Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Kunjungan 1


__ADS_3

Bak pasangan yang sedang menikmati bulan madu, Lila dan Marcel menuju pelabuhan Sri Bintan dimana banyak kapal yang akan mengantarkan dirinya ke tempat orangtua Marcel yang sedang menunggunya untuk dieksekusi. Padahal sebelumnya Lila merasa begitu bersemangat dan bahagia mendapati kenyataan bahwa dirinya akan pergi berdua bersama Marcel, apalagi menemui keluarganya. Tapi kali ini justru kekhawatiran melanda dirinya. Kakinya yang bergerak naik turun tak dapat dikontrol karena gugupnya.


Marcel yang baru saja membeli karcis melihat lucu tingkah perempuan itu dari kejauhan. Disaksikannya kembali bagaimana ekspresi gugup Lila yang begitu fenomenal diingatannya. Ditambah, penampilan gadis itu yang seperti biasa, manis dan murni. Mengenakan atasan kemeja putih dengan leher berenda dan bawahan rok peach double layer berkain shiffon yang memancarkan aura kesegaran. Benar-benar, seleranya sudah berubah. Dari macan menjadi kucing, batin Marcel.


"Yuk, ke kapal, kita berangkat 15 menit lagi."


Ajakan Marcel seolah penolong Lila di saat dirinya gundah gulana. Tangannya disentuh pria itu. Diam-diam ia juga membawakan tas kecil berisi baju dan peralatan rutin milik Lila. Seakan mengenang kembali kejadian di bandara waktu itu.


"Andai aku tak mengenalmu, andai kamu hanya bersikap begini padaku. Andai aku tak tahu kamu sudah menikah, akan jadi apa ya kita?" tanya Lila dalam hati sambil menikmati sentuhan lembut tangan Marcel yang kini menggenggamnya dengan erat.


Ditambah perlakuan khusus yang diberikan Marcel saat Lila terlihat kesulitan memasuki pintu kapal dan menelusuri gang sempit untuk mencari tempat duduk mereka.


Kapal perlahan meninggalkan tepian. Dan Lila tampak semakin khawatir. Pemandangan laut biru pun tak lagi mengalihkan rasa cemasnya.


"Apa yang kamu takutkan? Mereka mengundangmu, kamu harus merasa terhormat," celetuk Marcel sedikit berbisik ke arah Lila.


"Aku takut. Ibu kamu sepertinya dingin. Beliau gak berbicara apapun padaku saat kita makan waktu itu selain bertanya nama dan nomor hp."


"Tenang saja. Semua akan baik-baik saja."


Hibur Marcel yang cukup membuat perasaan was-was tadi memudar sedikit.


"Tapi, aku punya tiga saudara perempuan yang kufikir cukup sulit sih. Yang kemarin ikut mama si bungsu Herly. Ada dua lagi yang agak...." Marcel mengenang sifat kedua adik tertuanya yang dingin dan cuek. "Kalau mereka berulah, maklum ya," baru saja hendak menghibur Lila, Marcel kini menggodanya kembali. Ia pun tertawa kekeh melihat perubahan wajah Lila yang tadi lega kini cemas kembali.


Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu lama, kini Marcel dan Lila telah berada tepat di depan pintu rumah Marcel yang lumayan mewah. Mulutnya menganga lebar menandakan takjub yang luar biasa dengan kekayaan yang dimiliki pria itu. Semakin penasaran pula Lila dengan isi rumah mewah berlantai dua yang dihiasi cat berwarna putih.

__ADS_1


"Ayo, masuk!" ajak Marcel kembali menenteng tas milik Lila.


Sadar tasnya yang sedari tadi dijinjing oleh Marcel, refleks Lila ingin mengambilnya. Tapi ditolak oleh Marcel.


"Jangan ributin hal yang gak guna. Ayo masuk!"


Tangan Marcel memegang pinggang Lila, memberikan jalan terlebih dahulu kepada si wanita. Marcel masuk tanpa ragu ke rumahnya sendiri. Tapi tidak untuk Lila.


