Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Jangan Menyukaiku


__ADS_3

Sabtu pagi ini terlihat berbeda. Jika biasanya tidak ada orang setelah sarapan, kini semua barisan keluarga masih lengkap dan belum ngeloyor kemanapun. Baik Om Jo, Bu Mis, maupun Nana.


"Om, Tante, aku boleh jalan-jalan gak hari ini? Mau menenangkan hati." seru Lila seperti biasanya ke hadapan Om Jo dan Bu Mis yang terlibat percakapan formal di ruang tamu.


"Oh, boleh, boleh sayang. Perlu dianterin Pak Budi?" tanya bu Mis terbata.


"Sendiri aja, tante. Kasihan Pak Budi banyak kerjaan! Pergi ya om, tante."


Setelah ia pamit, barulah penghuni rumah membuka suara.


"Papa khawatir nih, suruh pak Budi awasin dari jauh aja apa ya?" ungkap Om Jo setelah keponakannya pergi.


"Jangan, pa. Nanti ketahuan dia kecewa lagi sama kita." tolak Bu Mis yang tampak tak tenang.


"Kalian sih, kenapa harus membahas lagi masa lalu anak itu. Dia kesini kan supaya melupakan anak brengsek itu, kok malah dikorek lagi."


"Iya maaf, pa. Habis kita bahagia dengar Lila punya pacar yang ternyata cuma teman." Kali ini Nana membantu sang mama menjawab.


"Ceroboh kalian!" damprat Om Jo.


Kini Lila sudah sampai di parkiran hotel Marcel. Berat langkah kakinya untuk masuk karena dirinya masih dipenuhi rasa dongkol. Tapi Marcel yang gak sabaran terus menerus meneleponnya hingga Lila bosan dan hendak mencelupkan hapenya ke lautan.


"Lama banget sih!" omel Marcel saat ia tahu dari satpam depan kalau Lila telah datang.


"Maaf." Jawab Lila gitu aja.


Mereka berdua masuk dan Marcel menggiring Lila ke meja kerjanya dan memberikan beberapa lembar kertas yang bertulis pernyataan hutang piutang.


Lila membaca isi surat tersebut. Di lembaran pertama masih tergolong aman. Hanya berisi jumlah hutang dan nama kedua pihak. Tiba di lembaran kedua kok isinya semacam kontrak.


"Apa ini?" tanya Lila mulai curiga.


"Ya baca aja." Jawab Marcel santai disertai senyuman yang juga mencurigakan.


Lila lantas melanjutkan bacaanya. Hanya saja lama lama kok gerah. Isi kontraknya menguntungkan Marcel banget.


"Oke, kamu pusing. Aku jelaskan intinya ya, cantik. Pertama, kamu gak boleh ngilang gitu aja sebelum aku ijinin menghilang, mengingat aku baru saja kehilangan seorang gundik," sindir Marcel. "Kedua, jangan membahas sesuatu yang tidak perlu untuk dijelaskan karena aku punya privasi."


Marcel kelihatan kualahan menjelaskan rincian isi kontrak itu. Hingga tiba di pasal ketiga yang membuatnya terdiam. "Ketiga, jangan menyukaiku."


"Kenapa?" ceplos Lila karena syarat yang aneh diajukan oleh Marcel.

__ADS_1


"Gak boleh aja. Karena aku masih memiliki istri. Dan hutang kamu akan dihitung lunas, jika patuh dan aku puas dengan mu yang menjalankan tiga syarat ini. Paham ya?"


Gegabah mengambil pena yang tersedia di meja, Lila cepat menandatangani surat itu dan beranjak pergi tanpa pamit.


"Terus kamu mau kemana?" tanya Marcel yang masih sibuk menyimpan kertas ajaibnya.


"Malmingan lah."


"Sama pacarmu?" tanya Marcel kepo.


"Kedua, jangan membahas sesuatu yang gak perlu dijelaskan."


"Itu berlaku untukku, bukan untukmu. Kalila!!!"


