Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Jadi Itu...


__ADS_3

Flashback on


Pak Marlon dan Marcel duduk berhadapan di ruang kerja, ditemani secangkir teh dan cookie kesukaan sang papa. Awalnya mereka membicarakan bisnis hotel mereka yang sedikit mengalami perubahan sejak rajinnya Marcel dalam mengontrol jalannya bisnis. Tapi lama kelamaan pembahasan merambat ke kehidupan pribadinya.


"Dia siapa?" tanya pak Marlon terus terang.


"Dia Kalila." Jawab Marcel enteng.


"Papa tak menanyakan namanya. Yang papa tanyakan statusnya. Siapa dia?" tanya pak Marlon mengulangi pertanyaannya.


Tentu saja Marcel bingung hendak menjawab apa. Masa iya menjawab selingkuhan.


"Kamu bingung menjawabnya?" tantang pak Marlon yang geram dengan kediaman sang anak. "Apa perlu papa sendiri yang menjawabnya untukmu?"


Deg. Jantung Marcel berpacu saat papanya menawarkan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Itu berarti, papanya sudah melakukan penelusuran soal Lila melalui orangnya yang masih bekerja di hotel.


"Kalau begitu aku tak menjawab." Jawab Marcel acuh.


Semakin geram dengan santainya sikap sang anak, pak Marlon menggelegar. "Dia masih kerabat anak berengsek itu?"


Deg. Sekali lagi Marcel dibuat jantungan oleh papanya.


"Papa mencari tahu tentangnya? Karena itulah papa bersikap dingin padanya?" Kali ini Marcel yang menggebu marah begitu paham bahwa papanya menelisik hingga ke kehidupan pribadi Lila.


"Tidak boleh? Papa selalu memantau sama siapa kamu bergaul." Jawab pak Marlon sama entengnya. "Apa tujuan mu sebenarnya? Membiarkan gadis itu di dekatmu? Sebab dari ekspresimu tadi, tidak mungkin kamu tak tahu asal usulnya."


Deg. Ketiga kalinya jantung Marcel terpompa dahsyat.


"Ingin balas dendam padanya? Melampiaskan amarahmu pada keluarganya melalui dia?"


"Apa mama sudah tau?" Marcel tertunduk tak berdaya.


"Semua orang di rumah ini tau siapa dia. Tapi mereka lebih mementingkan dirimu daripada tindak tandukmu terhadapnya yang merupakan kerabat orang yang sudah menghancurkan nama keluarga." pak Marlon memperhatikan anaknya yang tertunduk diam. Memainkan ibu jari yang ia lipat di atas dengkulnya.


"Lepaskan gadis itu bila tebakan papa benar."

__ADS_1


Deg. Pacuan keempat ini mampu melemahkan diri Marcel dan memperlambat jalur darahnya hingga wajah nya langsung pucat pasi tanpa jeda.


"Dia tidak ada hubungannya dengan masa lalumu! Jangan kamu permainkan orang yang tak bersalah. Kamu yang melakukan itu, tak lebih baik dari perempuan berengsek yang kamu sebut istri itu!" sentak papanya.


Marcel tertegun mendengar semua nasihat papanya. Tangannya mengepal geram. Tapi tak mampu menyambut ocehan sang papa.


"Bagaimana jika dia jatuh terlalu dalam untukmu yang bahkan dengan bodohnya masih memikirkan perempuan itu? Ingin kamu menyakiti anak orang dengan kejam seperti itu?"


"Papa tidak keberatan kamu menjalin hubungan dengan siapapun termasuk dia," ujar pak Marlon mengarah ke Lila. "Tapi lepaskan perempuan sialan itu dari hidupmu." Tegasnya.


Air mata perlahan menetes dari mata Marcel. Ucapan papanya menyentuh palung jiwanya. Sesaat ia merasa bersalah sekaligus sedih sambil membayangkan wajah Lila yang tersenyum bahagia padanya.


"Karena papa gak mau kamu menjadi lebih tak bermoral, maka lepaskan dia secepatnya!" perintah pak Marlon seserius itu jika melihat wajahnya. "Atau lanjutkan saja harapan bodohmu pada perempuan itu. Gadis baik itu pantas mendapat yang jauh lebih baik darimu!"


Setelah mengatakan unek-unek nya, Marcel melangkah keluar, gontai menuju ruang keluarga dimana mamanya dan Lila juga sedang mengobrol serius.


"Apa kamu tidak menyukainya?" terdengar sayup suara mamanya menanyakan itu kepada Lila yang tertunduk diam.


"Aku sangat menyukainya tante. Tapi dia tidak." tangis Lila pecah di pelukan mamanya.


