Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Cemburu?


__ADS_3

Malam ini entah mengapa Marcel ingin minum dan bertemu teman-temannya. Lalu ia mengumpulkan Fandi, Aji, dan Carlos untuk duduk dan minum di klub malam milik Demian.


"Minum lo pakai nafas, Nyet. Kalau mabuk lo pikir gue mau anterin lo?" teriak Fandi di tengah gemuruhnya suara musik yang disediakan klub.


"Kenapa nih?" tanya Carlos bingung.


"Bucin," jawab Fandi sekenanya.


"Berisik lo!" Marcel melempar sesuatu ke wajah Fandi.


"Belum dapat kabar dari dia?" tanya Fandi, lalu dijawab gelengan oleh Marcel.


"Lagi dekat sama siapa dia? Martha?" Demian bingung.


"Ah lo ketinggalan informasi nih, makanya ikut diving bulan lalu!" omel Fandi.


"Terus lo mau dicincang pak Bur?"


"Idih, ogah, ogah."


Seseorang pelayan mendekat ke meja pria-pria tampan nan kaya yang sedari tadi dipandangi wanita yang haus belaian.


"Mas, pak bos datang."


"Mampus lo," seru keempat lainnya mengumpat ke Demian.


"Makanya jangan korupsi aja kerja lo," timpal Fandi.


"Berisik lo ah, bentar ya bro bro semua."


Demian buru-buru pergi menyambangi ayahnya yang terkenal galak, bahkan sampai lupa membawa ponsel dan rokok miliknya yang masih tertata di meja bundar itu.


Kemudian suara ponsel memekakkan mereka yang tinggal di sana. Satu per satu mengecek ponsel miliknya, tapi tidak ada yang berbunyi demikian. Fandi yang tadi duduk di sebelah Demian, melihat layar ponsel temannya itu yang semula ditelungkupkan. Kaget dia ketika melihat nama orang yang sedang memanggil di layar ponsel Demian. Tanpa sadar mulut bocornya menyebutkan nama si penelpon.


"Kalila?" teriaknya lalu ia menutup mulutnya setelah Marcel menoleh ke arahnya.


"Lila nelpon lo?" tanya Carlos.


"Hp Dem."


Dahi Marcel lalu mengernyit tajam. Wanita yang membuatnya tak tenang tanpa kabar kini muncul di layar ponsel temannya yang belum pernah bertemu secara resmi.


"Sini!" perintah Marcel.

__ADS_1


Fandi yang sedikit takut dengan perubahan suasana hati Marcel yang tampak garang, memberikan ponsel Demian begitu saja. Sebelum itu, ia menekan tombol hijau lebih dulu.


"Halo, Kak, ini Kalila." sahut Lila riang begitu panggilan diterima.


"..."


"Kak, kok kak Dem diam? Halo?"


"Kak Dem?" celetuk Marcel yang bersuara dengan menahan amarah.


Dari balik seberang sana pun, Lila terdiam. Dia menyadari suara orang yang mengangkat telepon milik Demian. Lalu ia teringat, bahwa kedua orang itu bersahabat baik.


"Lila sayang? Tak bersuara?"


"Iya, kak?"


"Kamu masih hidup? Aku fikir kamu sudah tenggelam di lautan," celetuk Marcel.


"Tadinya aku berniat begitu, kak. Tapi memikirkan kondisi orangtua ku, kuurungkan niatku," timpal Lila sepolos itu. Ia fikir, kondisi pria itu bisa untuk diajak curhat.


"Gak usah macam-macam kamu!" ancam Marcel sedikit berteriak yang mengagetkan teman-temannya yang sedang berbisik panik.


"Kamu lupa nomorku kah? Kenapa bisa nyasar di hape temanku?" tanya Marcel dengan nada mengancam.


"Ceritanya panjang, kak," jawab Lila takut-takut.


"Lain kali akan aku ceritakan ya, kak. Gak enak kalau aku bicara di hp kak Dem."


"Dem? Namanya Demian!" entah pembahasan itu penting atau tidak, tapi Marcel merasa terganggu dengan nama panggilan itu.


"Ya kan Dem, Demian. Lagian kak Dem sendiri yang nyuruh manggil begitu."


"Terus panggilan buatku apa?" Marcel menunjukkan sikap kekanakannya yang membuat ketiga temannya bergidik geli dan menatapnya seolah dia amat menjijikan.


