Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Gara-gara Martha


__ADS_3

Jam setempat menunjukkan angka yang masih setengah sore. Terlalu dini untuk pulang apalagi dalam kondisi yang gondok setengah mati melihat Martha sok mendominasi dirinya soal Marcel. Lila lantas memutuskan kembali ke kamar Marcel dan bersantai di sana. Menghidupkan tv, mengutak atik remot, tidak ada siaran yang menarik, alhasil dibantinglah si remot yang tak bersalah itu. Bukan salah remot, tapi salah Martha yang tadi bilang gayanya bak anak TK.


"Sialan." Umpatnya terus menerus setiap kali mendengar kata anak TK.


Dan masih berniat menenggelamkan matanya ke dalam kantuk, pintu kamar terbuka. Tak disangka Marcel pulang. Auranya berbeda. Kelihatan tak bergairah.


"Ini baru anak TK yang kehilangan mainannya," umpat Lila lagi setelah melihat wajah Marcel.


"Katanya rapat, kok udah balik?" tanya Lila penasaran dengan apa yang terjadi pada sosok Marcel yang tak biasa.


"Hm?" Marcel kaget mendengar suara Lila. Ia pun tak sangka wanita itu masih ada di sana. "Iya.." Dan dijawab sekenanya.


Lila lalu mendatangi Marcel yang lemas. Ingin mencurahkan emosinya perkara anak TK yang dilontarkan Martha tadi.


"Kak, lihat deh, apa aku seperti anak TK? Masa kata gundikmu tadi gayaku kayak anak TK? Yang benar aja dia tuh."


Marcel melotot sejenak. Gundik yang dimaksud Lila pasti Martha. Tapi ia mencoba membiarkan karena suasana hatinya sedang tak menentu.


"Sedikit." Jawab Marcel lalu ia bantingkan badannya ke sofa.


"Jadi aku harus berpenampilan seperti tante tante gitu? Apasih dia itu. Dia terus mendominasi ku dalam obrolan tau gak. Masa dia..."


Tak tahan, Marcel lalu tersulut emosi. Tanpa sengaja ia berteriak ke Lila hingga membuat wanita itu diam. "Kamu bisa diam gak??? Seperti katamu barusan, aku baru saja kehilangan seorang gundik. Jadi biarkan aku tenang!!"


Tentu saja Lila hampir menangis mendengar jawaban Marcel yang mengagetkan. Iya juga sih. Untuk apa ia curhat ke Marcel soal Martha? Padahal mereka punya hubungan.


Lila melihat kemeja Marcel yang jujur. Memperlihatkan sisa lipstik yang sudah pasti Martha punya.


"Hm, karena kamu kehilangan gundikmu, jadi kamu lampiaskan ke aku amarahmu? Kalau begitu kejar dia, susulin! Bawa balik dan pertahankan!! Lalu lepasin aku yang kayak anak TK ini!!!! Brengsek banget sih."

__ADS_1


Tak kalah dari Marcel, Lila juga membalas perkataan Marcel dengan teriakan. Ditambah rasa kesal karena membahas Martha.


"Sialan! Cowok sialan! Kak Marcel sialan!!!"


Setelah puas mengumpat, Lila pulang dengan deru air mata yang mengalir kencang. Berharap Marcel mengejar, ternyata tidak. Memantapkan hatinya untuk menyadari posisinya yang bukan siapa-siapa selain pelampiasan nafsu.


"Kriiing.." Suara telepon milik Lila berdering saat ia dan keluarga baru saja selesai makan malam.


"Lil, hapemu! Mas Anu nelpon! Woi!!" teriak Nana dengan sengaja menggoda Lila yang ditelpon cowok.


Sontak saja membuat kehebohan seisi rumah. Terutama Bu Mis yang semangat kalau soal begituan.


"Mas Anu?"


"Iya, ma. Anu-nya Lila. Pacar."


Buru-buru Lila kembali ke meja makan mengambil hapenya dan menghentikan sementara kegiatan cuci piringnya.


"Kamu punya pacar Lila? Di Jakarta? Apa yang teman dekatmu waktu SMA dulu?" tanya bu Mis nyosor terus.


Karena tau siapa yang menelepon dan tak nyaman dengan pertanyaan tantenya, Lila kabur ke kamarnya agar leluasa berbicara.


"Halo." Sapanya lagi.


"Kamu punya pacar?" tanya Marcel yang daritadi diam saja.


"Gak urusanmu tuh. Lagi pula sama aja kayak kamu, kamu juga punya istri. Ah, dan gundik," sindir Lila yang masih dendam.


"Pendendam!" kata Marcel.

__ADS_1


"Hm." Lengos Lila.


"Siapa?"


"Apanya?"


"Pacarmu?"


"Hm? Penting? Mending urusin Martha aja sana!"


"Kamu cemburu?"


"Gak lah. Ngapain?"


"Besok dateng ke sini, kita bicarakan kontrak soal hutang piutangmu!" perintah Marcel bak titah sang raja.


"Besok malming, jangan ngaco!"


"Pacarmu datang?"


"Berisik ah!!! Gak tau orang lagi kesel ya!" kesal Lila yang langsung mematikan panggilan Marcel.


Tak disangka, sudah di kamar pun Lila masih dibuntutin dan diminta penjelasan oleh Bu Mis dan Nana yang tertangkap nguping.


"Ini teman aku, bukan pacar."


Kelihatan kecewa ibu dan anak itu mendengar jawaban tentang siapa penelepon misterius dengan nama 'Mas Anu' tadi.


"Kalau punya pacar kenalin ke keluarga ya Lila. Biar bisa kita nilai bibit bebet bobot nya. Tante dan mamamu udah wanti-wanti dan selalu berdoa untuk kamu, supaya kamu jangan lagi ketemu cowok yang aneh-aneh. Semua pengen kamu bahagia dan melupakan masa lalu." Tiba-tiba suasana di lantai dua berubah pilu. Bu Mis terharu melihat perjuangan Lila yang menyaksikan langsung perkembangannya dari orok hingga sekarang.

__ADS_1


"Iya tante, tenang aja. Itulah gunanya aku di sini untuk liburan."


Tak berniat lagi mencuci piring, Lila pamit kembali ke kamar dan meratapi dirinya yang dituntut untuk bahagia oleh keluarganya. Terlebih, untuk tidak berurusan dengan pria berengsek yang tak bisa ia tepati. Pasalnya Marcel berengsek. :(


__ADS_2