
Nana pulang begitu matahari sudah menampakkan diri dengan tegasnya. Sementara Lila masih setia menemani Marcel. Tatkala ia mengurus Marcel dan menyeka badan pria itu agar selalu terlihat bersih dan segar.
Iya, awalnya sih menyeka. Lama-lama handuk basahnya entah dimana dan tangan polos Lila yang akhirnya meraba-raba seluruh permukaan kulit Marcel yang bertelanjang dada.
"Emang bisa bersih kalau gak pake handuk?" sindir Marcel. Tapi Lila tetap anteng melanjutkan aksi *****-grepenya.
Marcel mengacak wajahnya frustrasi. Mau sampai kapan begini dan apa bisa tahan jika terus begini. Ditambah, tangan Lila sudah menjulur ke depan.
"Kalila." panggil Marcel.
"Iya."
"Hentikan, ku mohon." pinta Marcel dengan suara lirih.
Dengan berat hati Lila menghentikan tangan nakal nya. Fokus kembali ke handuk basah yang dianggurin dan menyeka punggung Marcel lagi.
"Udah, aku mau bersihin bagian bawah dulu." kata Marcel beringsut pergi ke kamar mandi.
Saat Marcel sedang ritual di kamar mandi, perawat datang membawa sarapan untuk Marcel.
"Sini, aku suapin." ajak Lila menepuk sofa tempat ia duduk dan bersiap menyuapi Marcel makan.
"Aku bisa makan sendiri. Yang sakit kepala ku, bukan tanganku." ucap Marcel membolak-balik tangannya pertanda tangannya baik-baik saja.
"Ah, cepat!" rengek Lila gak mau kalah.
Terpaksa Marcel menurut. Duduk di samping Lila dan bersiap menerima cinta Lila dalam bentuk suapan nasi demi nasi.
"Kamu gak nanya kabar Aldo gimana?" tanya Marcel tiba-tiba dengan tatapan nanar yang meresahkan.
__ADS_1
Gerakan tangan Lila yang hendak menyuapi nasi ke mulut Marcel seketika tercekat. Raut wajahnya murung. Sesak rasanya mengingat kejadian mengerikan yang menimpanya. Beruntung tidak ada kejadian trauma atau ketakutan seperti dulu waktu ia putus dari Aldo. Semua karena Marcel. Ada Marcel maka Lila tak perlu takut lagi.
Lila menjulurkan tangannya ke pipi Marcel. Mengelus lembut lalu mengatakan sesuatu yang membuat hati Marcel berdesir hebat. "Aku gak penasaran sama sekali. Dan aku juga gak takut lagi sama dia. Karena ada kamu yang lindungi aku. Bahkan saat aku berada berdua dengannya, aku hanya mengingat kakak supaya aku tak ketakutan."
Aduh, aduh, jantung Marcel mau copot. Tapi dia tak tahu bagaimana harus merespon kalimat Lila. Tak ingin memberikan janji untuk selalu melindungi nya kelak, ataupun lainnya. Karena ia takut, jika nanti Sindi kembali dan meminta kembali padanya, harus ia apakan hubungan ya dengan Lila.
Gubrak. Suara pintu yang dibuka kasar menyelamatkan Marcel dari situasi membingungkan itu.
"Marcel!!!" teriak tante Henny yang ngos-ngosan. Seperti berlari estafet dari Batam ke Tanjungpinang demi melihat putranya.
Tante Henny yang sadar ada Lila sedang menyuapi Marcel makan, lantas tertegun. Duh, image mertua bermartabat melayang sudah di depan calon mantu, pikirnya.
"Mama apa sih bukannya masuk?" desak Herly berjubel di depan pintu kamar Marcel, diikuti pak Marlon dan Hera di belakang.
Marcel dan Lila yang sama-sama kaget dibuat bingung dengan kejadian mendobrak pintu. Serasa dejavu, sebab kemarin malam, mama Lila juga melakukan hal yang sama.
"Kok sama sih?" bisik Lila terkekeh geli, dibarengi Marcel yang juga tertawa melihat tingkah mamanya yang sama dengan mama Lila.
