
Ulang tahun Marcel 2
Marcel mengambil nafas dalam. Lalu tak lupa ia berterima kasih ke teman-teman yang sudah sudi hadir ke acaranya.
"Thanks untuk kalian semua yang sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Di usia yang tua ini, gue harap kalian semua doain yang baik baik aja ya." Candanya di tengah kalimat. "Terima kasih untuk teman-teman gue yang udah nyiapin ini. Untuk staf yang juga sudah membantu. Terutama untuk seseorang yang gak gue harapkan datang tapi sekarang di sini menatap gue, dan lagi ngutuk gue di dalam hatinya."
Seketika orang-orang dibuat sibuk mencari cewek yang dimaksud Marcel.
"Oi guys, guys," panggilnya pada audience yang penasaran dengan sosok tersebut. "Gak usah dicari yang mana, karena dia gak menarik untuk dilihat. Tapi walau gak menarik untuk dilihat, dia begitu menarik untuk mengganggu gue dan pikiran gue. Saat ini pasti dia bingung dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Kok bisa kenal gue, si brengsek, yang menghancurkan hidupnya." Marcel menghela nafas.
"Untuk itu, aku minta maaf secara tulus padamu. Sesungguhnya aku juga bingung dengan diriku. Daripada memberikan harapan yang aku takut tak bisa kutepati, aku memberikan kepada waktu untuk mengubah semua keadaan yang tak mungkin menjadi mungkin untuk kita bersama. Semua kekhawatiranmu, juga menjadi kekhawatiranku. Aku membodohimu, aku yakin kamu sadar hal itu. Tapi kamu gak bisa berbuat apapun karena ketidak kuasaanmu. Ku mohon, maafin aku. Maafin aku."
Semua orang termangu mendengar Marcel. Terlebih yang buat mereka kaget adalah Marcel menunduk ketika meminta maaf kepada seseorang. Pastinya hal itu menjadi topik perbincangan tamu yang ada di sana. Termasuk cewek penggosip tadi.
"Apa Martha datang?"
"Bukannya dia di Bali?"
"Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Tak sanggup mendengar gosip an itu, Lila yang tadi yakin bahwa kata-kata itu untuk dirinya, jadi goyah karena ternyata Martha lah pemilik maaf itu. Ia keluar begitu saja menuju pintu depan. Duduk di sofa lobby dan menangisi kenyataan bahwa Marcel memang berpegang teguh pada ucapannya soal perasaan yang tak boleh saling bertaut.
"Hei Lila," tegur Fandi kepada Lila yang sedang menyendiri di sofa.
Secepat kilat perempuan itu mengusap air mata yang jatuh secara kasar. "Hmm. Kak Fandi?" tanyanya bingung.
Fandi mendekat perlahan, agar tidak membuat perempuan itu merasa tidak nyaman di dekatnya.
__ADS_1
"Kok keluar? Ada masalah apa?"
"Gak ada kak? Mau cari angin aja. Sesak banget di sana." Mengusap air matanya.
Fandi memutar otaknya untuk memulai percakapan yang hati-hati pada Lila.
"Oh iya kok kamu bisa kenal Dem?" gali Fandi terus.
"Ada insiden kecil waktu itu, kak Marcel juga tau ceritanya."
"Oh baguslah, takutnya dia salah paham kan."
"Apanya yang bagus, biarin aja dia salah paham. Cowok jahat gitu."
"Iya memang, jahat banget tuh orang!" seru Fandi.
Tak berkata apapun, Lila memandang Fandi dengan tatapan aneh. Hei, dia temen mu. Sedang menjelekkan di belakangnya? Kata Lila dalam hati.
"Udah jahat, bego lagi, Lil."
"Ya iya bego. Masih menganggap istrinya ada padahal udah ditinggalin kan bego."
"Ha?" sontak Lila kaget.
Melihat ekspresi terkejut Lila menyadarkan Fandi bahwa ia sudah keceplosan membongkar rahasia sang sahabat.
"Njir, dia gak ngomong apa-apa ke kamu soal istrinya?" tanya Fandi disertai deguban jantung yang berlomba dengan aliran deras darahnya.
Lila menggeleng pelan.
"Kemarin Martha juga bilang gitu. Kak Marcel gak cerita apapun soal istrinya ke aku. Dia gak pernah cerita apapun ke aku. Soal Martha, soal Nana, aku, gak pernah. Kalau misalkan dia sesayang itu sama istrinya atau Martha, lepasin aku. Udah itu aja kak." Air mata Lila tumpah ruah lagi. Membuat Fandi panik karena mata yang memandang curiga padanya.
__ADS_1
"Soal pribadi Marcel, kamu bisa tanyakan padanya, Lil. Jangan dengerin orang lain! Pastikan dulu dari dia dan temukan jawabannya."
Tak bisa berlama-lama, Fandi lalu meninggalkan Lila yang masih merutuki dirinya sendiri.
Marcel yang ternyata memandang dari kejauhan langsung memberikan pesan singkat ke Lila setelah Fandi pergi.
"Datang ke kamar!"
Bak perintah presiden, Lila beranjak dari sofa tanpa membalas apapun. Kakinya melangkah lunglai walau hatinya masih lemah karena teriris. Tapi seseorang memanggilnya dari kejauhan.
"Lila!!" panggil Dem.
Lila menoleh dan Dem berlari menuju ke arahnya.
"Kata Fandi kamu gak enak badan?" tanya Dem panik, tapi Lila tak menjawab. "Apa mau pulang aja? Aku anterin ya."
Lila menurut, mengikuti langkah Dem menuju parkiran.
Sementara Marcel yang masih mengawasi dari kejauhan, terbakar amarah karena pemandangan barusan. Entah marah karena Lila membangkang perintahnya, atau marah karena Lila bersama Dem, sahabatnya. Entahlah.
"Nih, gue balikin sepupu lo. Tanpa lecet, tanpa berlama-lama." Canda Dem begitu sampai di depan pintu rumah Nana.
Nana masih kaget, belum ada satu jam mereka pergi, tapi Lila sudah balik.
"Lila gak cocok sama party ala ala Marcel. Jadi gue anterin pulang."
"Kan udah gue bilang."
Tak lupa Lila mengucapkan terima kasih karena perhatian Dem yang memastikan ia sampai dengan selamat.
"Makasih kak Dem." Ucap Lila dengan senyum ketir.
__ADS_1
"Okay, aku balik lagi ya ke sana, yuk Na."
Lila tampak lesu, Nana juga segan menanyakan kenapa. Maka ia biarkan saja anak itu berjalan ke kamarnya dan menenggelamkan dirinya dalam tidur panjangnya.