Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Lamaran


__ADS_3

Tiba-tiba ia jadi teringat ucapan Dem soal kecurigaannya pada Sindi. Awalnya Dem memang mengagumi kecantikan Sindi walau sudah menjadi pacar sahabatnya, tapi semakin lama Dem tampak tak nyaman berada di dekat Sindi. Karena menurut pendapat nya, Sindi seperti memakai topeng saat di depan Marcel.


"Bro, gue bukan maksud mencampuri urusan percintaan lo dan gak ada maksud ganggu nih ya. Cuma kok gue lama-lama lihat Sindi kayak terbebani gitu. Lo apain dia, vangke?" tanya Dem tak terus terang karena tak ingin persahabatan nya rusak karena cewek.


"Terbebani apa? Dia minta ini gue kasih, minta itu juga gue kasih. Bukan ngungkit, tapi semua yang dia minta udah gue turuti. Itu loh sebut beban?" tanya Marcel kembali setelah bangga ia memamerkan jalannya hubungan asmaranya pada Dem.


"Ya mungkin aja, dia minta kos an, lo kasih apartemen. Dia minta sandal, lo kasih berlian. Berlebihan lo mungkin buat dia terbebani." jelas Dem lagi tapi masih ganjal untuk to the point.


"Mungkin, tapi kayaknya enggak sih."


"Atau jangan-jangan dia... Lo sama dia udah..." cerca Dem menebak ke arah yang negatif untuk diceploskan di tempat ramai


"Ish." pukul Marcel ke kepala Dem yang penuh rumput liar. "Gue sayang sama dia dan rencana mau menikahi dia bentar lagi. Jadi sampai saat itu tiba, gue hormati mahkota nya." tutur Marcel membuat terharu Dem.


Seolah ada air mata yang menetes, Dem berpura-pura seperti orang menangis.


"Terharu banget. Kok bisa ada laki-laki kaya kamu sih." sindir Dem.


"Awas ah, jijik."


Alhasil mereka tertawa bersama karena saling menyindir. Walau begitu, tak tega rasanya Dem mengatakan pendapatnya kala itu tentang Sindi.


Pikirannya kembali ke Sindi yang masih ragu untuk membuka suara nya. Matanya menatap gadis itu yakin. Berharap apa yang ia bayangkan bukan lah yang akan dikatakan Sindi.


"Aku... Aku.." kata Sindi terbata-bata. "Aku udah bohong sama kamu." lirih Sindi.

__ADS_1


"Bohong apa babe?" tanya Marcel mulai gusar.


"Aku.. Aku cuma gadis miskin. Aku bukan orang kaya. Orangtua ku di kampung hidup susah dan aku kuliah karena beasiswa. Aku gak pernah tinggal di apartemen C yang elite itu. Aku cuma tinggal di kos-kosan biasa di lingkungan kumuh. Aku..." tangis Sindi pecah dan semakin pecah di setiap kejujuran yang ia katakan.


Bibirnya yang meringis dan hendak mengungkapkan kejujuran lain diterjang lembut oleh bibir Marcel. Berusaha menenangkan Sindi dengan segala kelembutan yang ia berikan.


Sudah berulang kali Sindi rasakan bibir itu. Tapi tak satupun yang buat hatinya bergetar hebat.


"Cukup, aku gak pernah ngorek apapun tentang kamu. Kamu fikir jika kamu ungkapkan itu aku akan mundur?" tanya Marcel. Lalu Sindi menggeleng pelan.


"Kalau begitu, jangan ungkap apapun lagi. Aku janji, aku akan buat kamu lebih nyaman dengan apa yang aku miliki. Karena aku sayang banget sama kamu." tutur Marcel lagi menatap wajah sesnggukan Sindi.


"Tapi.. Hiks.."


"Oke gini aja biar kamu yakin." Marcel berlutut di hadapan Sindi. Meraih tangannya dan menautkan jari jemari mereka. "Kamu mau menikah denganku?" Marcel melamar Sindi. Tanpa cincin, tanpa persiapan.


