Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Marcel Bertemu Sindi


__ADS_3

Di Singapura.


"Widih, Nana punya temen bening banget cuy. Katanya idola kampus." celetuk Dem saat istirahat mereka dari kegiatan kuliah.


"Belajar lo ******! Jangan cewek aja isi otak lo." cerca Marcel yang awalnya ogah-ogahan kuliah justru kelihatan lebih semangat.


"Halah, monkey. Lihat dulu nih, cuci mata sekalian." tunjuk Dem menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Marcel. "Baru di posting sama Nana. Katanya partner lomba debatnya. Gila ya, cantik, pintar lagi."


Marcel tertegun sebentar melihat cewek yang memang cantiknya luar biasa itu bisa berteman dengan Nana.


"Nah, bengong kan lo!" ledek Dem. "Gue chat Nana ah, mumpung minggu depan kita mulai libur, ke Jakarta yuk, jumpain yang bening ini."


"Hah, harus banget ketemu dia?" ucap Marcel menolak.


Memang awalnya ia menolak. Tapi diam-diam ia melihat sosmed Nana yang memosting foto Sindi. Ia lihat profil dan menjelajahi sosmed gadis cantik itu. "Sindi Sarastika." gumamnya. Nama yang cantik.


Hanya melihat beberapa foto saja Marcel menyimpulkan, gadis itu sangat feminim, anggun, dan cerdas. Membuat jantungnya berdegub sendiri memikirkan sosok gadis itu bila sudah ada di depan mata. Apalagi Dem baru saja mengatakan lusa mereka akan ke Jakarta, liburan sekaligus melihat si cantik.


***


Akhirnya lomba debat telah diselesaikan. Walaupun Nana dan Sindi hanya meraih juara kedua, tapi mereka mendapat penghargaan atas tim favorit. Sudah pasti alasannya karena good looking.


Kampus pun mendedikasikan prestasi mereka ke dalam bentuk beasiswa selama satu tahun penuh, ditambah buku-buku politik yang nyatanya malah bikin mual tak hilang-hilang.


"Walau lomba sudah selesai, jurusan kalian tetap fisipol. Hidup fisipol!! Jadi jangan berhenti belajar ilmu politik!" seru kajur yang bahagianya minta ampun sambil memberikan beberapa buku politik yang sulit ditemukan oleh mahasiswa.


Baik Sindi dan Nana sama-sama bersyukur. Karena kerjasama dan kerja keras mereka, keuntungan berpihak pada mereka.


Uang semester aman, lomba sudah selesai, saatnya mendapat penhiburan yang layak.


"Yuk Sin, kita ketemu seseorang yang penasaran banget sama kamu." ajak Nana yang mondar mandir kebingungan sembari melihat ponselnya.


"Ha? Penasaran sama aku? Ayo." sahut Sindi semangat 45.

__ADS_1


Baru saja mau berangkat keluar dari pintu, Lila kecil memanggil mereka.


"Nana mau kemana?"


Sindi yang sudah biasa mendengar anak kecil itu memanggil nama saja pada Nana kembali dibuat tertawa geli.


"Sopan santun mu, aduh." keluh Nana.


"Mau kemana?" tanya Lila kecil sekali lagi, dengan wajah datar.


"Mau jalan-jalan, kak Lila." Jawab Nana ketus.


"Titip dimsum." Habis mengatakan titipannya, Lila kecil langsung kabur ke kamarnya.


"Terlalu manja gak sih tuh anak?" keluh Nana pada Sindi, di samping ia malu karena keluarga nya semua aneh.


"Namanya juga anak semata wayang. Yaudah nanti beliin." Jawab Sindi sabar.


Dan mereka baru benar-benar bisa pergi. Menggunakan sepeda motor andalan Nana mengelilingi jalanan. Membawa Sindi di boncengan. Walau memakai helm pun, pesona Sindi tak bisa ditutupi. Kemana mereka melaju, pasti ada mata yang memperhatikan.


"Oi, sini!!" panggil Nana setelah ia melihat sosok dua orang yang juga tak kalah mencuri perhatian khususnya kalangan wanita.


