya. Dalam hatinya bersyukur, sebab waktu bersama Lila belum usai begitu saja.


Tak butuh waktu lama Dem mengendarai mobilnya, mereka tau-tau sudah sampai di parkiran klub. Menempati parkiran VVIP, lalu Dem mematikan mesin mobilnya. "Kamu mau di sini aja atau..."


"Ikut aja, kak." serbu Lila yang memang sudah tak sabar untuk bertemu Marcel.


Dem memimpin jalan dan Lila ikut di belakangnya. Tanpa susah payah melewati pintu masuk dan penjagaan sebab ia yang punya tempat itu.


Suasana remang dan lampu kelap kelip mengaburkan pandangan Lila dalam mencari orang. Hingga Dem berteriak, "Oi, Fandi!!!"


Sontak Lila menerawang ke arah Dem memanggil Fandi. Dimana ada Fandi, kemungkinan ada Marcel, pikirnya. Benar saja. Marcel duduk di antara Fandi dan dua orang lainnya.


Dem mengajak Lila mendekati tempat sohibnya berada. Marcel tak menyadari sebab ia memunggungi arah kedatangan Dem dan Lila. Tapi ekspresi syok terlihat dari wajah Fandi, Carlos, dan Aji yang tau persis siapa sosok di belakang Dem.


"Mana Pak Burhan?" tanya Dem menepuk bahu Fandi yang mulutnya masih menganga lebar melihat Lila sembari melirik Marcel yang menatap Lila tak kalah sinisnya.


"Di kantor lo.. Kok... Lo bisa sama.." gagap Fandi yang penasaran akan kedatangan kedua orang itu.


Marcel tak sanggup melihat wajah Lila, ia kembali berbalik ke posisinya semula. Memunggungi Lila.


"Iya tadi gue jalan sama Lila. Karena lo nelpon, gue ajak ke sini sebentar."


Tak ada senyum di wajah Lila, ia pun memandang Marcel dengan sinisnya.


"Gue ketemu pak Burhan dulu!" ijinnya pada teman-temannya. "Aku tinggal bentar ya, kamu di sini aja sama mereka." Ijinnya pula pada Lila.

__ADS_1


Setelah kepergian Dem, Lila tanpa canggung duduk di sebelah kiri Marcel yang memang kosong. Mereka saling menatap sinis. Terutama Lila yang ingin memukul kepala Marcel kalau saja tidak banyak orang di sini.


Suasana panas itu serasa membakar kulit Fandi dkk. Dengan modal peka mode on, mereka tanpa ijin pindah ke meja yang agak jauh dari keduanya.


Satu gelas ditenggak. Dua gelas ditenggak. Begitu seterusnya yang dilakukan Marcel di depan Lila. Tak bersuara. Hanya terdengar suara dentingan kaca antara botol dan gelas.


"Aku menanti penjelasanmu, kak." kata Lila membuka obrolan. Tak tahan dengan kediaman Marcel.


"Apa aku ada salah? Atau aku berbuat salah? Kenapa pergi tanpa bilang ke aku?" sambungnya terus menanyakan hal yang selama ini ia pendam.


"Kamu menghindari aku? Nomor kamu gak aktif. Berkali-kali aku datang ke hotel, kamu gak pernah ada. Salah aku apa?"


Marcel masih diam sembari menuangkan isi botol alkohol di gelasnya dan ditenggak. Lalu ia menuangkan lagi, tapi Lila keburu merebut gelas itu dan meminumnya dengan cara yang sama seperti Marcel. Sekali tenggak. Susah ia menelan rasa pahit yang sudah sampai di mulutnya.


"Kenapa? Kenapa?? Jawab aku kak!!!" kesal Lila sambil menggoyangkan lengan kokoh Marcel.


"Kamu...." Akhirnya Marcel bersuara. Antusias terpancar dari wajah Lila. "Lebih baik pergi dari hidupku. Aku sudah bosan padamu. Soal hutang, lupakan saja. Uang segitu tidak ada apa-apanya untukku."


Jleb. Hati Lila bagai tertusuk duri yang amat sakit. Bagaimana bisa Marcel mengatakan itu padanya. Setelah semua yang sudah mereka lakukan selama ini.


"Maksud kakak apa? Kak!!" panggil Lila lirih. Air matanya berasa ingin tumpah akibat syok hebat.


"Kamu gak paham? Aku bosan padamu. Jangan lagi menemui ku!" kilah Marcel lalu ia pergi dan menghempaskan tangan Lila yang tadi memegangnya. Meninggalkan Lila sendirian dengan tangisannya.


Teman-teman yang memantau dari jauh jadi khawatir pada kedua orang itu. Tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Saat itu Dem datang. Ia kebingungan, Lila sendirian dan menangis.


"Kamu kenapa, Lil?" tanya Dem bingung. Ia mencari keberadaan teman-temannya. Setelah menemukan mereka dari kejauhan, ia menanyakan ada apa melalui isyarat. Yang juga dibalas tak tahu melalui isyarat pula.


"Aku antar kamu pulang ya." sahut Dem.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Dem kelihatan bingung sementara Lila menangis sesegukan di dalam mobilnya. Berasa menelantarkan seorang gadis. Bagaimana ia bisa mengantarkan pulang Lila dalam kondisi yang seperti ini?


__ADS_2