
Mendengar keributan dari parkiran, Marcel datang menghampiri bersama perempuan yang tadi ia remas-remas. Betapa malunya Lila, melihat wajah Marcel kala itu.
"Kenapa Le?" tanya Marcel yang bingung.
"Si tolol ini bikin lecet Porsche gue, Cel. Lihat!" tunjuknya pada bekas cakaran ganas sepeda motor milik om-nya Lila. "Dia cuma maaf, maaf, doang. Emang maaf bisa buat hilang ini? Ha?" sambung Lea membentak Lila.
"Lo tau dia siapa kan, Le?" tanya Marcel kembali memastikan ke Lea soal identitas Lila.
"Gak tau, cuma wajahnya gak asing sih," jawab Lea melemahkan nada suaranya dan mulai menginterogasi setiap sudut tubuh Lila.
"Ayo bicara di kantor gue aja," ajaknya pada Lea yang masih menelanjangi Lila dengan sorot tajam mata investigasi nya. "Si, kayaknya gak hari ini dulu ya, kamu pulang aja, karena kondisinya juga begini. Gak apa-apa kan?" tanya Marcel ke perempuan yang sedari tadi mengekori dirinya. Perempuan itu mengangguk, dan beranjak pergi.
Lalu, keduanya dibawa ke kantor pribadi Marcel yang berada di lantai 19 melalui jalan koridor tempat ia bermesraan dengan perempuan tadi.
Sampai di lantai 19, mereka memasuki ruangan single suite room yang isinya komplit bak apartemen. Duduk bersebelahan, sementara Marcel bersikap layaknya hakim di depan kedua perempuan tersebut.
"Biaya ganti ruginya berapa kira-kira, Le?" tanya Marcel memulai percakapan. Mendengar pertanyaan tentang biaya, membuat hati Lila kembali gusar. Tangannya gemetaran, menandakan ketakutan yang luar biasa.
"Lu kan punya mobil mewah juga, tau lah berapa biaya reparasinya."
"Ya, mahal sih, paling tidak, 30 gak kemana, ya," sambung Marcel yang memaklumi. "Lila sendiri, kalau biaya ganti rugi 30 juta, bisa?" giliran Lila yang ditanyakan.
Lila menggeleng pelan. Bibirnya mengatup. Tak bersuara, dan tak bisa bergerak. Hanya mata bergetarnya yang mampu berbicara. Marcel yang melihat sorot mata itu juga jadi bingung.
"Kalau gak bisa bayar, jangan digoresin. Gak usah pasang tampang bego gitu sih lo," umpat Lea terus menerus menghujani Lila.
__ADS_1
"Le, bentar, gue mau ngobrol ke Lila. Tapi berita ini jangan keluar dulu ya. Termasuk ke Nana. Lo harus rahasiain!" Lalu Lea menuruti perkataan Marcel untuk keluar dari ruangan dan menyisahkan mereka berdua. Dan entah mengapa, setelah berdua saja di ruangan itu bersama Marcel, suara tangisannya mulai terdengar.
"Aku takut. Aku takut Nana, takut Om Jo, takut mama," isaknya di hadapan Marcel yang saat itu sudah berada di samping nya. Menggantikan posisi duduk yang tadi ditinggalkan Lea.
"Lalu bagaimana? Biaya reparasi mobil mewah dia itu memang mahal, bisa jadi lebih."
"Tolong aku, Kak," pinta Lila dengan memelas, memandangi wajah Marcel menggunakan matanya yang berkaca-kaca.
"Jangan memandangku seperti itu!" ucap lembut Marcel.
Hati Marcel tergerak. Perempuan di depannya itu memang cantik sekali. Apalagi jika menangis seperti itu, kelihatan tak berdaya dan semakin menimbulkan hasrat nakalnya sebagai pria. "Kamu tau, kamu sedang minta tolong ke siapa? Sepupumu pasti udah banyak bercerita tentang aku, kan?" goda Marcel yang berada di atas angin.
Sekali lagi Lila hanya mengangguk. "Lantas, kamu minta tolong padaku?" Lila masih mengangguk. "Apa yang kamu dengar dari sepupumu dan teman-temannya itu benar. Tetap ingin meminta pertolonganku?"
"Aku bahkan tidak percaya pada omongan mereka, aku yakin Kak Marcel orang yang baik makanya mau bantu aku begini," jawab Lila tersedu dan suara nya tersengal karena isakan tangis yang ia keluarkan tadi.
Menyadari kecupannya tak ditolak Lila, Marcel merasa di atas angin. "Aku yang akan membayar biaya ganti ruginya. Tapi, ada syaratnya."