Sesuatu mengganjal dalam diri Marcel. Harusnya ia merasa senang bila ada orang yang menyukainya, tapi yang ia pikirkan justru sebaliknya. Sakit rasanya mengetahui Lila menyukainya sementara ia dihadapkan pada pilihan sulit antara gadis itu dan istrinya yang entah dimana.


Flashback off.


***


"Ih, kakak kenapa cepat banget pulangnya. Besok gitu pulang, ya, ya," rayu Herly pada Lila saat ia hendak pamit untuk kembali ke Tanjungpinang.


"Gak boleh, nanti om sama tante kakak khawatir. Terus kamu dilaporin ke polisi karena dituduh menculik, gimana?" hibur Lila yang juga merasa sedih, sebab ia sudah akrab dengan Herly sejak kedatangannya ke rumah itu.


"Tante, om, Lila pamit dulu ya. Makasih banyak karena sudah nerima Lila di sini. Lila betah banget di sini karena tante dan om yang baik." Ujar Lila sembari tersenyum.


Tante Henny memeluk tubuh Lila erat. Berat untuk melepaskan gadis itu. Menurutnya Lila itu istimewa, makanya ia pun tak rela jika gadis itu pergi.


"Kamu harus rajin main ke sini ya. Sama Marcel atau enggak tetap harus datang ke sini. Oke?"

__ADS_1


"Iya, tante."


Lila melirik sejenak ke pak Marlon yang masih bersikap tak acuh pada dirinya yang hendak pergi.


Setelah cukup lama sang empunya rumah merelakan kepergiannya, kali ini ia diantar ke pelabuhan bersama Hesty. Yang selalu cuek pada dirinya, secara kerasukan berinisiatif mengantarkan dirinya sambil berangkat kerja, alasannya.


"Maaf ya, papaku sebenarnya bukan orang kayak gitu. Sebagai anaknya, aku mewakili papa untuk minta maaf ke tamu yang merasa tak nyaman dengan perlakuannya." Tiba-tiba Hesty memecah keheningan dengan meminta maaf atas nama papanya.


Ya, selama ini ia memperhatikan gelagat keluarganya saat kedatangan Lila.


"Itu karena kak Marcel, bukan kamu kok." tambahnya lagi.


Merasa tak enak, Lila menjawab, "Iya kak, gak apa-apa. Papa aku juga gitu. Kelihatan seram saat ada orang asing datang ke rumah. Namanya juga kepala keluarga, marwahnya harus dijaga lah." Celetuk Lila enteng sambil bercanda.


Oops. Orang di samping bukan Herly, bisa gak ya dibercandain, pikirnya sambil melirik tidak ada perubahan ekspresi pada Hesty. Gadis itu masih diam kaku. Dan obrolan berakhir. Sebab Lila juga bingung ingin berbicara apa lagi.


"Maaf juga karena aku ngadu ke mama soal tingkah kalian waktu di kamar kak Marcel."


Wajah Lila mendadak merah. Kenapa bahas itu lagi sih, batinnya.


"Mama senang mendengarnya." Imbuh Hesty yang membuyarkan pikiran liar Lila. "Makasih kamu sudah membawa tawa selama dua hari ini kepada mama. Kami semua hampir lupa apa itu tawa sejak kejadian kak Marcel. Kalau pun ada, itu hanya dibuat agar tak nampak menyedihkan."


"Aku itu psikolog. Kamu jangan heran!" Jawab Hesty seketika ia lihat wajah bingung Lila. Sesuai prediksinya.


Lila menunduk sedih mendengar perkataan Hesty. Betapa tak bisa ia bayangkan, luka keluarga itu. Hampir sama dengan dirinya dan keluarga yang semenyedihkan itu ketika Lila ditinggal menikah oleh mantannya. Syukur banyak orang baik yang menyemangati ia hingga sampai ke tahap lebih baik hingga sekarang.


"Di sana kamu dijemput siapa? Udah telpon kakak?"


"Gak aktif. Hpnya dari kemarin gak aktif. Gak apa-apa, nanti aku minta jemput teman aja."


Obrolan mereka seterusnya diisi oleh hal-hal yang ringan. Cukup berat membahas kesedihan di pagi hari yang cerah ini.


Hingga sampai pelabuhan dan Hesty memberikan sebuah cendramata pada Lila. "Apa ini?" tanyanya bingung.


"Itu adalah barang kesayangan kakak. Kamu boleh memilikinya karena selama ini aku yang jaga." Jawab Hesty menyerahkan tote bag biru yang baru ia ambil dari belakang mobil. "Yaudah, aku berangkat dulu. Hati-hati ya!"

__ADS_1


Hesty pergi, dan Lila masuk ke pelabuhan untuk membeli karcis sambil menenteng tas yang diberi oleh Hesty tadi.


__ADS_2