Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Pengakuan Cinta di Malam Kelulusan


__ADS_3

Flashback:


Di malam kelulusan siswa siswi sekolah menengah atas se-Indonesia. Sama seperti pada umumnya, Marcel dan teman-teman se-kelas nya yang tampak masih muda merayakan kelulusan itu. Dengan mencoret baju dan nongkrong di pantai sembari berbicara soal masa depan mereka.


"Selamat untuk kita yang lulus ke PTN!!" seru Nana yang memang terkenal berisik dan humble sejak SMA.


Yang lain bersorak, mereka mengangkat tinggi-tinggi soda kaleng yang mereka borong sebagai pengganti bir.


"Yang gak lulus gimana?" ucap seorang siswi sedih.


"Ish, masih banyak jalan menuju Roma! Semangat!" sambung Nana menyemangati mereka yang belum lulus ke PTN.


Seketika bibir pantai menjadi tempat bermain anak-anak itu. Mengakhiri kepenatan akan peraturan dan PR sekolah. Sekaligus bentuk kebebasan sebelum masuk ke dunia masyarakat dewasa.


"Lo berdua?" tanya Nana pada Marcel dan Dem yang tak ikut-ikutan bermain di pantai demi menjaga estetika 'cowok ganteng' yang selama hidup disandang mereka.


"Apa?" tanya Marcel culas.


"Terutama lo Cel, kuliah dimana lo?" tunjuk Nana.


"Gue ikut ke mana Dem ikut. Udah gitu aja." jawabnya singkat.


Wajah Nana menunjukkan rasa kesal ke sahabat yang tak bisa diajak ngomong.


"Dia diancam om, kalau gak mau kuliah bakal dinikahkan. Makanya ikut gue ke Singapura." sambung Dem menengahkan, agar Nana tak keburu emosi.


"Awas, ngerepotin Dem!" bisik Nana.


Nana masih melirik Marcel yang diam bak patung memandangi pantai.


"Yaudah, intinya mau kemanapun kita pergi, tetap berjuang dan semangat!!" teriak Nana lagi. Dem menyambut semangat itu.


"Berisik lo ah!" celetuk Marcel.


Tiba-tiba datang seorang cewek yang ikut nimbrung di antara ketiganya. Cewek itu lumayan manis, dan sedikit malu-malu.

__ADS_1


"Kenapa Ri?" tanya Nana pada Sri, siswi terpintar di kelas mereka.


"Hm anu, aku mau ngomong sama Marcel." jelasnya malu-malu.


Sang sahabat yang udah tahu situasi itu bukannya membantu justru menggoda Marcel dengan senyum aneh dan lirikan yang aneh juga.


"Kenapa?" tanya Marcel ketus sambil melototi Dem dan Nana yang masih cekikikan.


"Ini," kasihnya sesuatu ke Marcel. Dibungkus rapi dengan kertas merah muda motif love. Besarnya sekitar ukuran kotak kue tart. "Aku lama mengumpulkan keberanian untuk ngasih ini ke kamu. Aku suka sama kamu."


Oops, tahan. Jangan ketawa. Kompak Dem dan Nana melalui mata mereka. Demi menjaga nama baik Sri, mereka memilih diam.


Bukan sesuatu yang mengagetkan. Sejak sekolah dasar sampe saat itu pun, baik Marcel maupun Dem selalu mendapat pengakuan cinta hampir seminggu sekali. Tapi tak ada yang diterima karena menurut mereka tidak ada tantangannya.


"Hah." hela Marcel. "Gue gak suka lo, gue sukanya Demian." Jawab Marcel. Setiap mendapat pengakuan cinta, jawabannya selalu sama seperti ini. Jadi baik Dem atau Nana tak kaget sama sekali. Harusnya nama baiknya hancur kan karena jawaban Marcel, tapi begitupun masih banyak cewek yang gak menyerah dan bertekad ingin mengubah Marcel ke jalan yang lurus.


Justru Sri lah yang kaget. Tangannya gemetar. Ditambah Dem yang tersenyum penuh arti ke arahnya.


"Sri, lo tuh pintar dan lumayan cantik. Cari cowok yang baik dan kaya pasti bisa. Biarkan aja ho** kayak mereka." ikut Nana menenangkan Sri yang ketakutan karena gemetar.