Perlahan mereka memasuki kamar satu per satu. Memandang heran Marcel yang masih cengengesan bekas tertawa bersama Lila barusan.
"Eh, apa ini? Kok rame-rame datang ke sini?" tanya Marcel yang jengah melihat orang-orang masuk dan memenuhi kamarnya.
"Orang tuh khawatir loh, jangan ngerusak mood lah!" sentak Herly yang paling menyayangi Marcel. Lantas anak bungsu tante Henny itu berlari memeluk Marcel. Bermanja ria dengan kakak nya. Marcel tak merasa terganggu. Walau tangan kanan nya memeluk Herly, ia masih menerima suapan dari Lila yang sudah setengah dihabiskan.
"Kamu baru sarapan?" tanya tante Henny meletakkan barang bawaan seabrek ke meja yang ada di dekat sofa.
"Iya, itu apa? Mama mau pindah ke sini?" kembali Marcel bertanya sembari menerima suapan dari Lila yang terus berlanjut.
"Ish, ini bekal untuk kamu sama yang jaga di sini." lirik tante Henny ke Lila dan tersenyum ramah pada gadis itu. "Halo sayang, lama gak ketemu!" peluk tante Henny ke Lila yang juga disambut hangat olehnya.
__ADS_1
"Kalian baik-baik saja?" pak Marlon ikut terlibat ke dalam percakapan setelah ia puas memandangi Lila dengan tatapan yang entah apa artinya.
"Baik. Cuma masih pusing aja karena kepala aku kena hantam." jelas Marcel.
Begitu Marcel menceritakan soal kejadian itu, mendadak Lila terdiam dan menunduk penuh rasa bersalah. Karena dirinya lah Marcel jadi terlibat kejadian tak menyenangkan ini.
"Kenapa?" Marcel menyadari perubahan wajah Lila.
"Aku minta maaf sama semua keluarga kak Marcel, karena aku kak Marcel jadi begini. Gak seharusnya kak Marcel terlibat dengan masalah aku. Aku minta maaf, om, tante." tutur Lila setengah menangis.
Marcel yang panik melihat kepercayaan diri Lila yang tadi menggodanya mendadak turun, mencoba menenangkan gadis itu. Tapi keburu disabet oleh tante Henny yang seperti nya sangat sayang ke Lila.
"Enggak sayang, enggak. Kamu gak boleh minta maaf. Sudah sewajarnya, tugas laki-laki melindungi perempuan. Mama juga akan sedih kalau kamu kenapa-kenapa. Makanya sekarang mama lega, kamu baik-baik aja." hibur tante Henny membelai puncak kepala Lila seolah Lila adalah putrinya sendiri.
"Ya, sudah seharusnya laki-laki melindungi perempuan." timpal pak Marlon yang menyetujui pemikiran istrinya.
Marcel memandang sang papa yang berkomentar demikian. Kok orang tua ini mendukung? Bukannya dia yang nyuruh aku supaya menjauh dari Lila? Batin Marcel tajam ke papanya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya tante Henny menelisik ke seluruh tubuh Lila. Tanpa ragu Lila menggeleng.
"Kamu sarapan dulu sana. Tante cuma bawa roti, takut gak nendang di perut. Sekalian Hera sama Herly juga belum sarapan kan? Ajak kak Lila, sayang sayang mama." perintah tante Henny penuh perhatian.
"Oke, ma." Jawab kedua putrinya kompak.
Setelah disetujui Marcel, Lila mengikuti Hera dan Herly berburu makanan di kantin rumah sakit. Memanjakan perutnya dengan makanan penuh lemak sebab makanan di rumah sakit tidak ada nyawanya.
"Mama sendiri sudah sarapan?" tanya Marcel tak kalah perhatian. Tapi kok, cuma mamanya yang ditanya. Pak Marlon enggak tuh?
"Mama sama papa sih gampang. Kalau kamu baik-baik saja rasanya kelaparan pun gak akan terasa."
__ADS_1
Tante Henny meraih tangan Marcel lalu membelai pundak putranya. Sementara pak Marlon memperhatikan kedua ibu dan anak itu dari kasur. Tidak ada tempat di sofa. Dan akhirnya beliau lebih memilih duduk di kasur daripada di lantai.