
"Kalau dipikir-pikir, kita gak punya waktu luang ya untuk berbicara." ucap Dhika setelah ia mengunci pintu kamarnya. Masih berdiri sambil memegang gagang pintu.
"Lucu juga, begitu banyak halangan yang buat kita tak bisa berbicara intens sampai saat ini. Jika waktu itu kamu sangat konsentrasi belajar, membuat ku sungkan untuk mengajakmu berbicara. Kini pun sama, aku terlalu sibuk menyiapkan cita-citaku yang sangat aku idamkan persis seperti katamu!" lanjut Dhika pelan-pelan berjalan menyambangi Sindi yang saat itu kebingungan sekaligus takut dengan perubahan sikap Dhika.
"Tau apa kamu soal cita-citaku, ha?" sentak Dhika masih mendekat pelan ke arah Sindi hingga gadis itu ikut mundur selangkah demi selangkah.
"Aku juga sama. Aku juga tak tau apa cita-cita mu dan tak tau apa-apa tentang mu. Tapi sebisa mungkin aku menahan diriku untuk membiarkan mu menggapai cita-cita mu terlebih dahulu karena fokus mu terhadap studi yang amat luar biasa." langkah kakinya terus melangkah membuat Sindi terpojok di tempat tidur Dhika. Seketika Sindi terduduk. Tubuhnya kaku dan gugup. Ia sangat ketakutan, namun sebisa mungkin ia coba cerna kata-kata Dhika.
"Tapi bisa-bisanya kamu kembali ke hadapanku sebagai pacar Marcel?" lirih Dhika. Kakinya terhenti di depan Sindi. Melemas, sampai ia bertekuk di hadapan gadis yang memandang nya takut takut. "Marcel?" Dhika tertawa mengejek. "Aku gak bisa apa-apa lagi jika itu Marcel."
Dhika diam saat Sindi juga diam. Gadis itu tak tahu harus merespon bagaimana. Dirinya masih dilanda kegugupan.
"Aku akan ke Jerman selama dua tahun. Jika saat aku kembali kamu sudah putus dari Marcel, tolong," pinta Dhika menunduk di kedua lutut Sindi. "Ijinkan aku mendekatimu." lirihnya lagi.
Sindi tercengang. Masih mengolah data yang disampaikan Dhika di otaknya. Bukan senang karena Dhika juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Tapi justru menyesal karena statusnya yang sekarang adalah pacar Marcel.
Mata Sindi berkaca-kaca menatap lekat Dhika yang juga menatapnya memelas.
"Sekarang pergilah. Aku ingin cepat ke Jerman dan segera kembali." usir Dhika mendorong tubuh Sindi agar beranjak dari kasurnya.
Dengan langkah dan hati yang berat Sindi membuka kunci pintu kamar Dhika. Ia tak lagi fokus pada orang di sekitar yang akan curiga melihatnya keluar dari kamar pria. Kakinya berjalan gontai.
__ADS_1
"Babe," panggil Marcel dari belakang nya.
Astaga. Sindi terperanjat begitu mendengar suara Marcel. Padahal ia barusan keluar dari kamar Dhika. Apa Marcel tahu?
"Aku cari dari tadi kemana-mana. Aku mau ngajak kamu jalan." ucap Marcel mengoreksi sikap Sindi yang tak bersemangat.
Sementara Sindi hanya tertunduk. Perasaannya tak karuan. Rasanya ingin menangis tapi tak tahu apa alasan yang akan ia berikan pada Marcel.
Sindi menyandarkan kepalanya ke dada Marcel sembari menghela nafas panjang. "Aku lelah. Lelah sekali." lirih Sindi. Iya, lelah. Hatinya yang lelah. Perasaannya yang lelah karena terombang ambing dalam kebingungan.
Haruskah ia putuskan pria di depannya? Lalu memilih Dhika yang akan pergi dan menjalani hubungan jarak jauh?
