Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Hampir Saja


__ADS_3

"Om, tante.." sahut Lila dari pintu masuk.


Sekejap dirinya langsung diterjang banyak pertanyaan dari om dan tantenya.


"Kamu dari mana aja?"


"Kenapa gak kabarin dulu?"


"Kamu tidur dimana?"


"Kamu baik-baik aja kan?"


Pertanyaan itu ditanyakan bergantian oleh Bu Mis dan Om Jo dengan wajah khawatir mereka yang tergores jelas melalui keriputnya. Sementara Nana yang berada di belakang diam saja. Tidak menanyakan apapun dan seperti menuntut Lila untuk memberikan penjelasan.


"Gini om, tante. Kemarin kan aku main sama Minnie di klub Tiger, jadi aku ketemu temen SMP aku dulu. Kami akrab banget tante, jadi segan nolak yaudah aku ikut dia ke rumahnya, berhubung hari juga sudah malam. Soal gak ngabarin itu, hp aku abis batre tante. Aku charge eh jam 3 pagi baru liat om, tante, Nana, Minnie, nelpon aku. Maaf om, tante, udah buat khawatir."


Sedikit lega terlihat dari wajah om Jo yang memiliki lingkaran hitam di matanya karena tidak bisa tidur memikirkan keponakannya.


"Yaudah kalau gitu, tapi lain kali kabarin. Hp low bat kan bisa pinjam hp teman mu itu."


"Iya om, aku gak hapal no hp om sama tante. Nanti aku tulis di note deh."


"Yaudah, kamu udah makan? Makan dulu yuk." Ajak Bu Mis.


Mereka sarapan dengan tenang. Sangking tenangnya, daritadi tidak terdengar suara Nana bahkan sekedar berdehem. Lila tau, sepupunya itu pasti curiga sebab Nana memiliki tingkat kepekaan di atas manusia normal.


"Lil. Sini dulu, gue mau ngomong," panggil Nana di kamarnya sesaat mereka baru saja selesai sarapan.

__ADS_1


Lila menurut, langkahnya berat hendak memasuki kamar eksekutor. Tapi mau gimana lagi, dirinya bahkan gak bisa menghindar.


"Lo beneran nginap di rumah temen SMP lo? Kok gue gak pernah tau lo punya temen di Kepri?" cecar Nana.


"Ada ih, si Mita. Kamu gak kenal deh, lagian itu teman aku waktu di Jakarta, kamu sih udah pindah ke sini duluan," jawab Lila sambil mengeluarkan sedikit buliran keringat.


"Oh gitu.."


Untungnya memang ada yang namanya Mita teman SMP Lila yang bekerja di Kepri, tapi mereka tidak dekat seperti yang Lila katakan pada om Jo. Tampaknya keinginan Lila untuk mencari Mita menjadi gencar. Kali aja Nana menggila dan gak percaya.


"Terus yang anterin lo tadi di depan gerbang siapa?" cerca Nana lagi.


"Hm itu,,, itu.. Mobil temen aku, Na."


"Lil, lo mungkin bisa bohongin orangtua gue, tapi gak untuk gue. Asal lo tau, mobil yang lo tumpangi tadi hanya ada 2 di Tanjungpinang. Satu punya anak Gubernur, satu punya Marcel."


Jlebbb. Kali ini Lila tak bisa mengelak lagi. Penjelasan Nana benar-benar terperinci terlebih ia lebih tahu mobil apa yang digunakan Marcel.


Hampir menangis Lila ketika dirinya tak mampu berdalih. Ingin mengaku, tapi takut membesar masalahnya.


"Iya itu Marcel. Tapi aku ketemu dia di jalan. Karena aku gak tau jalanan sini, aku cuma tau Klub Tiger. Jadi aku naik taxi dan dianterin ke sana. Rencananya abis itu aku mau nelpon kamu untuk minta dijemput. Tapi tiba-tiba kak Marcel datang, dia tau aku sepupu kamu, terus aku ditawarin tumpangan karena katanya searah."


Entah dari mana Lila belajar untuk berbohong. Lidahnya bahkan tidak keluh dan tidak ada kata yang keluar secara tergagap dari bibirnya.


Nana mendengar dengan seksama. Walau ia rasa masih sedikit mengganjal dan banyak pertanyaan di kepalanya, untuk sementara ia putuskan percaya pada sepupunya. Toh memang tadi malam ia pergi dengan Minnie dan Lila memang buta arah.


"Yaudah, kalau begitu. Cuma aku ingetin berkali-kali. Jangan dekatin dia, Lila! Dia sudah punya istri, dia sudah menikah. Aku gak mau kamu kesulitan menghadapi omongan orang-orang yang menuduhmu pelakor. Lagian dia terlalu gak bagus untuk kamu yang baik ini. Oke?"

__ADS_1


"Hm." Jawab Lila tak semangat.


Setelah itu baru Nana memperbolehkan Lila istirahat di kamarnya.


Istri. Menikah. Kenapa itu terus sih? Sesuatu yang tidak ingin Lila ingat saat ini adalah kenyataan Marcel yang sudah menikah. Lagipula ia tak pernah melihat istrinya.


"Aku benci kak Marcel. Jangan menyukaiku dengkulmu itu!" sahut Lila sendiri mengulangi kata-kata Marcel padanya. "Hatiku kenapa kamu yang larang? Terserah aku dong mau suka atau enggak. Jijik banget deh!"


Triiing... Chat Whatsup masuk. Ternyata dari Marcel.


"Gimana? Amankah? Perlu aku turun tangan?"


"Aman sama om tante. Tapi kalau Nana -_-."


"Sudah kuduga sepupu mu itu."


"Lagian kamu kenapa pakai mobil yang mencolok coba nganterin aku kan dia jadi tau."


"Hahaha. Terus dia bilang apa lagi?"


"Kamu khawatir apa kepo sih?"


"Keduanya."


"Dia bilang untuk jauhin kamu karena kamu sudah menikah."


"Okelah."

__ADS_1


"Apanya yang okelah?"


Dan percakapan berakhir tanpa balasan lanjutan dari Marcel.


__ADS_2