
Marcel terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sakit dan denyut akibat hantaman Aldo. Ditambah tangan Lila yang tak lepas darinya bahkan saat gadis itu tertidur pun tetap menggenggam tangan Marcel.
"Apa dia takut kalau aku akan pergi lagi dari nya?" senyum Marcel menatap Lila yang puas tertidur pada posisi duduk.
"Cengar-cengir lo!" celetuk Nana membuyarkan lamunan Marcel.
Marcel tersadar, bahwa ada Nana di antara mereka. Nana datang tepat setelah rombongan om Rudi pulang. Tapi karena canggung sebab sudah lama mereka tidak berbincang, Marcel memilih tidur daripada harus meladeni obrolan Nana.
"Kenapa lo gak cerita ke gue selama ini soal Sindi?" Nana bersidekap di sofa sambil memperhatikan Marcel yang membelai kepala Lila.
"Buat apa? Toh lo sudah punya penilaian sendiri sebelum diceritain." Jawab Marcel tak mau menatap ke Nana.
"Kalau lo merasa gue sahabat lo, harusnya cerita! Tapi lo cuma cerita ke Dem? Buat gue kayak orang bego lo." imbuh Nana kesal.
Bukannya menjawab, Marcel hanya mendengus tertawa. Sembari menggelengkan kepala seolah bicara 'Apa sih lo?'
"Gue minta maaf." celetuk Nana lagi.
Kata-kata Nana berhasil membuyarkan fokus Marcel dari Lila. Sekejap mereka saling mengunci pandangan sebagai sahabat lama yang baru saja mencetuskan gencatan senjata tanda perdamaian.
"Hm.. Sudahlah. Bukan salah lo. Udah basi. Malas juga ungkit kisah lama." Marcel menjawab sambil tersenyum kikuk.
"Yah, kalau lo gak mau maafin juga gak masalah. Tapi lo harus ngantongin restu gue kalau mau sama dia." tunjuk Nana ke Lila yang masih tidur.
Marcel kembali menatap Lila dan masih membelai kepalanya. Namun belum puas membelai, Lila keburu bangun.
Gadis itu menggeliat. Mungkin punggung nya pegal karena harus tidur menunduk di kasur Marcel. Lalu dia merenggangkan tubuhnya hingga kaus yang ia kenakan naik tak beraturan memperlihatkan perut rata miliknya.
Marcel tersenyum hangat melihat tingkah Lila yang ternyata menggemaskan bila ia lihat. Cepat ia menarik baju itu ke bawah, dan menutupi perutnya.
"Tutup!" perintah Marcel.
Lila kaget melihat Marcel yang sudah sadar dan duduk bersandarkan dinding.
__ADS_1
"Kak, udah sadar? Butuh air? Atau mau makan?" tanya Lila heboh.
"Sudahlah. Seharusnya kamu pulang. Kondisi kamu juga kan gak baik-baik aja." usir Marcel perlahan.
"Gak mau. Aku mau di sini aja." tolak Lila keras kepala.
"Tapi kamu bau. Udah berapa hari coba gak mandi." ledek Marcel menutup hidungnya.
"Nanti kalau mama ke sini bawa baju aku mandi." ucap Lila malu-malu.
"Nah, mandi lo. Gue udah bawa baju, satu set doang tapi." Nana menyerahkan paper bag berisi baju Lila yang ia pilih secara asal.
Dengan sigap Lila melengos ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena malu jika ia bau dan menyakiti hidung Marcel. Marcel tersenyum melihat tingkah Lila yang berlarian di kamar inap.
Senyuman itu tertangkap jelas oleh Nana yang masih bersidekap memandangnya. "Dem sama Carlos lagi di Jerman sekarang." Celetuk Nana langsung membuat senyum Marcel tadi melayang jauh.
Marcel tahu arti kata 'Jerman'. Pasti berhubungan dengan Dhika atau Sindi. "Terus?" tanyanya lempeng. Menutupi rasa gugup dan emosinya di depan Nana sejak kata Jerman disebut.
"Sindi bakal balik."
"Sindi bakal balik." Ucap Nana mengulangi kata-katanya karena yang sebelumnya tak direspon oleh Marcel.
"Terus?" tanya Marcel lagi, kali ini ia tutupi senyuman di balik wajah datarnya.
