Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Terjerat


__ADS_3

Saking lelapnya, Lila bangun hampir kesiangan. Memang jam dinding di kamar Herly masih menunjukkan pukul 6.35. Tapi untuk tamu yang tak seharusnya melenggang bebas, jam segitu udah terhitung telat. Dirinya yang buru-buru lalu mandi dan berpakaian rapi lalu turun ke bawah. Benar saja, di pagi buta saja tante Henny sudah terlibat gosip liar dengan anak bungsunya.


"Serius kamu sayang?" antusias keduanya mulai terdengar ketika Lila hendak menyambangi. "Eh Lila, gimana nyenyak gak tidurnya di rumah tante?" Lebih antusias lagi tante Henny ketika melihat Lila yang hadir di tengah gosip-an itu.


"Saking nyenyaknya aku sampai telat tante. Maaf, tante." Sesal Lila sambil melipat ujung blus nya.


Hal kecil yang dilakukannya mampu membuat ibu dan anak itu tertawa kekeh. Bagaimana ada makhluk imut di badan jangkung itu.


"Gak apa-apa, sayang. Sini gabung sama tante. Bentar lagi kita sarapan ya. Bik Imah lagi nyiapin."


Okelah, karena tuan rumah tak berkutit di dapur maka Lila tak perlu repot menyusul ke dapur. Badannya remuk, di telan perjalanan dan dongengan Herly yang memaksanya bergadang.


"Kamu ada rencana hari ini? Mau ke mana? Nanti biar pergi sama Herly atau Hera. Kalau Hesty, udah deh, jangan diharap!" bisik mamanya sendiri dengan nada meledek padahal Hesty baru saja turun dari tangga hendak pergi bekerja.


"Aku sih kemana aja ayo, tante. Soalnya belum pernah kemana-mana juga sih." Jawab Lila sekenanya.


"Cocok, kak. Nanti kita ke mall ya, terus ke alun-alun, pantai, pokoknya semua tempat wajib dikunjungi." celetuk Herly.


Lila tersenyum sumringah. Namun lama kelamaan matanya mulai mencari seseorang.


"Kak Marcel mana ya, tante? Belum bangun?" Akhirnya Lila melepaskan keganjalan di hatinya soal Marcel yang tak kelihatan.


"Oh... Itu.." tante Henny tergagap. Hanya bisa terbata tanpa menjawab pertanyaan Lila. "Dia balik ke Tanjungpinang karena ada hal yang harus diurus di hotel. Kamu gak masalah kan main sama Herly atau Hera dulu, sayang?"


Terperanjat kaget lah Lila mendengarnya. Gimana ceritanya orang yang menariknya ke sini bisa pergi lebih dulu. Tanpa pamit lagi.

__ADS_1


"Oke deh, tante." Jawab Lila dengan senyum kepura-puraan.


Dan sesuai janji, Herly dan Hera sekaligus menemani Lila bermain mengelilingi kota Batam. Mengunjungi tempat yang cukup terkenal dan berfoto bersama di sana. Sejenak Lila lupa akan kekecewaannya pada Marcel yang pergi tanpa permisi itu.


"Lihat aja sampai aku balik, aku bakal ngambek seminggu!" batinnya.


***


Sementara itu, malam hari di kota Tanjungpinang.


"Bro!" sahut Carlos, Fandi bersamaan menyapa ketiga temannya yang sudah ada di lokasi, Klub Tiger pastinya.


Mata Fandi menelusuri sosok yang tak seharusnya ada di sana bersama mereka, justru dengan santai menenggak minuman secara kacau.


"Bukannya lagi di..." celetuk Fandi. Lalu ia mengkode ke Aji dan Dem yang juga bingung. Karena sedari tadi mereka kumpul, Marcel hanya asyik menenggak minuman. Tak tahu apa penyebabnya.


"Halo, Kalila!" sahut Dem antusias yang juga menyita perhatian sohibnya, terutama Marcel yang memandang Dem dengan tatapan sinis.


