Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Menyesal?


__ADS_3


Menyesal?


Belum kering air mata akibat ulah Marcel sebelumnya, pagi hari Lila pun harus terusik dengan deringan hp dari Marcel. Hanya karena rasa sakit yang masih terasa, Lila mengabaikan panggilan itu. Sampai akhirnya Marcel mengirim pesan.



"Datang ke sini kalau gak mau aku yang jemput langsung ke rumahmu!"


"Mau mengancam? Coba aja!"


Entah kesambet roh apa, Lila memiliki keberanian untuk menentang Marcel. Saat ini ia belum sanggup melihat wajah Marcel walau tampan begitu.


Lila hanya ingin mengetes apa berani Marcel keluar dari zona nya dan menghadap ke Nana soal mereka yang saling mengenal. Dan gak perlu waktu lama bagi Lila bergulat dalam pikirannya. Dua puluh menit setelah pesan itu dibaca, Marcel sudah sampai di depan pintu masuk dan mengagetkan semua penghuni rumah.


Bu Mis yang awalnya membuka pintu dibuat berteriak dan mengundang Om Jo dan Lila yang ada di kamar untuk keluar melihat siapa tamu yang menghebohkan bu Mis. Tak beda dari istrinya, om Jo juga menampilkan ekspresi yang demikian. Aura ketakutan terpancar dari pasangan suami istri itu. Namun Marcel bersikap tenang dan menyapa dengan sopan.


"Selamat pagi om, tante," sapa Marcel.


"I.. Iya.." Jawab om Jo terbata sementara bu Mis sudah tak mampu lagi berkata. "Ada apa Cel?"


"Saya mau ketemu Kalila, om, tante. Sekalian mau ajak keluar, boleh om?" tanya Marcel lagi masih sopan.


"Kalila? Kok?" kelihatan om Jo sangat kaget karena Marcel mengenal keponakannya.


Lila memandang gelagat om dan tantenya ada yang aneh lalu memutuskan untuk mendekat. Tak luput pula wajah takut dan gugupnya yang menyadari Marcel nekat melakukan apa yang ia katakan.


"Om, tante." panggil Lila.


"Oh Lil, ini ada Marcel katanya nyari kamu... Kok?" jelas om Jo yang keheranan, tertulis pada air mukanya.

__ADS_1


"Oh gini gini om, saya disuruh Dem untuk jemput Kalila karena mereka udah janjian. Kebetulan Dem nya lagi ketemu klien jadi dia minta tolong saya om, mumpung searah."


Kelegaan menyelimuti kedua pasangan itu.


"Aahh, begitu. Jadi ngerepotin ya. Yaudah Lila siap-siap! Jangan biarkan Marcel menunggu, dia orang sibuk!" canda om Jo mencairkan suasana.


Padahal dalam hati pria tua itu tetap mengganjal. Ia yang lebih lama hidup pasti mampu mengamati apa yang sebenarnya terjadi hanya dari pergerakan Lila yang takut takut menyambangi Marcel.


"Aku permisi om, tante," ijin Lila setelah ia mengambil tas nya di kamar.


"Mari om, tante."


Marcel membawa Lila ke dalam mobilnya. Dan melaju dengan kecepatan penuh karena dilandasi emosi. Tak sabar ingin mendamprat wanita yang nyatanya juga ketakutan itu, Marcel menepikan mobilnya di jalanan sepi dan memulai pertengkaran.


"Ada yang mau kamu jelaskan, Kalila?" tanyanya awal.


"So.. Soal??" gagap Lila malah balik bertanya.


"Dengan Dem? Bukannya aku bilang untuk gak datang ke party itu?"


"Ha?" Kaget lah Marcel, bukannya seharusnya dia yang marah malah jadi Lila yang marah. Dasar wanitahhh. "Kok jadi kamu yang marah? Aku lagi emosi nih ya!"


"Lagian, siapa suruh datang ke rumah. Aku bingung jadinya harus jawab apa kalau Nana nanyain!" tak kalah Lila pun berteriak juga ke Marcel.


Kalila terdiam sejenak, dan Marcel memulai kembali pertengkaran.


"Sedekat itu kamu sama Dem?"


Lila tak mau menjawab. Pandangannya kini dialihkan ke luar jendela. Melihat pemandangan taman yang banyak orang berlalu lalang di sana.


"Jawab aku, Kalila!" teriak Marcel.

__ADS_1


Lila terkejut saat Marcel membentaknya. Selama hidupnya tidak ada orang yang membentaknya. Tapi pria ini sudah berkali-kali membentak dirinya.


"Aturan kedua, jangan ikut campur urusan masing-masing. Itukan kata kamu?" melas Lila mengingatkan kembali aturan 'hutang piutang' mereka.


Marcel tertegun. Senjatanya kali ini memakan tuannya sendiri. Padahal aturan itu ia maksud untuk membentengi dirinya sendiri, bukan untuk Lila.


Dirudung emosi yang teramat dalam, Marcel lalu bergerak mengambil tas kerja nya di kursi belakang. Mencari sesuatu, dan ketika ia keluarkan, tertulis kontrak perjanjian mereka. Secepat kilat pula Marcel merobek kertas itu hingga menjadi potongan kecil.


Lila tak habis pikir dengan tingkah impulsif Marcel. Bukan satu dua kali, ini kesekian kalinya ia berlaku seenaknya.


"Kenapa disobek?" tanya Lila cemas.


"Sekarang jelaskan! Kenapa kamu sama Dem?" sambil ia lemparkan potongan kecil itu ke luar jendela.


Ah, Lila baru mengerti. Ternyata pria ini sedang memaksanya untuk buka mulut. Baik. "Lumayan deket. Kan kak Dem teman Nana." Jawabnya santai.


Tak puas, Marcel masih mencari masalah. "Oh, ya? Sedekat itu sampai mengabaikan laranganku untuk datang?"


"Sekarang aku tanya balik deh, salahnya dimana kalau aku datang? Bagus aku datang, aku jadi tau banyak hal tentang..." Lila tak melanjutkan kalimatnya. Ia melihat Marcel yang masih menantikan kalimat lanjutan darinya.


"Tentang apa? Apa??" sentak marcel.


"Tentang kamu, gundikmu, istrimu. Tau gak, aku kayak orang bego setelah mendengar mereka bergosip tentang kamu!"


"Apa yang kamu dengar?" suara Marcel menurun. Seolah ia tak ingin membahas hal yang itu terus.


"Kenapa? Kok berubah suaranya? Secara tak langsung mengiyakan semua yang aku dengar?" tantang Lila.


Tapi Marcel bak kehilangan cakar. Dirinya yang tadi garang dan berteriak sana sini hingga memekakkan telinga, kini melempem. Dan sekali lagi Lila tersadar, tak seharusnya ia mengharap apapun dari Marcel. Sebab dia hanya mainan yang harus standby di kala butuh. Tidak seperti istrinya atau Martha yang memiliki tempat khusus di hatinya.


Tak tahan melihat ekspresi Marcel yang sama saat mereka bergulat di atas tempat tidur, Lila memutuskan keluar dari mobil dan berlenggak sendirian.

__ADS_1


Sesekali ia lihat ke belakang, Marcel masih terdiam membisu. Tak melarangnya pergi apalagi menyusulnya. Setelah itu baru ia mengemudikan mobilnya dan meninggalkan Lila sendirian.


"Jadi kamu merasa menyesal pada istri dan gundikmu ya Marcel sialan?" umpat Lila.


__ADS_2