Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Ragu


__ADS_3

Fandi mencari Marcel saat Dem baru saja beranjak dari rumahnya. Ia khawatir, Marcel yang emosi-an itu akan meluluh lantahkan isi di dalam. Sempat berimajinasi bahwa Marcel berniat membakar seisi rumah, Fandi kalang kabut berlari ke tempat Marcel. Namun, yang ia lihat, Marcel ada di dapur, sedang menuangkan segelas air putih. Cukup tenang. Sangat tenang. Ketenangan yang mencurigakan, pikir Fandi.


"Gak masalah?" tanya Fandi pada Marcel.


"Apa?" sentak Marcel kesal.


Fandi menatap intens ekspresi sahabatnya. Tubuh Marcel bergetar. Sesekali ia minum air putih yang ada di meja, padahal ia tak sedang haus. Perilaku itu dapat dibaca oleh Fandi yang berpengalaman menghadapi segala bentuk gerak gerik Marcel.


"Ternyata memang bermasalah." Ucapnya mengangguk pelan, yakin dengan apa yang ia yakini. Ia tahu Marcel gelisah dengan deklarasi Dem barusan yang ingin mendekati Lila. Seseorang yang sepertinya sudah cukup penting di hidup Marcel. "Lo biarkan si Dem?"


"Hm, biarlah. Lila berhak bahagia kan. Lagian gue masih punya Sindi." Jawab lurus Marcel seraya memantikkan koreknya pada sebatang rokok yang sudah bertengger di mulutnya.


Mendengar nama Sindi membuat Fandi frustrasi. Ia menyeka kasar wajahnya. Tak habis fikir pada sahabatnya yang kehilangan akal. Sebenarnya tak cuma Fandi, semua sahabatnya juga merasa kesal karena Marcel yang masih terus mengharapkan Sindi. Padahal sudah jelas-jelas, Sindi yang tak ingin bersama Marcel.


"Kenapa Sindi terus sih? Lo udah ditinggalin bro. Please sadar." sesak Fandi berbicara normal. "Dia gak peduli sama lo, dia gak cinta sama lo. Lo buta?"


"Bukannya cinta itu buta? Lagian gak masalah gue yang cinta sendiri." Jawab Marcel dengan menyedihkan.


Fandi sudah kehilangan kata-kata untuk melawan kebodohan Marcel.


"Oke," sahut Fandi berkacak pinggang. Lalu ia tepuk bahu sahabatnya seraya berkata, "Lakukanlah jika lo yakin. Tapi jangan sampai lo menyesal untuk yang kedua kali."


Fandi melengos pergi. Berasa orang paling keren karena memberikan nasihat percintaan pada yang membutuhkan. Tapi tak sampai di situ, sebagai sahabat ia juga harus melakukan sesuatu untuk si bodoh Marcel.


"Los, ada waktu gak nanti malam? Gue mau ngomong soal Marcel." jelas Fandi pada Carlos yang baru saja mengangkat panggilan teleponnya. "Oke, ketemu di resto Aji aja."


***

__ADS_1


Hujan di malam hari tak membuat Dem gentar untuk menemui Lila. Tujuannya cuma satu, ingin menyatakan perasaannya pada anak itu.


"Kak, hujan-hujan gini ada apa ke sini?" tanya Lila bingung ketika ia membuka pintu dan melihat Dem berbasah ria.


"Ada yang mau aku omongin ke kamu Lil," jawab Dem cengengesan. "Yang lain mana? Kok sepi?" celingukan melihat isi rumah yang tampak tenang dan ditemani oleh hujan.


"Nana sama om belum pulang. Tante lagi istirahat di kamar, gak enak badan." Lila menatap air yang menetes di rambut tebal Dem. "Bentar ya kak, aku mau ambil handuk dulu."


Lila berlari ke arah kamar mandi utama untuk mengambil handuk bersih dan memberikan pada Dem. Dem mengambilnya lalu didiamkan begitu saja. Lila bingung harus apa. Mengapa Dem terdiam dan tak membereskan dirinya? Apa kedinginan?