Tapi Lila tak bergeming bahkan saat Marcel memanggilnya. Kepalanya masih menelaah syarat yang diajukan Marcel dalam surat barusan. Jangan menyukai? Entah apa yang akan terjadi, hal ini pasti sulit untuk dipenuhi.


"Dimana?" tanya seseorang dari ponsel yang baru diangkat Lila. Itu suara Minnie.


"Di mall, cuci mata."


"Gabung yuk, lama gak ketemu!" ajak Minnie. "Di klub sih. Bisa?"


"Aku share lokasi ya beb. Nanti kasih aja alamatnya sama taxi."


"Nana gak ikut?" tanya Lila.


"Dia lembur beb. Kalau sempat nyusul katanya."


"Oke, otw."


Lila mengunjungi toko pakaian yang ada di mall itu. Berkaca dan memandangi dirinya. Saat itu ia mengenakan pakaian kasual yang biasa ia pakai. Mengeluarkan aura manis dan murni. Lalu ia teringat ejekan Martha yang menyebutnya anak TK.


"Oke, konsep hari ini sexy dan elegan ya." Ujarnya pada diri sendiri.


Serampangan Lila menunjuk sebuah gaun sexy nan minim yang ketat dan menampilkan punggungnnya. Berwarna hitam memikat. Cepat ia mengeluarkan kartu kredit Marcel yang pernah diberikan dulu. Hingga sampailah notif nya ke hape Marcel.


"Tumben dia belanja," gumam Marcel yang awalnya tak peduli. Dalam kurun satu jam, makin banyak tagihan yang muncul di notifnya. Sepatu, salon, tas dan lainnya.


"Mau kemana dia?" kata Marcel masih penasaran.


"Triing.."

__ADS_1


Ada pesan whatsupp masuk ke hape nya di hampir tengah malam. Ternyata dari Carlos.


"Bro tebak gue dimana dan ketemu siapa?"


Ogah-ogahan Marcel membalas chat itu. Lantas dia melakukan video call yang tak berselang lama diangkat Carlos. Rupanya ada di sebuah klub malam.


"Mau pamer lo? Gue tutup!" seru Marcel malas.


"Yakin mau ditutup. Gak mau lihat-lihat dulu?" Carlos menggoda.


"Apa sih bocah? Gue sibuk nih, weekend banyak pelanggan."


"Gue tadi lihat cewek, hot parah. Selera elo banget bro. Mau lihat gak?"


"Gak usah main main lah. Gue kutuk supaya kerjaan lo banyak....."


Masih mengutuk tingkah Carlos yang kurang kerjaan, Marcel dibuat tercengang saat kamera hape Carlos menyoroti seseorang dari kejauhan. Walau gelap yang membahana, tapi Marcel tau orang itu.


"Kalila?" tanyanya pelan.


"Yoiiii bro. Gila gila. Parah, cantiknya gak ngotak."


Sok sok an cuek lah si Marcel. "Terus?"


"Ya terus, karena si nona Kalila yang cantik itu, semua mata cowok cowok di sini menatap dia terus. Ikhlas bro?"


"Biarin lah, gak peduli gue," jawabnya sok santai, padahal kakinya sudah bergetar tak tenang. "Udah awas lo, gue mau kerja!"


Si Carlos tak mendengar apa yang dibilang Marcel. Dia hanya mendengar kata 'tak peduli' dan pengusiran.


"Siapa tuh yang deketin ceweknya Marcel?" heboh Carlos yang sibuk ngobrol dengan temannya di klub.


"Oh si Bryan, Los. Anak Bupati."


"Jiirrr.... Sedap bang....."


Masih asyik memantau percakapan, panggilan video itu dimatikan oleh Carlos. Membuat hati Marcel gundah gulana gusar greget dan sebagainya lah.


"Bryan... Bryan... Bryan..."


Bak mantra yang diucapkan tiga kali, kakinya langsung memiliki kekuatan untuk melangkah. Menyusuri lantai hingga ke parkiran dengan tertatih dan menuju ke tempat yang seharusnya.

__ADS_1


__ADS_2