Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Langkah Awal


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Marcel untuk yang ke sekian kalinya, pikiran yang tadi tenang justru semakin tidak menentu. Hati, pikiran, dan kepala Lila terasa sesak, dipenuhi cerita masa lalu yang kelam karena kelakuan Marcel.


"Aku harus meluruskan semuanya. Aku capek," ujarnya sendiri yang menimbulkan semangat baru pada dirinya.


Hari berikutnya, Lila memberanikan diri untuk pergi menemui Marcel di hotelnya. Dan baru ia sadari kala itu, ternyata hotel ini bukan sekedar hotel keluarga yang biasa biasa aja. Mewah dan super elegan banget. Banyak pula pelanggan yang menyewa kamar di hotel ini. Baik turis dalam negeri dan luar negeri.


Kalau dilihat begini, tanpa perlu Marcel jelaskan pun Lila sudah paham, betapa berjalan lancar usaha Marcel. Wajar saja semua perempuan bertekuk lutut dan rela memberikan apapun termasuk tubuh mereka ke sisi Marcel.


"Permisi, bisa saya bertemu dengan Pak Marcel?" tanya Lila pada resepsionis yang dipaksa untuk senyum saat bekerja.


"Pak Marcel sedang tidak bisa diganggu, mbak. Apa mbaknya sudah buat janji sebelumnya?" tanya resepsionis itu dengan ramah.


"Belum sih, yaudah deh, makasih ya mbak."


Harapan untuk bertemu Marcel buram. Padahal hatinya sedari lama telah membuncang. Ingin mengembalikan kartu debit yang ia pegang itu. Dan mengakhiri semua dengan lapang dada dan bersikap yasudah lah untuk masa lalu.


"Lil," sapa Fandi dari kejauhan.


Sesaat Lila menoleh, ia pun merasa bahagia melihat Fandi. Dewi fortuna sedang berpihak padanya, menolongnya dengan rupa berbentuk Fandi.


"Mau ketemu Marcel, Lil?"

__ADS_1


"Iya kak, cuma lagi sibuk kayaknya. Gak bisa diganggu."


Mendengar itu Fandi berinisiatif, mendatangi resepsionis tadi dan berbicara ke mereka.


"Din, telpon aja Marcel, bilang Lila yang nyariin. Pasti welcome kok dia."


"Oke deh mas Fandi."


Resepsionis itu menurut. Ia kemudian menelepon ke kamar pribadi Marcel. Sementara Fandi menemani Lila dan memintanya untuk bersabar sejenak.


"Mas Fandi, telepon room suite nya Pak Marcel gak diangkat," lapor resepsionis tersebut.


Fandi berpikir sejenak, lalu dia menggiring resepsionis itu untuk tetap mengajak Lila ke ruangan Marcel. "Antar aja, Din. Marcel gak mungkin menolak kalau yang cari Lila." Kata Fandi sarat akan makna sambil menoleh ke arah Lila dan dihiasi senyum aneh.


"Selamat bersenang-senang ya, Lila. Kalau sesuatu terjadi, segera hubungi aku. Aku setia menampung."


Kalimat sindiran yang dilontarkan Fandi sebelum ia meninggalkan meja resepsionis menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Lila. "Senang-senang? Menampung? Apa sih maksudnya?"


"Mbak Lila, ayo saya antar ke kamar Pak Marcel," sang resepsionis itu menerjang Lila yang masih dilanda kebingungan.


"Makasih ya, kak!" teriak Lila ke Fandi yang disambut dengan lambaian tangan pertanda balasan ucapan Lila.

__ADS_1


Lila mengikuti resepsionis itu tanpa adanya percakapan. Saat menaiki lift khusus pun, ia tak mampu bertanya, ke mana, kenapa hanya ada mereka berdua di lift itu, atau pertanyaan lain yang sebenarnya mengganjal. Matanya hanya bisa memperhatikan jari resepsionis itu yang menekan tombol 19. Baru ia sadari, kamar yang katanya milik Marcel ini, dibuat khusus untuk dirinya. Jadi di lantai 19 itu hanya ada satu ruangan besar, dimana ruangan itu benar-benar mengukir sejarah dalam pengalaman hidupnya di negeri orang. Sekaligus, pengalaman yang membawanya sampai pada tahap ini.


"Silahkan, mbak Lila," sila resepsionis setelah memencet tombol password kamar pribadi Marcel. Barulah ia pergi setelahnya.


Ketika pintu terbuka, ia sadar bukan langsung menemukan kamar, tapi sebuah ruang tamu dan meja kerja yang cukup luas. Lila pun memutuskan untuk menunggu di ruang tamu.


Awalnya ia menunggu dengan sabar, berpikir positif bahwa yang punya kamar memang ada urusan karena sedang sibuk. Namun, lama kelamaan ia mendengar suara erangan dan teriakan perempuan secara samar-samar. Dan Lila yang sudah mengerti, tau betul jenis suara itu dan sedang apa Marcel di dalam kamarnya.


"Dia membawa perempuan lain juga ke sini," gumam Lila begitu menyadari suara erangan tersebut. Pastinya Marcel juga membawa perempuan lain. Lila bukan satu-satunya perempuan yang spesial hanya karena ia pernah menjadi tempat pelampiasan nafsu Marcel. Ia cuma sekedar mainan, ah bukan, sekedar ****** ***** yang besoknya akan diganti dengan yang lain. Duh, jadi kangen sama the ceweks, teman-teman gosipers di perkumpulan diving mereka yang begitu semangat saat membahas laki-laki ini.


Sepuluh, dua puluh, hingga tiga puluh menit sudah Lila menunggu dan berlapang dada sambil mendengar suara perempuan yang dilanda kenikmatan itu.


Hmmm.. Nikmat? Saat itu pikirannya agak sedikit nakal. Lila membayangkan ketika si besar milik Marcel memasuki dirinya. Jujur, rasanya memang nikmat. Ditambah hangat dan kerasnya benda itu. Ah.. Tapi sakit yang luar biasa itu pun masih terasa di benaknya. Bahkan jika ia melakukan lagi, hatinya masih belum siap karena mengingat rasa sakit itu.


Sudahlah, daripada dirinya ikut terhanyut pada suara-suara nakal dan desahan Marcel yang pula terdengar hingga ke luar ruangan, cepat-cepat Lila memikirkan cara untuk keluar dari sana dengan niat yang juga tersampaikan.


Lalu ia bergerak ke meja kerja Marcel yang dekat dengan ruang tamu, mengambil kertas dan pulpen yang sudah tersedia di sana. Menulis beberapa kata dan meninggalkannya di atas meja. Tak lupa, kartu pemberian Marcel juga ia letakkan. Dan setelah itu ia pergi.


Dan hampir satu jam Marcel melakukan ritual dengan perempuan lain, ia kembali ke meja kerjanya setelah membersihkan diri. Ada sebuah kertas kecil yang tertempel dan sebuah kartu debit miliknya.


Kertas itu berisi tulisan berikut, "Aku kembalikan kartu ini, aku cuma ambil yang aku butuhkan. Dan akan aku kembalikan dengan cicilan. Tolong bersabar ya. Kalila."

__ADS_1


"Aaahhhh, sial," umpat Marcel yang akhirnya menyadari kedatangan Lila ke kamarnya.


Lalu ia menelepon resepsionis dan memerintahkan beberapa satpam untuk mencari keberadaan Lila dan membawanya ke hadapan Marcel bak tahanan.


__ADS_2