***
Sindi dan Dhika tetap menjaga komunikasi mereka dan fokus pada studi. Baik Sindi maupun Dhika, mereka sama-sama mencoba melupakan perasaan masing-masing untuk tak bersikap egois. Makanya, ketika keduanya saling berkabar, tak lupa Dhika menanyakan kabar Marcel pula.
Omong-omong soal Marcel, ia memulai membantu bisnis hotel papanya dan hubungannya dengan Sindi masih bertahan walau ia harus rela bolak balik Jakarta untuk bertemu Sindi.
Berkat hubungan itu Sindi hidup serba mewah dan berkecukupan. Semua yang ia inginkan dan butuhkan akan langsung diberikan Marcel. Mau itu apartemen, jam mahal, tas bermerk, apapun itu. Marcel akan menyanggupi.
"Babe, udah selesai? Aku ada di depan apartemen kamu!" pesan Marcel ke BBM Sindi.
__ADS_1
"Sebentar ya, Cel. Aku masih nunggu dosen. Mungkin satu jam lagi baru kelar."
Lalu ia memasukkan ponsel nya ke tas dan mengacuhkan notif BBM nya yang mungkin balasan dari Marcel.
Sindi bukan sedang menunggu dosen. Ia hanya bersantai di perpus yang tenang sekaligus menenangkan pikirannya. Akhir-akhir ini Marcel kerap datang ke apartemen nya. Pasalnya Marcel memang sedang berlibur ke Jakarta. Sikap Sindi ini adalah bentuk menghindar. Karena semakin ia lihat Marcel, rasa kesal nya semakin menjadi.
Lalu kenapa ia gak minta putus? Jadi gini, orangtua Sindi di kampung sudah mendengar anaknya berpacaran dengan pengusaha kaya asal Batam yaitu Marcel. Sebagai orang tua yang matre dan lebih mengedepankan nilai suatu barang, ia memaksa Sindi untuk bertahan hingga menikah dengan Marcel dan hidup enak serta bisa membantu keluarganya di kampung.
"Kamu harus menikah dengan Marcel. Biar bisa bawa bapak sama ibu dari kampung ini!" tegas bapaknya saat ia berkunjung ke kampung halamannya liburan semester lalu.
"Lihat adik-adikmu yang perlu makan dan sekolah! Mereka itu jadi tanggung jawabmu! Jangan buat dirimu sia-sia kubesarkan!" sentak bapaknya. Ibunya tak bisa berkata-kata karena ia juga lelah dengan hidup pas-pasan di tengah sulitnya ekonomi. Membesarkan 5 anak lain yang masih sekolah.
"Jangan merasa tak adil! Bahkan jika Chika, Lily, dan Manda besar, mereka juga akan bapak carikan suami yang tak kalah kaya dari Marcel!" sambung bapaknya membuat benteng air mata Sindi runtuh.
Iya, jadi selama ini kenyataan dan penampilan seorang Sindi tidak sama. Bahkan cenderung timpang dengan kecantikan elegan yang ia miliki. Sang bapak membesarkan anak bak sebuah aset yang bisa ia jual dengan harga tinggi apabila kondisinya masih baik dan layak pakai.
Bukan berarti di kampung tidak ada yang menyukai Sindi, tapi bapaknya tak sudi menikah kan putri cantiknya pada orang dengan level kaya sekampung ini, atau sekampung itu. Akan ada baiknya jika ia mengirim Sindi ke kota besar seperti Jakarta dan berhasil lah keinginannya ketika ia tahu Marcel adalah seorang pengusaha hotel M2M yang sangat terkenal di Kepulauan Riau.
"Kamu datang babe? Kok lesu? Capek banget ya?" Marcel memberikan segala perhatian pada pacarnya begitu Sindi sampai ke apartemennya.
"Aku minta maaf udah bohong sama kamu selama ini." sahut Sindi lemas, karena terlalu banyak memikirkan segala hal.
__ADS_1
Jeder. Bak petir di siang bolong menyambar Marcel. Jantungnya berdegub kencang ketika mendengar Sindi meminta maaf padanya. Bohong? Kebohongan apa yang disembunyikan Sindi?