"Ma, aku udah datang nih. Ma!!" panggil Marcel namun tak ada yang menjawab.


Rumah besar itu sepi. Bahkan karena sepinya, suara Marcel yang berteriak memanggil ibunya bergema dan terdengar nyaring.


"Bentar, kamu tunggu di sofa ya, aku panggil mama."


Loh, loh, kok Lila ditinggal? Kalau misal dia bertemu dengan ayah Marcel terlebih dahulu, apa tidak canggung parah tuh? Atau saudara perempuan yang tadi Marcel katakan?


Gadis itu memandangi Lila secara intens, dari atas hingga ke bawah, dan diulang kembali. Entah mau berapa lama ia memandangi Lila. Padahal Lila sudah merasa amat risih dan ingin cepat-cepat pulang.


Tiba-tiba suara gaduh dari langkah kaki yang berlarian mendekat ke arah Lila. Lila tanda wajah itu. Adik bungsu Marcel yang waktu itu ia jedotin kepalanya.


"Kak Lila!!!!" sapanya dengan nada riang.


"Hai.." belum sempat memberi sapaan balasan, Herly menerjang tubuh jangkung Lila dan memeluknya.


Sifat nya waktu menelanjangi Lila dengan tatapan mematikan bersama mamanya tempo hari hilang tersapu senyum ramah yang disunggingkan gadis itu.

__ADS_1


"Siapa dek?" tanya cewek satunya yang tadi memandangi Lila secara heran.


"Ini loh Kak Lila, pacar kak Marcel." jawab Herly seru sendiri mengatakan Lila adalah pacar Marcel. Padahal gak pernah merasa ditembak atau diminta untuk menjadi pacar kakaknya.


"Serius?" tak kalah dari Herly, cewek tadi pun berubah menjadi antusias. Wajah ketat tadi berubah menjadi senyuman. "Kenalin, namaku Hera. Karena kita seumuran, aku panggil secara biasa dulu ya."


Ajak putri kedua tante Henny yang sama cantik dengan mamanya. Menyodorkan tangan sembari menyambut tangan lila agar sah mereka berkenalan.


Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Lila, kok keluarganya seantusias ini dengan wanita yang diajak Marcel. Padahal status Marcel yang masih memiliki istri harusnya menjadi batu pijakan bagi mereka untuk tak bersikap baik padanya.


"Oh, sudah datang." suara wanita paruh baya mendekat ke dalam keributan cewek-cewek muda yang sedang asyik mengagumi satu sama lain. "Halo, sayang," sapa tante Henny sambil memegang pipi Lila dengan begitu ramahnya.


Sesekali Lila menoleh ke arah Marcel sambil menanyakan apa yang terjadi. Karena, sungguh Lila bingung mendapat perlakuan baik sementara dirinya menyandang gelar selingkuhan. Masa iya keluarga ini menyimpang.


Marcel pun yang mengerti isyarat itu hanya mengangkat bahunya pertanda tak tahu apapun soal sikap mama dan adik-adiknya.


"Kalian pasti capek, istirahat dulu sana. Tante lagi siapin makan malam untuk kalian."


"Aku bantu ya, tante." sungkan Lila langsung mengajukan diri membantu mama Marcel.


"Gak usah, kamu kan tamu. Mana ada tamu masak di dapur." tolak tante Henny.


"Gak masalah, tante." Gandeng Lila ke tangan tante Henny sambil menggiringnya ke arah dapur yang letaknya ada di mana. Lila tampaknya sudah merasa nyaman dengan perlakuan baik keluarga Marcel. "Asal tante tau, aku jago masak loh, tante."


"Oh ya?" takjub tante Henny. Lalu ia menoleh ke arah putranya dan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Ma, aku mau cerita-cerita dulu sama Kak Lila! Ma!" teriak Herly lalu menyusul mamanya ke arah dapur.


Padahal seumur hidup ia tak pernah memegang apapun pekerjaan dapur, tapi kali ini dengan inisiatif sendiri Herly membantu mamanya. Tugasnya mencuci sayuran. Sebenarnya ia hanya penasaran dengan sosok Lila.


__ADS_2