"Kakak kedinginan, bentar aku bikinin teh panas dulu"


Belum sempat Lila beranjak, Dem keburu menarik lengannya. Langkah Lila kini tercekat. Lalu ia berbalik ke arah Dem lagi.


"Lil," sesak Dem. Kata-kata yang ingin ia ucapkan sudah sampai di pangkal lidah. Dan ia tak bisa lagi menunggu jika tak ingin lupa pada apa yang hendak ia katakan.


"Aku... Aku..." gagap Dem tak mampu mengeluarkan kata lain selain aku.


Lila masih menanti, dengan tatapan yang penuh arti. Pikirannya saat ini lari, tak kepada Dem melainkan Marcel.


"Kamu baik-baik saja? Semua ini tidak apa-apa?" tanya Dem. Dalam hatinya menjerit hebat. Ingin rasanya ia ungkapkan kata-kata 'aku suka kamu, jadi pacarku'. Tapi diurungkan karena bola mata gadis itu bergetar. Terlihat Lila sedang terguncang.


"Hiks..." tangis Lila sambil menunduk ke dada bidang Dem. Ia tak sanggup melihat Dem yang notabene sahabat Marcel ada di depannya.


Dem yang awalnya kelimpungan menerima Lila di dada nya. Namun sesaat ia paham, tangisan itu bukanlah miliknya. Dem menyadari, apa yang ia katakan ini nantinya akan menjadi angan tak sampai. Sebab hati Lila milik sahabatnya.


"Kamu sangat menyukai dia?" tanya Dem lirih. Sekuat mungkin ia untuk tak terlihat kecewa dan sedih.

__ADS_1


Lila mengangguk pelan. "Hah, rasanya ingin aku pukul wajahnya." Dem sebelumnya juga paham, Marcel tak benar-benar merelakan Lila seperti katanya.


"Hah?" kaget Lila saat mendengar kata-kata Dem yang ingin memukul wajah seseorang.


"Oh, bukan kamu, tapi Marcel." jawabnya cepat ketika Lila melotot ke dirinya. "Aku hanya kesal, mengapa ia tak menyadari perasaannya sementara orang lain bahkan melihatnya dengan jelas."


Lila semakin bingung dengan ucapan Dem. Melihat itu pun Dem tersenyum ketir. Buru-buru ia mengatur emosinya kembali untuk kelihatan baik-baik saja di depan Lila. Dan diusapnya kepala Lila bak seorang kakak kepada adiknya.


"Mau aku ceritakan dongeng?" ajak Dem menggoda Lila yang masih bersedih.


"Hm?" tentu saja anak itu bingung. Dan memandang aneh Dem yang menurutnya tak tahu waktu untuk menghibur orang yang sedang sedih.


"Dongeng ini tentang pangeran Marcel dan kisah cintanya." ujar Dem.


Mata Lila yang tadinya sedih, kini memancarkan aura penasaran yang begitu dalam tentang kehidupan masa lalu Marcel.


"Oke, bentar ya." Dem mengambil hp yang sedari tadi di kantong celananya. Sedikit basah karena rembesan air hujan. Lalu dilap nya sedikit layar ponsel itu dengan handuk tadi dan membuka galeri lama yang masih ia simpan.


"Tebak, yang mana Marcel!" ajak Dem mencairkan suasana hati Lila. Ia menunjukkan foto beberapa siswa siswi SMA yang berbaris beserta seorang guru di tengah mereka.


"Ini." tunjuk Lila pada sosok yang tampak seperti Marcel. Tetap ganteng hanya saja kelihatan lebih muda dan bahagia.


"Tepat. Terus ini Nana, dan ini aku." tunjuk Dem ke foto Nana dan dirinya yang juga tampak muda.


Melihat antusias di wajah Lila, membuat Dem semakin semangat untuk menceritakan kisah sahabatnya.


***

__ADS_1


__ADS_2