"Jika kamu menikah denganku, aku janji aku gak akan membuatmu kurang suatu apapun. Milikku akan jadi milikmu. Akan kubuat kamu nyaman dan tenang menjalani hidup denganku." sambung Marcel lagi lebih meyakinkan.


Sebentar Sindi ragu. Tak langsung menjawab ya atau tidak, ia hanya berdehem dalam. Bingung ingin jawab apa. Menikah? Bagaimana dengan satu tahun lagi yang dijanjikan Dhika? Padahal dalam benaknya, jika dalam waktu dua tahun ia tak urung mencintai Marcel, ia akan putuskan pria itu dan beralih ke Dhika. Walau bapak ibu nya pasti akan mengutuk hidupnya.


"Aku harus jawab sekarang?" tanya Sindi lirih.


Marcel bangkit gaya berlutut nya. Tersenyum puas sembari menatap wajah cantik Sindi yang tak ada habisnya.


"Aku tahu, kamu ragu karena orang tua ku kan? Yaudah secepatnya kita temui mereka. Oke?"

__ADS_1


Mau tak mau Sindi mengangguk dulu. Baru ia pikirkan cara untuk keluar dari situasi ini.


Belum sempat berpikir sudah tiba aja waktunya untuk memperkenalkan Sindi ke orang tuanya. Tak hanya jujur pada Marcel, Sindi juga sudah jujur ke Nana. Untungnya respon Nana gak pernah sekalipun mengejek atau menjengkalinya. Nana bahkan menyalahkan dirinya sendiri yang sebodoh itu karena menduga-duga sebelum bertanya.


"Wah." takjub seorang wanita yang hampir paruh baya. (Duh susah ngomongnya. Karena ceritanya emak Marcel masih kelihata cantik.)


Tante Henny yang masih sangat segar dan bugar berbaris bersama ketiga putri dan Pak Marlon di sebelahnya untuk menyambut Sindi.


Sebelumnya Marcel sudah menceritakan soal Sindi dan privasi yang baru saja terungkap. Melihat sambutan itu semakin membuat Sindi kesal. Kesal karena dirinya yang tak bisa mengambil sikap untuk menentukan pilihan nya. Ditambah sambutan keluarga Marcel yang sangat baik. Pak Marlon juga masih sangat baik kala itu. Hangat, bijaksana, dan murah senyum.


"Jadi kapan papa bisa jumpa sama orang tua kamu, sayang?" tanya pak Marlon yang sudah mendeklarasikan diri untuk dipanggil papa oleh calon menantunya. Begitu pula tante Henny.


"Tapi, pa, kampung Sindi pelosok dan rumah Sindi jelek. Sindi malu." ucapnya jujur.


"Sayang, papa sama mama aja gak malu dan gak ragu untuk ke sana. Kenapa kamu malu? Berarti kamu tidak bersyukur pada orang tua yang sudah membesarkan kamu dengan baik sampai sekarang." bujuk tante Henny menambahkan.


Membesarkan dengan baik apanya. Mereka cuma orang tua sialan yang menjual anak perempuan mereka kepada orang kaya dan memerah anak laki-laki mereka. Dimananya Sindi harus bersyukur. Yah, bersyukur juga. Bersyukur karena orang tua Marcel tak mengetahui boroknya keluarga Sindi. Jika mereka tahu, mungkin saat ini juga Sindi bakal didepak dari calon keluarga.


"Iya, ma. Nanti Sindi kabari bapak sama ibu di kampung." Jawab Sindi pasrah.


"Bagus. Duh, senangnya aku pa, bakal punya mantu perempuan." ucap girang tante Henny.


Melihat kebahagiaan di mana-mana membuat hati Sindi menjadi berat tak karuan. Takut mengecewakan tawa orang-orang yang ia jumpai ketika ia mengabarkan berita bahagia ini.


Di tengah kegundahan hatinya, Marcel datang menenangkan. Seperti biasa Marcel menggenggam jari jemari lentik nan panjang milik Sindi sembari tersenyum hangat padanya.

__ADS_1


"Aku senang sekali." bisik Marcel di tengah keriuhan keluarganya. Dibalas senyum ketir oleh Sindi.


__ADS_2