"Kak, besok bisa jemput aku gak di pelabuhan?" kata Lila di seberang telepon.


"Jemput? Kamu habis dari mana?" Dem menyahuti percakapannya bersama Lila. "Oke, berangkat jam berapa dari sana? Oke nanti aku jemput. Iya. Bye."


Lalu panggilan ditutup bersamaan dengan para sohib yang membuang pandangannya ke segala arah.


Hati Marcel seperti terbakar. Memang ia sengaja mematikan hp nya agar tak dihubungi siapapun. Tapi kenapa harus Dem? Kenapa bukan Om Jhony atau Nana? Ah memikirkannya membuat kesal. Dan untuk melampiaskan kekesalannya, semakin rajin ia menenggak minuman di depannya.

__ADS_1


"Oi bro." panggil Fandi khawatir. "Cukup! Cukup, Cel!" bentak Fandi.


Lalu ia menyeret tubuh Marcel yang sempoyongan. Mengajak ke mobilnya dan berniat mengantar pulang. Dan Dem masih dibuat bingung karena tingkah dua orang itu yang lama-lama semakin aneh. Untungnya Carlos punya alasan untuk menenangkan Dem dari kebingungannya.


"Lo kenapa lagi?" tanya Fandi yang sedang mengemudi. Ia lihat Marcel yang menatap kosong ke arah jendela mobil. Tentu saja, ia tak menjawab pertanyaan Fandi.


"Kalila lagi? Karena tadi dia nelpon Dem?" telisik Fandi. Masih tidak ada jawaban dari Marcel.


"Kalau lo keberatan Lila dekat dengan Dem, lo harus tegas ke Dem. Sama seperti waktu lo menegaskan ke kita kalau Lila milik lo." Nasihat Fandi yang masih disambut dengan keheningan oleh lawan bicaranya.


"Apa perlu gue yang ngomong ke Dem?" Kali ini Fandi berhasil membuat mulut bungkam Marcel bersuara.


"Jangan! Jangan ngomong apapun ke Dem! Jangan!" tunduk Marcel setengah mabuk. Pria itu mulai sempoyongan. Menjatuhkan tubuhnya ke segala arah karena tak sanggup ia kontrol.


Sekali lagi Fandi harus kerepotan menopang tubuh Marcel yang berat hingga ke kamar nya. Sebab temannya itu sudah kehilangan kesadaran. Dibantu oleh dua orang satpam, mereka membopong tubuh Marcel bak kriminal yang baru saja melakukan pembunuhan dan akan membuang mayatnya ke lautan.


"Tolol!" pukul Fandi ke dada Marcel setelah tubuh temannya itu ditidurkan di tempat tidur. "Setiap kali hal yang berhubungan sama Lila pasti gue yang repot kayak gini. Please sobat, kasihani gue. Kalau tenaga masa muda gue terkuras karena harus bopong lo, bisa bisa stamina gue di ranjang juga akan terkuras." Pukulnya lagi. Untung Marcel mabuk, kalau tidak mana berani Fandi melakukan itu.


"Si bodoh ini niat menjebak Lila, malah dia yang terjerat!" Pandang Fandi secara intens melihat wajah Marcel yang sudah mulai berkerut.


Lalu ia pergi meninggalkan sohibnya itu dan kembali ke aktivitasnya semula. Foya-foya lagi di Klub nya Dem. "Yuhu.. Cewek-cewek tunggu Kak Fandi!" sahutnya.


Tak lama Fandi keluar kamar, Marcel terbangun dan duduk sambil menelaah kata-kata Fandi. Benarkah ia sudah terjerat cinta nya Kalila?


Marcel mengacak-acak rambutnya karena ia tak mampu lagi berpikir jernih sebab wanita itu selalu memenuhi kepala nya.

__ADS_1


Dan ia teringat satu hal yang dikatakan sang papa hingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Lila terlebih dahulu, tanpa pamit.


__ADS_2