"Bagaimana dengan dia?" tanya Nana merujuk pada Lila yang sedang ada di kamar mandi.
Sejenak Marcel menoleh ke arah kamar mandi. Mengikuti arah yang ditunjukkan Nana melalui jempol kanannya ke belakang.
"Dari awal gue memang gak ada hubungan yang gimana-gimana sama dia. Dia juga udah gue kasih pengertian kalau gue masih berharap Sindi balik."
Penjelasan Marcel membuat Nana terperanjat dari duduknya. Lalu mendekat ke Marcel dan duduk di sampingnya.
"Gue minta maaf karena kebodohan gue sebagai sahabat lo, Cel. Terkadang terbesit juga di benak gue, kenapa gue ajak Sindi ke lingkungan gue. Kenal dengan lo, kenal dengan mas Dhika. Gue buta waktu itu karena ngira semua baik-baik aja di antara mereka. Dan memang baik-baik aja sampai waktu lo nikah sama Sindi."
__ADS_1
"Intinya?" tanya Marcel tak sabar. Capek mendengar kisah Sindi dan Dhika.
"Gue minta maaf atas nama keluarga gue. Dan Lila, dia tak tahu apa-apa. Gue juga minta maaf mewakili dia." tunduk Nana menahan malu akibat tingkah nya selama ini kepada Marcel.
"Sudahlah. Lo gak salah. Kalila juga gak salah." ucap Marcel menghela nafas panjangnya.
"Gue cuma berharap, lo jangan sakitin sepupu gue." Mohon Nana dengan suara lirih. Tak seperti sebelumnya yang selalu menggunakan nada tinggi setiap berbicara pada Marcel.
"Mana mungkin. Gue cuma pengen dia jauh dari gue supaya dia hidup tenang dan bebas."
"Sudah lah, gak usah dibahas." hardik Marcel jengah. "Lalu, dimana Aldo?" tanya Marcel yang penasaran dari kemarin soal kondisi Aldo.
"Lo tau kan om gue polisi dengan jabatan gila. Nah, Aldo diboyong ke Jakarta untuk dijebloskan ke penjara."
"Jir, padahal gue belum ngasih perhitungan sama dia." sesal Marcel yang tak sempat mengucapkan salam perpisahan.
"Muka dia udah bonyok dihajar om gue. Gak ada tempat buat lo ngasih tanda tangan di mukanya." seloroh Nana yang mulai menghangat bersama sahabat lamanya.
"Lalu pacarnya?"
"Pacarnya juga sebenarnya udah tau perangai kasar Aldo. Bahkan waktu Aldo masih sama Lila, dia udah kenal Aldo. Cuma karena apa sih yang buat Aldo punya nilai plus juga gue gak tau, makanya dia bertahan. Tapi udah ada kejadian ini, mana mungkin sih dia masih mau sama kriminal. Bodoh dia."
Marcel menatap nanar dinding kamar mandi. Hatinya terbesit pada kisah Kalila yang tak kalah menarik dari hidupnya.
Ceklek. Dalam sekejap Lila selesai mandi. Melangkah terburu-buru, dengan rambut dan beberapa kulit yang masih basah.
"Aku masih di sini." Ucap Marcel yang sudah mempelajari sedikit sifat Lila.
Lila nyengir kikuk karena Marcel menjawab kegundahan hatinya. Ia takut jika Marcel kabur lagi dan menghindar darinya. Makanya secepat mungkin ia mandi.
"Keringkan rambutmu!" perintah Marcel yang langsung diikuti oleh Lila. Dengan perasaan tenang Lila mengering kan rambutnya di sofa.
Duduk santai seolah gak peduli pada lingkungan sekitar. Duduk secara asal hingga paha mulus nya terekspos oleh Marcel melalui sela-sela rok mini yang tadi dibawa Nana. Duh, surga yang amat dirindukan, benak Marcel.
__ADS_1
Duh, apa Lila menggodanya lagi? Marcel sih sudah biasa menerima godaan Lila yang semakin liar setiap mereka ketemu, tapi ini ada sepupu nya loh. Baru juga ia baikan sama Nana, masa harus gak enakan lagi karena ulah Lila yang lama-lama kayak ular betina.