
Tak henti Marcel menatap Sindi. Perasaan suka yang selama ini terjalin saat mereka berkomunikasi mendadak meluap ketika orangnya sudah ada di depan mata. Sayangnya, tidak banyak hal yang bisa ia lakukan untuk mengekspresikan rasa itu kecuali memegang jari jemari Sindi tanpa mau melepas.
"Wih, apa nih?" tanya Dem heboh begitu ia lihat Marcel menggandeng tangan Sindi tepat saat mereka turun dari mobil.
"Lihat, ya." tunjuk Marcel bangga. Itu menandakan seolah mereka sudah sah dan jangan coba-coba mendekat.
"Dih." Dem menyeru jijik karena ia tahu arti pandangan mengancam itu.
"Mereka baru jadian, tepat di depan bandara. Heran deh, berasa syuting AADC kali mereka." sambung Nana.
"Berisik kalian semua!" sentak Marcel yang wajahnya memerah malu.
"Tapi kok, Sindi dari tadi kamu diam aja? Kamu gak senang?" tanya Nana.
Oh iya, Marcel lupa dengan apa yang dirasa Sindi. Ia terlalu larut dengan perasaannya yang sudah lega tanpa menanyakan pada Sindi terlebih dahulu.
"Aku hanya sedikit syok." Jawab Sindi sungkan.
Ah, tentu saja mereka semua memaklumi. Pasti ada juga beberapa wanita yang tak bertindak heboh setelah mendapat pengakuan cinta. Apalagi di depan umum.
Cuma, raut wajah Sindi berbeda. Ia terlihat ragu dan tak ada kesenangan di balik wajahnya. Dem yang saat SMA tertarik pada Psikologi sebelum akhirnya terjun ke dunia bisnis atas perintah ayahnya melihat jelas garis muka Sindi. Ada yang disembunyikan. Dari awal ia bertemu Sindi wanita itu selalu penuh keraguan dan kekhawatiran.
"Ah, mungkin hanya perasaanku saja." celetuk Dem tiba-tiba saat Sindi membalas senyuman Marcel.
"Apa sih?" tanya Nana bingung.
"Gak, gak ada." elak Dem.
Dem lalu menggiring mereka masuk ke rumah Om Jo. Berasa rumah sendiri, Dem dengan cekatan menyambut kedatangan mereka dan membuatnya nyaman. Sebelum akhirnya om Jo dan bu Mis turun juga dan melihat putrinya bersama teman yang membuat mereka penasaran.
Nana selalu menyebut nama Sindi saat ia sedang bertelepon ria dengan orang tua nya. Terus memuji betapa pintar, dan cantiknya Sindi.
"Hai.." sapa bu Mis ramah.
__ADS_1
Sindi dibuat takjub sesaat, sampai saat ini setelah ia kenal dengan Nana, tidak ada satu orang pun yang tak ramah padanya. Mereka semua baik.
"Ayo masuk, masuk. Kita makan dulu di dalam." ajak om Jo tak mau kalah kalau soal menjamu tamu.
Sindi digiring ke meja makan untuk menikmati santapan yang sudah disiapkan bu Mis dengan ketulusan hati. Tak lupa ia memerintah seorang ART nya untuk memanggil Dhika di kamarnya.
Deg. Jantung Sindi berpacu cepat ketika nama Dhika tersebut. Tak lama pria itu keluar dari kamarnya. Busana rumahannya tak membuat sosok pria dewasa nya luntur. Justru kelihatan makin segar dan tampak santai.
Mata Dhika menangkap sesuatu yang aneh untuk dipertunjukkan. Gandengan tangan Marcel pada Sindi. Ia melihatnya, dengan tajam. Selama sepuluh detik. Hingga akhirnya Sindi meminta Marcel untuk melepas tangannya.
"Ah, mas Dhik!" seru Dem. "Daritadi gak keluar kamar, giliran makan baru muncul!" sindir Dem.
Dhika menggaruk kepala belakangnya. Sambil berjalan ke arah meja makan.
"Namanya juga capek. Tidur aja lah mumpung gak ada kerjaan."
