
Perkataan Marcel masih menjadi teka-teki yang tak bisa dipecahkan Lila. Jika memikirkan ke belakang, tidak ada satupun kesalahan yang ia buat. Lantas mengapa Marcel merasa bosan padanya.
Pagi itu juga Lila menyambangi hotel Marcel dengan sepeda motor. Baru saja tiba di lobby, resepsionis memanggil nya dengan panik.
"Mbak Lila, maaf, mbak Lila gak bisa masuk ke kamar atau ruangan pak Marcel. Itu pesan beliau." Resepsionis itu menjelaskan dengan takut-takut sambil menunduk.
"Tapi pak Marcel nya ada di dalam?"
"A... Ada, mbak." Jawabnya ragu.
"Oke." Lalu ia melengos pergi ke arah lift dan memencet lantai 19. Beruntungnya ia bebas dari kejaran si resepsionis.
Hingga tiba di lantai 19 dan memergoki Marcel yang buru-buru keluar dari ruangannya. Marcel juga kaget saat tahu Lila sudah ada di depannya padahal resepsionis baru saja menghubungi kantornya.
"Kalau bukan menghindar, apa namanya?" celetuk Lila kesal.
Langkah kaki Marcel tercekat. Bahkan mulutnya pun tercekat untuk memberikan alasan yang masuk akal untuk situasi itu.
"Katakan padaku, kalau kamu gak serius dengan ucapan mabuk mu!" paksa Lila yang mulai berlinang air matanya.
"Yang harus kamu tau, walaupun sedang mabuk, aku selalu dapat mengingat dengan jelas semua perkataan ku." Jawab Marcel menegaskan.
"Kak.. Sebenarnya salah ku apa?" lirih Lila, giginya gemeretak sembari nafasnya yang menderu hebat.
__ADS_1
"Kamu gak salah. Hanya saja aku bosan."
"Kenapa?" tangis Lila pecah.
Melihat hal itu pula emosi Marcel terkikis. Ia menyadari hatinya gusar, melihat air mata keluar tanpa ragu dari balik pelupuk mata indah Kalila. Tapi buru-buru ia tepis rasa itu, semua demi kebaikan Kalila.
"Ya kalau bosan harus gimana lagi jelasin ke kamu!" Marcel mengalihkan pandangannya dari Lila. "Pergilah! Kita sudah selesai. Denganku hanya akan menambah koleksi pria berengsek yang ada di dekatmu." ucapnya tanpa melihat bagaimana ekspresi terluka yang saat ini diperlihatkan Lila.
Lila menutup kedua mulutnya tak percaya. "Kamu tau masa laluku?"
"Hm. Jadi berhentilah, Kalila!" perintah Marcel dengan suara lirih menangis tangis.
Tak terima dengan segala yang diucapkan Marcel, Lila menerjang punggungnya dan memeluk pria itu dari belakang. Erat, seakan tak ingin melepaskan Marcel dari lingkaran tangannya. Tak pelak air mata nya terus menerus bertumpahan, membasahi kemeja peach Marcel.
"Aku gak bisa.. Aku menyukaimu kak." tangis Lila.
"Jangan..." lirih Marcel. "Jangan pernah menyukaiku! Jangan.."
Semakin kencang pula pelukan Lila. Lalu ia membalikkan tubuh besar Marcel. Ia lihat wajah Marcel yang juga tidak baik.
Lila mengelus pipi Marcel dengan lembut. Mendekatkan bibir nya ke bibir pria itu. Mengecap seolah itu adalah miliknya. Marcel pun menerima semua itu.
Tapi cepat ia tersadar. Didorongkannya tubuh Lila ke belakang hingga lepaslah kecupan itu. Seraya berkata, "Aku sudah menikah, Kalila . Dari awal hubungan ini tak ada apa-apanya untukku. Harusnya kamu paham hal itu. Dan aku, sangat mencintai istriku."
__ADS_1
Marcel membalikkan badannya dan berjalan cepat memunggungi Lila yang terseruduk ke lantai. Kakinya lemas akibat menangis.
***
Setelah hari itu, bagi Lila hanyalah kekosongan belaka. Biasa ia pergi dan menemui Marcel, kini ia hanya berdiam diri sambil memikirkan pria yang telah memcampakkannya.
Hah. Terus-terusan ia menghela nafas panjang. Yang sekali lagi membingungkan semua orang yang ada di rumah.
Hingga akhirnya, om Jo menyadari sesuatu.
"Lila," panggil om Jo saat mereka hanya berdua di ruang keluarga.
"Ya om?"
"Gimana kemarin liburan ke Batam nya? Om belum sempat nanyak karena baru balik dari dinas."
"Seru, om. Keluarganya juga baik semua sama Lila." Jawabnya jujur apa adanya sambil memikirkan Marcel.
Om Jo menatap heran. Sedang menelisik kejujuran dari balik ekspresi Lila. "Oh ya? Syukurlah kalau mereka semua baik sama kamu."
Lila tersenyum getir. Hatinya yang tadi memikirkan Marcel menjadi sakit kembali.
"Oh ya, gimana perasaan kamu belakangan ini? Sudah tak terpikirkan anak setan itu kan?" tanya om Jo, hati-hati sekali.
__ADS_1
"Udah enggak, om. Aku udah bisa move on dan om lihat sendiri. Aku baik-baik aja, kan?" Jawabnya sok antusias memamerkan gigi putih kelincinya. "Lagian aku udah janji pada diri sendiri, om. Untuk menyayangi mama, papa, dan keluarga dibanding pria itu."
Ya, sebagai orang yang pernah ditinggal menikah dan dikhianati tepat sebelum hari pernikahan, seharusnya yang dibuat Marcel tidak ada apa-apanya. Sebab orang yang sudah pernah diterjang badai, tak akan goyah hanya karena gerimis. Ia hanya butuh kerja keras. Kerja keras untuk kembali ke sisi Marcel. Ya. Lila meyakini hal itu.