
Semua anggota klub tampak bersemangat melihat laut biru jernih yang menggoda mereka untuk segera menyebur. Termasuk Nana dkk. Setelah selesai dengan perangkat menyelam, tak lupa kamera handphone yang sudah dilapisi plastik anti air untuk mendukung kegiatan mereka dan bahan untuk eksis di media sosial. Dengan tanpa basa basi, kelima cewek itu menyelam, meninggalkan Lila yang masih ada di atas karena memang tak niat untuk berenang.
"Hei, gak ikut menyelam?" tanya seseorang pria tiba-tiba menghampiri Lila dan mengagetkannya.
Ah, ternyata Fandi. Awalnya Lila ingin mengabaikannya, tapi kok gak sopan. Dan Lila membalas Fandi dengan senyuman, "Tidak, Kak."
Perempuan itu sedang membuat pertahanan diri yang kuat. Fandi bisa merasakannya, mungkin karena dia sudah dicekoki sama isu-isu keburukan dirinya dan teman-temannya.
"Kakak sendiri gak menyelam, Kak?" ternyata Lila bertanya balik, sekali lagi, demi kesopanan.
"Gak ah, lagi malas. Pengen hunting aja."
Dasar buaya, pikir Lila ketika ia tahu bahwa Fandi menggodanya.
"Fandi!" panggil seseorang dari kejauhan.
Baik Fandi ataupun Lila menoleh ke asal suara. Ternyata Marcel, berada di tengah-tengah perempuan bernama Martha dan Lea yang didengar Lila dari the ceweks.
"Si gila ini pasti mau nyuruh-nyuruh aku lagi, deh. Bodo amat ah, ganggu aja," keluh Fandi. Dan Lila hanya menanggapi dengan senyum tipis.
Keberadaan Marcel memang mencolok mata, bahkan mata Lila. Yang sedari tadi fokus pada Nana, kini beralih melirik ke arah Marcel yang saat itu sedang menggosokkan sunblock ke punggung telanjang Martha. Cukup erotis jika dilakukan di tempat umum. Tapi mengapa tidak ada yang merasa terganggu dengan pemandangan tersebut? Mungkin mereka semua sudah biasa melihat ini.
"Oh iya, ngomong-ngomong yang tadi itu namanya Marcel. Sultan nya klub ini lah, dia yang sponsorin kegiatan ini dan kita bisa makan enak. Lain kali aku ajak kamu kenalan ke dia, mau ya?" ajak Fandi tiba-tiba bersemangat.
"Ah, gak usah, Kak. Gak usah. Aku juga gak sepenting itu untuk diperkenalkan," tolak Lila secara panik.
"Yah, kok gitu? Kamu penting kok, apalagi karena kamu sepupunya Nana."
__ADS_1
Sepupu Nana penting? Maksudnya? Kata-kata itu begitu mengganjal. Dan ingin sekali rasanya Lila menanyakan mengapa Nana begitu membenci Marcel. Tapi bukannya tidak sopan jika bertanya ke hal pribadi orang lain?
"Memang Nana dan Kak Marcel pernah pacaran atau sesuatu yang seperti itu ya, Kak?" dih, mulutnya keceplosan, padahal batinnya sudah berkecamuk untuk tak menanyakan hal itu. Alhasil, pertanyaan itu membuat Fandi tertawa ngakak, Lila pun merasa bodoh karena Fandi menertawakan dirinya.
"Maaf," celetuk Fandi menghentikan tawanya saat ia lihat wajah Lila memerah malu. "Gak ada hubungan seperti itu di antara mereka. Kalau masalah Nana yang anti Marcel, lebih baik kamu tanya sendiri ke sepupumu. Soal Marcel, mungkin lebih baik kamu kenal dengannya, biar bisa menilai dirinya. Karena menurutku dia itu baik."
Ya baik, punya teman super kaya dan bisa menempel sana sini, ikut merasakan kemewahan dan sebagainya, tentu saja baik bagi Fandi.
"Ah iya, Kak," seakan tak puas dengan jawaban Fandi, Lila mulai malas meladeni percakapan pria itu lagi.
Matanya kembali tertuju ke Marcel yang mulai bersiap untuk menyelam. Dimulai dari pria itu yang membuka pakaiannya, dan hanya tersisa boxer yang menutupi bagian vitalnya. Tunggu, pria itu hampir bertelanjang, dan tubuhnya berwarna coklat muda, eksotis, perut yang dipenuhi otot, tangan dan pahanya begitu kekar. Sexy. Ya, satu kata yang menggambarkan pria bernama Marcel adalah sexy. Bahkan saat ia menceburkan diri ke air, dan timbul kembali ke permukaan untuk mengambil nafas, pun tetap terlihat sexy.