Dhika menarik kursi yang tepat berpapasan dengan Sindi. Matanya lalu menatap Sindi yang tertunduk malu. Entah apa yang dipikirkan Dhika kala itu.
"Jadi ada berita baik apa, Cel?" tanya nya membuka pembicaraan. Ia tahu Sindi dan Marcel ada sesuatu. Pertanyaan itu dimaksud untuk menyindir seseorang.
Cepat Dhika menoleh ke arah Sindi. Saat mata mereka berpapasan, Sindi kembali menunduk. Dhika kembali fokus ke Marcel. Sambil tersenyum ketir ia memberikan ucapan selamat. "Selamat bro, ditunggu kabar baik selanjutnya!"
"Masih baru bro, jangan bikin Sindi gak nyaman lah!" pinta Marcel yang menggenggam pelan tangan Sindi.
Pergerakan itu dilihat lagi oleh Dhika yang terpaksa memasukkan sebongkah wortel ke mulutnya demi mengusir rasa gugupnya.
***
Sejak itu, Dhika tak pernah terlihat saat ngumpul keluarga. Bahkan ketika rumahnya dipenuhi tamu pun ia tak keluar.
Sampai akhirnya, satu hari yang membuat semua orang dihebohkan dengan kabar baik dari Dhika.
"Ma! Pa!" panggil Dhika keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Ribut yang diakibatkan olehnya memanggil semua orang untuk menuju ke ruang tama dimana Dhika telah menunggu orangtuanya.
"Apa ribut malam-malam gini?" tanya om Jo.
"Di sini malam, tapi di Jerman kan masih siang, Pa." jelasnya cengar-cengir.
"Ha? Maksudnya?" Om Jo bingung. Ya kali malamnya harus diganggu sama berita gak jelas dari anaknya.
Sementara Nana dan Sindi hanya berani mengintip dari lantai dua.
"Pa, beasiswa aku disetujui dan pihak Jerman barusan memberi kabar bahwa sarana dan prasarana selama aku di sana telah siap." girang Dhika sembari memeluk mamanya.
Air mata bu Mis menetes. Hatinya pilu entah harus bahagia atau sedih mendengar berita menggembirakan tersebut.
"Kamu baru aja berada di sini, tapi harus pergi lagi ke negeri orang." imbuh bu Mis menutupi wajah sedihnya karena malu pada sang putra.
"Ma, aku cuma sebentar. Hanya dua tahun dan akan kembali lagi ke sini menemani mama." peluk Dhika menenangkan mamanya.
Sindi yang mendengar dari atas pun merasa runtuh dunianya ketika orang yang ia kejar jauh-jauh ke Tanjungpinang pun harus pergi jauh. Lebih jauh dari sekedar Semarang.
Nana yang ikut bersedih beranjak turun dan menerjang tubuh sang kakak, merengek bak anak kecil yang tak ingin ditinggalkan.
Pemandangan yang menyakitkan mata. Sindi lebih memilih minggat dari sana dan kembali ke kamar. Meratapi dirinya yang harus terpisah lagi dari Dhika. Sang pujaan hati. Iya, dari awal yang Sindi sukai adalah Dhika. Pria dewasa yang ia lihat mampu untuk melindungi dirinya.
Bukan berarti Marcel tak bisa melindungi, hanya sifat labil dan kekanakan yang mungkin dimiliki Marcel muda saat ini bisa saja menghancurkan dirinya kelak.
Minggu depan adalah waktu keberangkatan Dhika. Paspor, koper, dan peralatan yang diperlukan untuk ke Jerman telah disiapkan. Dhika menyibukkan diri untuk mempersiapkan dirinya dan melupakan kehadiran Sindi yang ada di dekatnya.
"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Dhika saat packing sendirian di kamarnya.
Ia merasa ada orang yang memperhatikannya dari balik pintu.
Karena sudah ketahuan, Sindi sedikit ragu untuk masuk ke kamar Dhika.
__ADS_1
"Selamat mas, karena cita-cita mas tercapai." tutur Sindi lembut. Mendesirkan suara hati Dhika yang kesepian.
Sontak ia tutup pintu kamarnya dan membiarkan wanita itu di dalam untuk berbicara secara leluasa.