"Jadi, mending lo gabung sama orang normal yang lain sana!" usir Marcel cetus.


Dengan langkah gontai Sri pun kembali ke teman-temannya dan menceritakan apa yang terjadi. Tak pelak, mereka merutuki Marcel yang bersikap kasar ke temannya.


"Gila gila, cewek pintar kayak Sri aja ditolak. ****** gak tuh?" heboh Nana ke Dem yang daritadi sekuat tenaga menahan tawa.


"Padahal manis juga loh dia." tambah Dem yang akhirnya bisa berhenti dari tawanya.


"Ya lo aja sana sama dia. Kalau dia manis." sentak Marcel kesal karena diolok-olok.


"Kan elo yang ditembak, Marlon!!" balas Dem mengolok nama orang tua. Khas ledekan anak zaman dulu. Nama ayah.


"Diam lo, Burhan!"


"Jangan-jangan lo emang gak suka cewek, Cel?" tebak Nana berbisik hingga membuat kedua cowok itu saling pandang dan bergidik ngerih.

__ADS_1


"Sembarangan lo ah. Gue tuh suka sama cewek yang lebih muda. Paling gak 3-4 tahun lah." tukas Marcel memamerkan keinginannya soal tipe ideal.


"Oh, lebih muda. Sepupu lo aja, Na. Masih SD kan? Kasih dia, kasih dia!" canda Dem.


"Serius, Cel?" tanya Nana geli menahan tawa.


"Ya gak sekecil itu. Ah ****** lo berdua. Malas gue." Marcel lalu pergi bergabung dengan anak cowok lain yang bakar-bakar di dekat pantai.


"Kalau di kampus lo ada yang bening, kasih tau kita ya, Na. Biar ada alasan untuk pulang dari negara orang." tutur Dem yang lalu bangkit juga menyusul Marcel.


"******, gue ditinggal sendiri." Akhirnya Nana juga ikutan enyah dan bergabung ke cewek lain yang sibuk bergosip ria sementara yang cowok bekerja.


***


Akhirnya ketiga sahabat itu berkuliah di tempat yang berbeda. Marcel mengikuti Dem kuliah di Singapura mengambil jurusan bisnis demi menghindari pernikahan yang sebenarnya adalah ancaman dari sang papa. Sementara Nana, melanjutkan kuliah di universitas negeri Jakarta sembari nge kos di rumah om dan tante nya yang ada di Jakarta. Walaupun begitu, komunikasi mereka masih berjalan lancar. Bahkan ketika salah satu sedang stres karena tugas kuliah, yang lain ada untuk menambah kepenatan.


"Marina," panggil dosennya yang merupakan ketua jurusan.


"Iya, pak." sahut Nana sopan.


"Apa ada mahasiswi bernama Sindi Sarastika di stambuk mu?" tanya kajur lagi.


"Iya, pak. Sindi Sarastika kelas reguler A. Kenapa ya, pak?" tanya Nana sopan.


"Coba kamu kunjungi tempat ia tinggal dan tanyakan mengapa sudah dua minggu dia tidak hadir? Kemarin ia mengajukan cuti, tapi sayang, mahasiswi pintar begini harus dibina untuk mengikuti debat mahasiswa tingkat provinsi tahun ini."


Nana menyimak penjelasan dosen dengan seksama. Tanpa mengalihkan sedetik pun pandangan ke tempat lain. Fokus. Fokus pada kerutan di wajah dosen itu.


"Kamu cari aja datanya, terus datangi dia dan ajukan undangan untuk bertemu bapak." sambung dosen itu.


"Baik, pak. Akan saya cari." selaku anggota sekjur (sekretariat jurusan), tugas ini adalah tanggung jawabnya. Apalagi, jika menyangkut mahasiswi berprestasi.


"Apartemen C. Hm.." gumam Nana.


Ia merasa segan, karena apartemen itu terkenal sebagai tempat tinggal kalangan atas. Selebriti, pengusaha, dan politisi mendominasi hunian itu. Berarti Sindi yang akan didatangi termasuk dari tiga kalangan itu. Wah. Membuat jantung Nana berdegub kencang dan melatih kata-kata yang akan ia sampaikan nantinya.

__ADS_1


__ADS_2