
Untungnya, bakat masak memasak ini Lila dapatkan dari usaha cathering sang mama. Jadi untuk urusan masak, sangat mudah baginya. Dia sendiri tidak menyangka, hasil masakan pertamanya di kota orang harus ia suguhkan pada orang asing pula. Karena selama ini tante nya tak memberi izin dia untuk masak dan fokus liburan. Pernah sekali ia berniat untuk memasakkan Marcel, tapi diurungkan begitu melihat Marcel yang lebih suka makan di luar.
Lila segera menyusun sup jamur ke mangkuk besar dan membawanya perlahan ke meja makan, selanjutnya dia juga menyiapkan ayam bakar bawang dan sedikit sambal goreng andalan mamanya. Tak lupa pula perkedel jagung kesukaannya ada di menu makan malam keluarga itu. Setelah itu kebetulan para asisten rumah tangga selesai melakukan tugasnya dan membantu Lila menyusun piring, sendok, dan gelas.
Secara tak langsung semua makanan disiapkan oleh Lila. Sang empunya rumah hanya membantu sekedarnya sambil membicarakan soal perjalanan panjang yang ia tempuh. Apa tak makin takjub tante Henny melihat Lila yang berbakat menjadi wife material.
"Ma!" sapa seorang pria tua dari arah pintu depan. "Wih, banyak banget!" kejutnya setelah melihat berbagai lauk tertata tapi di meja makan.
"Iya pa, ganti baju sana lalu kita makan bareng sama..." putus tante Henny yang sungkan memperkenalkan Lila pada suaminya. Ia tahu suaminya tak akan bisa seramah dirinya dalam memperlakukan orang yang berhubungan dengan Marcel. Apalagi perempuan.
"Oh, dia yang mama cerita-in kemarin?" sinis pak Marlon.
Lila yang mendengar sang kepala keluarga pulang, sejenak berhenti dari kegiatannya. Ia hendak menyapa papa Marcel. Tapi diurungkan karena wajah pria tua itu yang terlihat tidak ingin menyapanya.
Sekejap ia pergi ke kamar tidurnya. Tante Henny yang sungkan, langsung menghibur Lila.
"Maaf ya, sayang. Papa Marcel memang orangnya kaku. Jangan tersinggung, ya!" jelas tante Henny merasa bersalah karena sikap suaminya. "Kamu bisa gak panggil Marcel di kamarnya? Suruh dia turun untuk makan sebelum papanya selesai mandi."
"Oke tante."
__ADS_1
Setelah memberi tahu tata letak kamar Marcel, Lila naik ke lantai dua. Kamar paling pojok sebelah kiri tangga. "Ah, itu!" sahut Lila dan tanpa beban berjalan ke sana.
Ia mengetuk perlahan, tapi tak ada balasan. Lila memutuskan masuk ke kamar Marcel begitu saja. Dan ia melihat Marcel tertidur pulas di kasurnya. Mungkin sudah selama itu ia tak kembali ke rumah dan merindukan kasurnya. Tak segera membangunkan Marcel, Lila justru melihat-lihat isi kamar itu yang dirasanya memiliki kesan berbeda dari suite room yang ada di hotelnya.
Dindingnya berwarna merah muda, dan ditata serapi mungkin. Ada tempat tidur, lemari kayu, rak buku, meja kerja yang di atasnya terjajar foto. Lila mendekati foto itu. Tentu saja semua potret Marcel dengan seseorang yang tiba-tiba membuat hati Lila menjadi resah tak karuan. Seakan-akan matanya ingin mengeluarkan butiran air yang juga ikut menyesak di sana.
"Pantas kamu menyebutnya paling cantik. Ternyata memang dia cantik." ujar Lila lirih ketika ia sadar bahwa Marcel berfoto bersama istri yang selama ini tidak ia ketahui sosoknya. Perempuan yang cantik dan harusnya beruntung mendapatkan cinta Marcel.
"Kamu ngapain?" seseorang memergoki Lila, ia Hesty. Adik Marcel.
"Hm, maaf," ujar Lila lalu bergerak mendekati Marcel dan membangunkannya. "Kak, makan. Pamalih loh petang gini tidur."
"Kak, di sini ada adik kamu," bisik Lila.
Lalu Marcel tersadar dan menoleh ke arah Hesty. Gadis itu cuma menggeleng pelan, baru setelah itu pergi menuju ruang makan. Diikuti Marcel.
"Cuci muka dulu! Gak sopan ketemu orangtua di meja makan mukanya sembab gitu." Kali ini Lila yang memerintah ke Marcel.
"Baik, Kalila sayang!" jawab Marcel malas.
__ADS_1
Baru setelah itu mereka berdua beriringan menuju ke ruang makan. Begitu melihat sosok Lila, Herly begitu heboh ingin agar duduk di sebelahnya. Lila menurut.
Semua anak-anak sudah ada di meja makan. Tinggal menunggu orangtuanya. Ah, tradisi yang sedikit aneh, batin Lila.
Acara makan malam dimulai. Semua akhirnya bisa makan dengan lahap ketika orangtuanya sampai dan menduduki kursi masing-masing.
"Ma, ganti resep apa gimana? Kok enak?" tanya pak Marlon buka suara setelah sedari tadi ia mengerjap-ngerjap kan mata saat menyeruput sup jamur hangat yang kaya akan rasa.
"Enak kan pa? Menu hari ini Lila semua loh yang masak." bangga tante Henny.
"Uhuk." Pak Marlon terbatuk mendengar ucapan istrinya. Gadis itu yang memasak, pikirnya.
Sementara Marcel yang juga sama terkejutnya, memandang Lila dengan tatapan penuh arti. Mungkin sebal karena ia tak pernah tau masakan Lila seenak ini. Menyadari dipandang oleh Marcel, Lila hanya tersenyum pongah sambil mengangkat bahunya.
"Ma, aku juga bantuin di sini." sahut Herly yang tak terima jasa cuci sayur nya tidak digubris oleh mama.
"Oh ya? Kamu masak?" tanya papanya hampir jatuh pingsan.
"Cuci sayur doang, pa." sahut Hera sinis dengan keributan sang adik.
__ADS_1
"Wah, udah bagus itu." Puji Pak Marlon yang sangat menyayangi anak bungsunya itu.