Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Peristiwa Menyakitkan Itu


__ADS_3

Acara resepsi selesai diadakan. Juga menyisakan kelelahan pada tubuh keduanya. Tanpa harus berpura-pura tidur pun, Sindi dan Marcel sudah tumbang tak karuan.


Suatu hari ketika hari hari damai selepas resepsi, Dhika meminta bertemu ke Sindi. Dengan alasan pergi belanja kepada Marcel, dia diizinkan berangkat sendiri tanpa supir.


"Aku akan kembali ke Jerman lusa." celetuk Dhika memecah suasana canggung keduanya.


"Kenapa?" lirih Sindi.


"Apanya yang kenapa? Studi ku belum selesai dan masih ada sisa waktu satu tahun lagi." Jawab Dhika tersenyum ketir.


"Lalu, bagaimana setelah dua tahun mu berakhir?"


Dhika memutar bola matanya untuk berpikir ke arah mana perkataan Sindi barusan. Ah, soal mendekatinya jika ia putus dari Marcel?


"Aku pikir itu tak berlaku lagi sekarang. Toh kamu sudah menikah." Jawab Dhika pula susah menahan tangis di tenggorokannya. "Lagi pula aku tak lagi punya keinginan untuk pulang. Karena satu-satunya  alasan kepulangan ku, sudah musnah bersama orang lain." Ucap Dhika tertuju pada Sindi.


"Ah, sebelum aku pergi, aku hanya mau mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena sudah mau menjadi teman Nana yang bawel. Terima kasih juga karena sudah bersikap baik pada orangtua ku. Terima kasih sudah mau menjadi teman curhatku."


Lagi-lagi suara Dhika tertahan. Ia menelan susah salivanya. Bergetar hebat menahan tangis. "Terima kasih sudah mau menjadi wanita yang aku sukai. Terima kasih sudah menjadi alasanku untuk menggapai cita-cita ku. Terima kasih." Tes. Air mata Dhika tak mampu terbendung.


Melihatnya menyakiti hati Sindi. Pria itu menangisinya, tapi ia malah bertindak egois yang berujung membohongi diri sendiri. Tanpa sadar, ia pun menjatuhkan air matanya.


"Kok kamu yang nangis? Harusnya aku yang nangis." tanya Dhika heran.

__ADS_1


"Huwaaa." tangisan Sindi semakin menjadi. Dan Dhika semakin panik. "Aku benci diriku sendiri. Aku benci hidupku. Hiks." teriak Sindi di keramaian. Tangisan itu berhasil mencuri perhatian orang sekitar walau cuma sebentar.


"Aku menyukai mas dari pertama bertemu. Aku selalu melihat mas dari kejauhan. Aku kagum sama mas yang berhasil dalam studi. Hiks... Tapi aku gak punya pilihan. Hiks... Bapak ku memaksa supaya aku menikah dengan Marcel yang kaya. Aku tertekan. Setiap melihat Marcel aku kesal karena ia merenggut hidupku. Hiks. Tapi semua bukan salahnya." tangis Sindi tersedu-sedu menjelaskan tentang perasaan tertekannya selama ini untuk pertama kali pada orang yang ia sukai.


"Please. Jangan nangis." peluk Dhika. Ia mendekap tubuh ringkih yang sangat kurus itu. Mendangkup kedua pipi Sindi lalu berkata, "Ikut lah bersama ku ke Jerman dan hidup normal di sama. Tanpa tekanan dari siapapun."


Sindi mendorong tubuh Dhika yang tadi memeluknya. Ia tak sangka Dhika akan mengatakan hal gila seperti itu. Apa ia lupa jika Sindi sudah menikah dengan orang lain?


"Akan aku buatkan paspor saat ini juga untukmu. Kamu bisa susul aku di bandara, lusa. Itu pun jika kamu mau ikut denganku. Jika tidak pun aku tak memaksa. Akan ku kembalikan berkasmu di resepsionis." tutur lembut Dhika sebelum akhirnya ia menyuruh Sindi untuk pulang ke rumah dan menenangkan diri.


Pergulatan hebat terjadi di hatinya. Antara ikut Dhika dan meninggalkan Marcel atau tidak. Seharian Sindi terus melamun. Bahkan saat di depan suaminya.


Hari yang ditentukan akan tiba besok. Sindi belum tau harus memutuskan pilihan yang bagaimana.