"Ya apa? Kak Marcel. Seperti biasa. Udah ah, lain kali aku ceritakan kenapa aku gak ngasih kabar beberapa hari ini. Nanti aku telepon lagi kak Dem kalau dia lagi sendiri."


"Jangan coba telepon dia lagi. Jangan!" ancam Marcel dengan panik.


Lalu setelah itu Lila menutup panggilannya dan merasa segan, mengapa harus Marcel yang menjawab panggilan itu. Setidaknya ia tahu, masalah besar sedang menunggunya lain kali.


Sementara Marcel membanting ponsel Demian ke meja begitu Lila menutup panggilannya, dan mengagetkan Fandi dan lainnya yang menunduk tak enakan melihat kemarahan Marcel, yang mereka sendiri tau akan seperti apa jika sahabatnya itu marah.


Lila kali ini dalam bahaya, pikir Fandi, seraya dengan Aji dan Carlos. Bahkan saat ini, detik ini pun, Marcel tampak menggila karena ulah Lila. Dan mereka sudah mempersiapkan diri jika Demian kembali dan dua pria macho itu bertengkar hebat.

__ADS_1


Satu tenggak, dua tenggak, Marcel sudah menenggak sebotol minuman tanpa nafas. Kondisi ini membuat semua temannya khawatir. Hingga akhirnya Demian kembali ke perkumpulan dan begitu kaget ia melihat wajah Marcel yang sudah memerah.


"Eh, kenapa nih anak? Mabuk?" Demian tampak bingung. Bahkan teman yang lain tak ada yang menjawab dengan suara.


"Dem, tadi ada yang nelpon di hp lo. Cewek. Namanya Kalila. Siapa dia?" pancing Marcel dengan tampang serius walau sedang berusaha untuk tetap sadar dan mendengar jawaban dari mulut Demian.


"Kalila? Oh, dia sepupu Nana, Cel. Kenapa?" jawabnya ringan.


"Pacar? Gebetan?" tanya Marcel lagi, kali ini ketiga penonton was-was mulai siap mengambil langkah.


"Enggak juga. Belum sampai ke tahap itu. Masih kenalan aja."


"Belum ke tahap itu ya. Hik.." Marcel senggugukan. Tapi dia belum menyerah, dia harus mendapat jawaban paling tidak dari sahabatnya itu.


"Lo yang angkat telepon dari dia?" Marcel mengangguk untuk pertanyaan Dem ini. "Yaudah, nanti gue telepon lagi kalau gitu."


"Gak boleh!!" teriak Marcel yang membuat Dem bingung.


"Kenapa lo? Kenapa sih dia?" sekali lagi, penonton was-was hanya bisa menjawab dengan bahasa tubuh yang mengartikan ketidaktahuan dan ketidak ikut campuran mereka.


"Lo harus kenalin dulu dong. Ada cewek jangan disimpan sendiri. Bawa dia pas ulang tahun gue," kata Marcel berdalih.


"Ya belum jadi ngapain dikenalin ke kalian."


"Berharap jadian lo?"


"Hmm. Gak tau. Lihat aja nanti."


"Dia cantik? Sexy? Baik?"


"Hmm. Sexy nya sih, gak terlalu. Tapi dia cantik dan pastinya baik."


"Sialan. Siapa bilang dia gak sexy? Dia sexy banget, anj***. Gue udah buktiin," nah loh, omongan Marcel sudah mulai ngelantur. Efek alkohol yang ia tenggak tanpa jeda tadi mulai terasa.


"Ha?" Dem semakin bingung kemana arah pembicaraan tersebut.


"Lo kayak gak tau dia. Semua cewek itu sexy," kali ini Carlos mengambil alih pembicaraan untuk menenangkan Dem dari pertanyaan tak terkendali lainnya.


Sementara Fandi berusaha mengurus tubuh Marcel yang sudah sempoyongan. "Ini anak udah eror kayaknya, gue bawa balik aja ya."


"Iya, iya, bawa pergi aja. Kalau repot buang aja di jalan," canda Aji yang berkeringat hebat menahan situasi itu.


"Ok. Gais, gue pamit."

__ADS_1


Barulah Fandi membopong tubuh Marcel dengan bersusah payah ke mobilnya. Sengaja ia tak meminta bantuan Aji atau Carlos, sebab tugas keduanya adalah memastikan Dem tidak menuntut jawaban dari perkataan Marcel yang ambigu.


"Si bodoh ini!" umpat Fandi dan memanfaatkan situasi dari hilangnya kesadaran Marcel untuk menjitak kepala pria mabuk itu.


__ADS_2