Duo Marcel dan Dem memang menarik untuk dilihat, berjalan berdampingan bak Gong Yoo dan Lee Dong Wook dalam drama korea Goblin.


Sindi menoleh sejenak, tak munafik, memang keduanya menarik untuk dipandang. Hingga mereka mendekat dan sudah ada di depan mata pun, masih enak untuk dilihat.


Begitu juga Marcel. Dia yang ogah-ogahan awalnya untuk datang karena gengsi pernah menolak Sindi, kini merasa terpana dengan cantiknya manusia itu. Ah bukan, lebih cantik aslinya dari fotonya.


"Heh." panggil Nana ke Marcel yang tak berhenti menatap Sindi.


Sontak hal ini menjadi bulan-bulanan Nana dan Dem yang memang suka mengusili nya.


"Pantas saja sejenis Sri lo tolak mentah-mentah. Kriteria lo tinggi, bro." ucap Dem menepuk bahu Marcel sembari melihat ke arah Sindi.

__ADS_1


Marcel dan Dem sebenarnya memiliki tipe yang berbeda. Makanya mereka tidak pernah terlibat dalam perebutan satu wanita. Jika menurut Marcel, Sindi cantik dan menarik, menurut Dem tidak. Bagi Dem, gadis seperti Sindi ini hanya bisa diangan, gak bisa digapai. Jadi daripada buang energi mengejarnya, lebih baik cari yang nyata.


"Ehem, ehem," tegur Nana pura-pura batuk. "Gais, ini Sindi, teman gue yang kemarin gue post di efbi. Terus Sin, mereka teman SMA aku, ini Marcel, ini Demian," Nana menunjuk Marcel dan Dem secara bergantian memperkenalkan kepada Sindi yang kebingungan.


Bagaimana tak bingung, beberapa hari ini yang ia harapkan untuk bertemu bukan dua pria ganteng ini, tapi Dhika.


Satu harian mereka main bareng, ke sana ke mari. Nana menunjukkan kepada dua temannya tempat nongkrong di Jakarta yang pernah ia kunjungi. Sindi yang semula badmood pun sekarang tampak nyaman-nyaman saja jalan dengan mereka.


"Di sini gak ada pemandangan laut kah?" celetuk Dem sambil mengemudikan mobil rental-an mereka.


"Dasar lo anak pulau. Jauh-jauh merantau yang dicari laut juga." cerca Nana.


"Ya gimana, dari brojol udah di atas laut."


"Wah, seru ya. Pengen deh bisa lihat laut biru sambil ngusir penat." imbuh Sindi sudah tak ragu masuk ke dalam percakapan.


"Sekali-sekali main ke Kepri, Sin. Tempat kita di kelilingi laut. Kamu gak akan ngerasa penat kalau udah di sana." sambung Marcel yang juga tak ragu.


Dem dan Nana saling pandang ketika ia melihat pertama kalinya Marcel banyak bicara kepada perempuan.


"Oh ya? Boleh deh. Na, ajak aku ya nanti kalau liburan."


"Beres."


"Aku tunggu loh ya." seringai Marcel bahagia.


Selama beberapa hari kedatangan Marcel-Dem ke Jakarta, Sindi jadi semakin dekat dengan tiga sahabat itu. Mereka sampai bertukar nomor ponsel dan efbe. Saling bercerita tentang kegiatan kuliah mereka.


"Btw, sepupu lo yang SD itu mana?" jelajah Dem saat ia baru tiba ke ruang tamu rumah om Rudi.


"Udah SMP kelas 1 dia sekarang, dodol! Lo jangan macam-macam! Gue gak restu kalau lo dekatin dia ya." ancam Nana.


"Iyalah masih bocah. Nanti gue tunggu kalau udah agak besaran." sahut Dem lagi.

__ADS_1


Marcel menjewer telinga Dem sembari berkata, "Dasar pedo..."


Candaan itu disambut tawaan oleh yang lain. Suasana rumah saat itu sedang sunyi, karena om Rudi sekeluarga sedang ke luar kota untuk menghadiri pernikahan kerabat mereka di sana.


__ADS_2