Bak gayung bersambut, Marcel membiarkan Sindi bebas merayunya. Menyentuh bagian sensitif Marcel dan menghidupkannya. Tapi sesekali ia lihat air mata menetes di sudut mata Sindi.


"Kamu gak apa-apa babe? Aku bisa menunggu jika kamu belum siap." ucap Marcel di tengah kegiatan yang serius.


"Heem." Jawab Sindi tanpa berkata.


Baiklah. Jika Sindi tak ragu, maka Marcel juga tak akan ragu. Gantian mendominasi Sindi, Marcel akhirnya berhasil menikmati tubuh indah istrinya. Melampiaskan nafsu yang tertahan setiap kali melihat Sindi di depannya.


"Maafkan aku. Kamu adalah pria yang baik. Aku harap kamu bertemu orang yang juga baik dan mencintai kamu dengan tulus. Karena aku tak bisa membalas kebaikan mu, aku hanya bisa menggunakan tubuh ku. Maafkan aku, Marcel. Dan terima kasih." ucap Sindi tengah malam setelah kegiatan mereka. Marcel tertidur lelap di sampingnya. Memeluk pinggang kecilnya seolah tak ingin wanita itu pergi.

__ADS_1


Pelan Sindi menyingkirkan tangan Marcel dan beranjak perlahan. Membawa barang yang sudah ia persiapkan. Juga meninggalkan sepucuk surat di nakas samping tempat tidur mereka.


Hingga pagi tiba, Marcel terkejut melihat tempat tidurnya hanya ada dirinya. Tapi ia langsung berfikir jika istrinya sedang mandi atau pergi ke dapur. Sampai ia melihat secarik kertas putih yang amat mencolok.


Marcel baca pelan surat itu.


"Aku minta maaf padamu yang menyukai aku orang tak tau diri ini. Dari awal aku ingin jujur padamu. Tapi tak bisa karena paksaan bapak. Aku hanya menyukai satu orang pria. Dari dulu hingga seterusnya, yaitu Dhika. Aku mohon maaf karena telah melukai hatimu. Tapi aku sungguh tertekan jika terus begini. Aku hanya ingin hidup dengan orang yang aku cintai. Aku harap kamu juga akan menemukan seseorang yang kamu cintai. Terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan dan berikan ke aku. Terima kasih kepada papa dan mama yang sangat baik kepadaku. Terima kasih. Sindi."


Kaki Marcel melemas karena kehabisan tenaga. Fakta bahwa ia baru saja dicampakkan oleh istri yang amat ia cintai, benar-benar membuatnya runtuh.


"Arrggg....." teriak Marcel sambil menangis hebat. Sakit rasanya. Sakit hingga ke ulu hati.


Teriakan itu menghebohkan seluruh keluarga. Pak Marlon dan tante Henny begitu terkejut melihat Marcel yang sudah pingsan di lantai kamar sambil memegang sepucuk surat peninggalan Sindi.


Sama halnya Marcel, pak Marlon dan tante Henny juga tak kalah shock dan terkejut. Namun hal pertama yang harus mereka lakukan adalah membawa Marcel ke rumah sakit. Kondisinya drop parah. Kehilangan orang yang ia cintai tentu saja membuat tubuhnya lemas dan trauma.


Tak Terima kejadian ini menimpa sang anak, pak Marlon menyambangi kediaman om Jo dan menanyakan keberadaan Dhika.


"Ia sudah berangkat ke Jerman." Jawab om Jo bingung dengan kedatangan pak Marlon secara tak sopan.


"Dasar anak kurang ajar." pak Marlon melempar surat Sindi ke hadapan om Jo. Betapa kaget om Jo membacanya dan nama Dhika terbawa-bawa dalam isi surat itu.


"Sekarang gara-gara mereka, anak ku terbaring di rumah sakit. Jika terjadi hal yang tak diinginkan pada Marcel, aku bersumpah akan menghancurkan anak itu Joni!!!" sentak pak Marlon emosi tak berkeping. Lalu ia meninggalkan kediaman om Jo dan kembali ke sisi Marcel.

__ADS_1


Saat itu Nana sedang tak berada di rumah. Ia pergi karya wisata bersama rekan kantornya. Tak ada yang mengabarinya masalah ini karena om Jo meminta semua orang di rumah untuk tutup mulut.


__ADS_2