
"Hai Dem!!" panggil Lea yang sangat bahagia ketika Dem mengirim pesan ke dirinya untuk bertemu berdua. Pasalnya Lea sudah lama mengejar Dem. Tapi Dem menganggapnya sebatas teman.
Di sebuah restoran, Dem telah duduk menunggunya. Tersenyum cerah menyambut wanita itu, membuat jantungnya hampir saja copot.
"Hei.." balas Dem.
"Maaf ya lama.." celetuk Lea menarik kursi di depan Dem.
"Santai. Kamu mau makan apa? Kita pesan ya." ajak Dem dengan ramahnya tanpa ada tindak tanduk yang mencurigakan. Paling tidak sebelum ia mengatakan maksudnya mengajak Lea bertemu.
Dem memberikan waktu untuk wanita itu menikmati makanannya dulu sambil membicarakan lain hal. Barulah setelah itu ia kembali pada tujuannya. Dengan nada serius ia memulai percakapan. "Kamu pasti tau sesuatu tentang Marcel, kan?"
"Soal?" tanya nya balik masih belum nyambung.
"Soal gundik baru Marcel." Tebaknya saja padahal ia belum bisa memastikan yang selama ini terlihat mencurigakan baginya.
Jleb. Makanan yang tadi ditelan Lea berasa akan keluar lagi. Hingga membuatnya terbatuk. Buru-buru ia ambil segelas air putih di meja. Hitung-hitung mengulur waktu untuk memikirkan jawaban yang akan ia beri pada Dem.
"Kok tumben kamu mau tau? Biasa kamu bodo amat sama urusan wanita mereka." Alih Lea.
"Gak sih, aku cuma merasa dibodohin aja. Apalagi akhir-akhir ini Marcel kelihatan galau. Sebagai sahabat, ngeres hatiku jika tak bisa membantunya jika untuk urusan wanita ya." Jawab Dem memelas. Ia tahu Lea lemah padanya.
"Hm... Jadi.." Benar saja. Wanita itu hampir membuka mulut. Apalagi wajah memelas Dem yang sayang banget untuk dilewatkan. "Kamu tau sepupunya Nana? Pernah dengar kan?"
Dem mengangguk pelan. Jantungnya sejenak berhenti berdegub karena maksud Lea yang tertuju pada Lila.
"Jadi Marcel minta bantuan aku untuk menjebak itu anak supaya nempel ke Marcel terus. Katanya sih cuma buat dimainin, eh malah dia galau. Lucu kan Dem?" tanya Lea dengan nada manja. Puas ia memberitahukan pria nya soal apa yang ia tahu.
__ADS_1
Pantas saja. Ternyata memang ada sesuatu antara Lila dan Marcel yang kentara untuk dilihat. Waktu singgah ke klub juga, Lila begitu ngotot ingin masuk ke dalam. Ternyata tujuannya untuk bertemu Marcel.
Dem mengacak belakang rambutnya kesal, ia begitu terlambat menyadari situasi.
"Menjebak?" Tanya Dem lagi setelah ia memperbaiki emosinya di depan Lea agar tak dicurigai.
"Iya, jadi sengaja aku tuh parkirin mobil ku di dekat motor dia. Sesuai dugaan dia gores mobil aku, terus aku bilang harganya 30 juta untuk perbaikan. Aku anjurin buat minjem ke Marcel, dia mau, dan jadilah sekarang."
Ah, tiba-tiba Dem teringat soal Lila yang ketakutan dan sangat merasa bersalah karena sudah menggores mobilnya. Dia membahas soal 30 juta untuk perbaikan. Ternyata Marcel telah memberinya trauma ini.
"Oh iya, aku ada janji sama papa. Kamu pulang sendiri bisa kan?" Dem bergegas ingin menemui Marcel dan membicarakan masalah ini padanya.
"Oke deh." Jawab Lea manyun.
***
Lalu ia mencari ke klub, juga tidak ada. Kecil kemungkinan jika anak itu kembali ke rumah orangtuanya. Satu-satunya tempat yang bisa ia kunjungi adalah rumah Fandi. Ya, Dem langsung gas ke rumah pribadi Fandi.
Benar saja, baru memarkirkan mobilnya di pelataran teras, ia melihat Fandi dan Marcel yang nongkrong santai di kebun anggur milik Fandi.
"Yo, man!" sapa Fandi yang awalnya terkejut melihat mobil Dem masuk ke rumahnya. Tumben pikirnya.
"Gue mo ngomong sama lo!" seru Dem langsung ke Marcel.
Marcel mendongak ke Dem yang masih berdiri di antara kedua sahabatnya itu. Lalu ia mengisyaratkan Fandi untuk meninggalkan mereka berdua.
Dem melihat perubahan drastis pada Marcel. Tampak lesu dan tak sesegar biasanya. Bagai mayat hidup yang dihadapkan pada kematian.
__ADS_1
"Gue dengar dari Lea soal jebakan lo buat Lila!" gas Dem langsung saja karena sudah dirudung emosi.
"Terus?" tanya Marcel acuh.
"Lo kan tau, kita pernah sepakat gak akan mendekati wanita milik sobat sendiri." Jelas Dem pelan.
"Lalu?" tanya Marcel lagi.
"Jika gue tau Lila itu..."
"Silahkan aja. Gue udah gak ada apa-apa sama dia. Gue bosan. Lo bisa dekatin dia sepuasnya." sambar Marcel sebelum Dem selesai dengan kalimatnya.
Dem menatap wajah sahabatnya. "Lo yakin?" Marcel tak berani menjawab. "Kalau lo udah yakin, gue mau nembak Lila."
Serrr. Darah Marcel terjun dari kepala ke kaki begitu ia dengar Dem ingin nembak Lila. Cepat ia menoleh ke Dem dengan tatapan sinis. Tapi bibirnya terkatup. Ingin menghajar Dem, tapi ia sudah memutuskan untuk membuang Lila dari hidupnya.
Akhirnya Dem kesal karena sabahatnya diam saja. Tidak menjawab, ataupun menolak. "Gue gak habis pikir lo pakai dalih balas dendam ke keluarganya karena kesalahan Dika dan Sindi. Lila gak tau apa-apa bro!"
Marcel memejamkan matanya perlahan. Menjatuhkan badannya ke sandaran kursi lalu menatap langit-langit rumah Fandi yang putih bersih. Ia lelah dengan kata-kata itu. Marcel tahu betul apa yang ia niatkan salah karena melampiaskan ke Lila. Tapi perlakuannya selama ini pada Lila juga tulus.
"Apa yang dilakukan Sindi dan Dika biarlah mereka yang menanggung akibatnya. Jangan salahkan orang lain bro." lanjut Dem.
Fandi dari dalam menguping pembicaraan kedua sobatnya. Sekaligus siap sedia jika terjadi baku hantam. Sayang jika rumahnya menjadi korban keganasan dua pria yang memperebutkan wanita.
"Kalau lo dah gak ada hubungan apapun dengan Lila, ijinkan gue maju untuk mendapatkan Lila." ujar Dem mendeklarasikan diri.
"Hm, dia pantas dapat yang baik. Gue tenang kalo lo orangnya!" sahut Marcel sambil beranjak dari kursinya. Ia meninggalkan Dem sendirian di teras. Memilih masuk ke rumah Fandi dan mengurung diri serta meratapi apa yang baru saja ia katakan pada Dem.
__ADS_1
Berusaha keras untuk tidak menyesali perkataannya.