Apakah Lila tergoda?
"Sok keren, si monyet," celetuk Fandi yang iri sementara Lila terus memandangnya. Timbullah keisengan dalam dirinya menggoda Lila. "Kamu tau gak Lil, Marcel itu selain suka sama cewek yang super sexy, dia juga suka sama yang bisa memuaskan dirinya di ranjang."
"Kalau yang kayak kamu ini, sama sekali gak dilirik sih."
Sungguh, informasi yang gak penting. Bahkan tanpa harus dijelaskan, Lila sudah paham. Bagaimana mungkin pria tampan dan kaya itu suka model cewek kayak Lila yang bisa dibilang polos murni dan jauh dari kata sexy ya.
Walaupun sebenarnya agak mengganjal di hati Lila. Marcel yang tidak menyukai tipe seperti dirinya tak akan pernah melirik model beginian. Tapi siapa yang tersenyum ke arahnya dan menatap tajam dirinya saat Lila pertama kali memasuki arena klub diving itu? Apa gak Marcel tuh?
"Kalau aku sih, yang seperti apa aja gak masalah, selagi dia cantik, cukup," sambung Fandi tak menyerah.
Informasi ini lebih tidak penting bagi Lila. Dan karena muak mendengar Fandi berbicara ngawur, Lila meminta ijin untuk kembali ke kamarnya dan menyudahi percakapan.
Tapi sebelum ke kamar yang sangat membosankan karena tidak ada siapa-siapa, Lila berjalan-jalan menikmati fasilitas kapal milik anggota klub ini dan memotret dirinya dengan kamera handphone. Dirinya justru lebih antusias dengan hasil jepretan foto selfie nya daripada melihat para anggota klub bercengkerama senang di lautan.
__ADS_1
"Kalau aku gak salah persepsi, sepertinya kamu melihatku terus?" pertanyaan mengganggu macam apa lagi ini yang diterima Lila sejak ia memutuskan untuk ikut berlayar bersama Nana dkk.
Perlahan Lila menoleh, dan betapa terhenyak ia saat mendapati tubuh Marcel yang bertelanjang dada, basah, dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Si sexy yang ia lihat dari kejauhan tadi, kini sudah di depan mata. Dan penilaiannya tak salah, tubuh itu luar biasa menggoda iman perempuan.
"Tidak," elak Lila buru-buru pergi meninggalkan Marcel yang mendekatinya penuh keanehan.
Kelakuan malu-malu dan terkesan menghindar itu membuat Marcel menjadi bergairah untuk lebih dekat dengan Lila.
Malamnya di bar khusus untuk Marcel and the gank.
"Fan, menjauh dari Lila. Kali ini dia bagian gue!" tegas Marcel ke Fandi seolah sedang memperingati pejantan lain soal dominasi wilayah mereka masing-masing.
"Kan gue duluan yang ngelirik dia," tolak Fandi tak terima.
"Tapi gue duluan yang nemuin dia," balas Marcel santai menanggapi Fandi sambil menenggak minuman.
"Tau aja barang bagus si monyet," keluh Fandi lagi secara tak langsung menerima kekalahan.
Setelah mendeklarasikan diri ke temannya untuk tak mendekati Lila karena dialah yang akan memulai pertempuran untuk mendapatkan Lila, tiba-tiba dirinya menjadi bersemangat. Kalau saja tidak ada Nana, sudah ia sambangi kamar perempuan itu dan menculiknya ke kamar tidurnya.
Tapi, daripada kena damprat Nana dan Minnie yang anti dirinya, ia mengurungkan niat itu dan lebih memilih menyendiri di buritan kapal sambil menikmati sebatang rokok dan sebotol minuman. Menikmati suara ombak dan membiarkan angin malam menyapu rambut klimis nya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi ia tersenyum untuk beberapa alasan.
Ketenangan, ya, mungkin seperti itu. Sendiri menikmati alam adalah sensasi terbaik untuk menghilangkan kepenatan dalam hidupmu. Walaupun ketenangan itu tak berlangsung lama, waktu sendirinya seketika terusik oleh dua pasang mata yang terus melihat ke arahnya. Tatapan itu kosong dan penuh arti. Marcel yakin bermacam-macam pertanyaan telah diutarakan oleh si pemilik mata.
Sadar siapa yang telah memandanginya, Marcel mendekat. Anehnya orang itu tak lari ketika ia mendekatinya. Untungnya tidak banyak orang di sana karena sudah cukup larut dan anggota klub pasti sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing.
"Kamu ketahuan lagi memandangiku!" ujar Marcel saat ia mendekati orang itu.
__ADS_1
Orang itu pun tak menghindar, tak pula menolak pernyataan Marcel yang menuduhnya. Justru matanya menantang Marcel dan menatap tegas.