"Hm?" tanya Lila keheranan.
"Kamu harus ada di saat aku butuh. Kebutuhan apapun itu. Termasuk, ranjang."
Kaget dong. Lila hampir saja loncat dari tempat duduknya karena permintaan Marcel. "Gila! Kamu gila ya?"
"Ayolah, kamu sendiri berasal dari kota Metropolitan sana. Jangan pura-pura lah, Lila!" seru Marcel lagi.
__ADS_1
"Kamu sedang menganggap aku segampang cewek yang tadi kamu pegang-pegang, ya?" amarah Lila.
"Kalau kamu bersedia, aku berjanji tak akan memegang cewek lain selain kamu," goda Marcel sambil tersenyum aneh. "Kamu pada posisi yang tidak bisa memilih, Lil. Aku tau siapa itu Lea, dia gak akan pernah melepaskanmu."
Lila masih berpegang teguh pada instingnya. Dan berusaha meyakinkan diri, bahwa Marcel bukan pria seperti ini. "Aku tau kamu baik, tolong aku, Kak," sekali lagi pintanya.
"Kamu naif banget sih. Gak ada orang baik di dunia. Aku hanya kenal orang yang berusaha untuk hidup, atau berniat untuk mati. Selebihnya aku gak tau, apa itu baik dan buruk." Sementara Lila masih kalut dengan jawabannya, "Jadi, gimana Lila?"
Lila masih membungkam. Di satu sisi ia membutuhkan uang untuk membayar biaya ganti rugi Lea. Di sisi lain, ia tak mau memberikan dirinya ke pria itu atas dasar nafsu belaka.
Sembari memikirkan pilihan hidupnya, Tangan nakal Marcel memulai pertempuran fisik di tubuh Lila yang bergidik hebat. Menjalar ke seluruh tubuhnya dan mencapai tempat sakral di antara kedua paha yang dihimpitnya.
"Kamu jangan keterlaluan, Kak!" ancam Lila.
"Memang kenapa kalau keterlaluan?" goda Marcel yang terus melanjutkan kegiatannya dalam menghujani kecupan pada Lila. "Ayolah, perempuan di ibu kota itu semua sama. Kalian pura-pura naif untuk menarik perhatian orang-orang sepertiku."
Lila tak menunjukkan adanya ketertarikan, justru ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Ini pertama kali baginya, tapi Marcel bersikeras pada pendapatnya, bahwa Lila sama dengan perempuan yang selalu menemani malamnya hanya untuk uang. Walau sebenarnya tak salah, Lila memang membutuhkan uang Marcel kala itu.
Marcel tak tahan dengan tingkah Lila yang seperti patung. Jangankan tubuhnya, suaranya pun sengaja ia tahan, pertanda ia tak ingin disentuh Marcel. Secara kasar Marcel menggendong tubuh Lila dan menjatuhkannya ke tempat tidur beralas abu-abu yang 'mungkin' sering ia gunakan pula untuk bersenggama dengan wanita lain.
"Kamu sudah mengganggu waktuku saat bersama Sissy tadi, sekarang kamu harus menanggung resikonya."
Belum sempat Lila menanggapi pernyataan Marcel, tapi tubuhnya sudah dilucuti dan dilepas semua pakaian perempuan yang sedang tak berdaya itu secara mudahnya. Betapa takjub Marcel melihat sebuah bentuk pahatan indah yang berada di bawah tubuhnya. Ditambah ekspresi takut dan tangisan Lila yang membuat nafsunya semakin terguncang untuk menerjang tubuh indah itu. Alhasil, Marcel pun secara kasar memasuki Lila. Membuat perempuan itu merasakan sakit yang luar biasa tidak terkira.
Marcel menggauli tubuh Lila secara bahagia. Seakan merasakan kemenangan atas setiap keinginannya yang tak pernah sekalipun ingkar dari dirinya. "Maafkan aku yang berengsek ini ya, Kalila sayang!" Bisiknya di tubuh Lila lalu membalikkan tubuh gadis itu membelakangi dirinya dan menusuknya kembali dari belakang. "Siapa suruh kamu datang ke hadapanku. Kan aku jadi tertarik padamu," sambungnya dengan nada menggoda.
__ADS_1
Sementara Lila hanya bisa menangis dan terus menangis. Menyesali perbuatannya, dan takdir yang sial semenjak ia bertemu bidadara yang ia percayai baik itu berubah bentuk menjadi sosok Marcel yang sungguh berengsek.