
Sudah waktunya untuk Dem dan Marcel kembali ke Singapura. Waktu liburan sudah usai dan rutinitas harian kembali menyapa mereka.
"Tidak masalah. Semua demi masa depan!" tepuk Marcel ke bahu Dem yang lelah rasanya memikirkan kuliah.
Setiap hari Marcel selalu mengirim pesan ke Sindi. Dan syukurnya wanita itu menanggapi semua keluh kesah Marcel terkait hari harinya di kampus. Kadang jika berkenan Sindi juga menceritakan hari hari perkuliahan nya.
Ia juga menceritakan ke Marcel bahwa ia tak lagi ada di rumah om nya Nana karena tidak enak jika terus merepotkan. Dan hal hal yang perlu diceritakan akan Sindi ceritakan.
Hampir satu tahun mereka terlibat komunikasi melalui ponsel. Tak ada perkembangan apapun. Marcel juga tak ingin mengajak wanita itu kencan via telepon karena terkesan tak sopan. Ia menunggu waktu yang tepat untuk bertemu Sindi dan menyatakan langsung bahwa ia menyukai Sindi.
Waktu yang dinanti Marcel tiba. Hari ini ia mendapat kabar dari Nana, kalau Sindi akan ikut bersamanya ke Tanjungpinang untuk liburan akhir semester. Marcel dan Dem yang perkuliahan nya lebih dulu selesai sudah kembali ke Tanjungpinang.
Tanpa mau menunggu, Marcel segera pergi ke bandara untuk menjemput Sindi dan Nana. Ia perhatikan satu per satu orang lewat saat pesawat domestik baru mendarat. Sebelumnya Marcel sudah bertanya jam keberangkatan, makanya ia menerka jam kedatangan pesawat yang ditumpangi Nana.
Tak sulit mencari berlian di atas pasir. Karena sendirinya berlian itu akan memancarkan cahaya nya sendiri. Begitu pula Sindi.
Marcel tergelitik untuk menjahili Sindi yang mungkin sedang menunggu Nana entah ngapain. Ia memutar jalannya hingga berada di balik punggung Sindi. Lalu ia tutup kedua mata perempuan itu dengan tangan lembutnya.
"Aku merindukan mu selama ini. Karena aku sangat menyukai mu." bisik Sindi berceletuk tiba-tiba.
Hati Marcel berdesir. Awlanya dia yang ingin mengatakan itu, tapi justru Sindi lah yang lebih dulu mengatakannya.
Ia lingkarkan tangannya ke pinggang ramping Sindi dan memeluknya dari belakang. Sembari berbisik, "Aku juga rindu kamu dan sangat sangat menyukai kamu."
Deg. Secepat kilat Sindi menoleh ke arah suara. Matanya melotot panik melihat Marcel. Terbata-bata saat berbicara, seperti ada yang tertahan di tenggorokannya.
"Terima kasih sudah menyukaiku." sambut Marcel memeluk Sindi ke dalam pelukannya.
***
__ADS_1
Sebelumnya...
"Penat ya. Liburan yuk!" ajak Nana yang bosan dengan kegiatan perkuliahan.
"Liburan? Penat? Jadi inget kata Marcel, kalau rumah kalian anti penat!" ingat Sindi yang juga bosan. Ia topang dagunya menggunakan tangan kirinya.
Nana langsung bangkit dan antusias begitu tau Sindi tertarik dengan kampung halamannya. "Kamu mau ikut aku ke sana?"
"Boleh," jawab Sindi datar.
"Di sana lagi rame. Marcel Dem baru aja pulang beberapa minggu lalu. Mas Dhika juga lagi nunggu jadwal keberangkatan ke Jerman."
"Mas Dhika di Tanjungpinang?" tanya Sindi mulai menunjukkan antusias nya.
"Iya. Gimana? Kapan kita go?"
"Sekarang juga boleh." Jawab Sindi seenaknya.
Hanya perlu waktu dua hari untuk packing, Sindi sudah bersiap terbang ke Tanjungpinang dan bertemu dengan orang yang selama ini mengganggu hidupnya sejak pertama bertemu.
Kakinya sudah menginjakkan tanah Batam terhitung pesawat yang membawa dirinya dan Nana telah mendarat sempurna.
"Beb, aku lupa barang kita satu kotak lagi. Tunggu ya, aku ambil dulu!" celetuk Nana saat mereka baru saja menyusun koper koper ke atas trolley.
"Ih, pikun mu gak hilang, astaga! Buru!" perintah Sindi.
Nana kembali ke tempat pengambilan barang secepat yang ia bisa. Sementara Sindi, masih menjajal pemandangan sekitar dengan matanya.
"Luar biasa." takjubnya sumringah.
__ADS_1
"Semuanya yang ada di sini luar biasa. Laut, pemandangan... Akhirnya aku bisa melihatnya setelah sekian lama." hela nafas panjang Sindi.
Seseorang dari belakang mendekatinya. Menutup matanya dengan tangannya yang lembut. Sudah pasti, ini orang itu. Batin Sindi. Orang yang selalu mengganggu tidurnya. Mengganggunya belajar. Orang yang seenaknya pergi gitu aja dari hidupnya. Tanpa kabar, tanpa berita.
"Aku merindukanmu selama ini. Karena aku menyukaimu." lirih Sindi berkata hingga membuat matanya menitikkan air mata.
Orang itu lalu memeluknya dari belakang seraya berkata, "Terima kasih sudah menyukaiku."
Deg. Suara ini... Batin Sindi resah. Ia tahu betul suara siapa yang ia dengar ini. Ia menoleh dengan panik. Jantungnya berdegub tak karuan kala pikirannya sudah melayang, jauh dari yang ia harapkan.
Benar. Marcel. Lelaki yang memeluknya saat ini adalah Marcel. Yang menatapnya lekat dan tersenyum hangat padanya saat itu adalah Marcel.
"Aku juga menyukaimu. Sangat." sambung Marcel sembari menangkup wajah Sindi yang terkejut. Lalu ia peluk kembali tubuh Sindi.
Sindi tak bisa menolak. Ia menerima semua perlakuan lembut Marcel.
"Ehem." tegur Nana yang sudah selesai dengan urusannya.
Deheman dari Nana membuat Marcel yang lupa diri melepas pelukannya. Ia tersenyum malu kala Nana melihat tingkah anehnya di depan wanita. Sementara Nana juga tersenyum penuh ledekan.
"Ah, jadi ini yang membuat mu semangat ketika kuajak ke sini, Sin?" pertanyaan Nana berhasil membuat sinyal narsis Marcel menyala. Seantusias itu kah pujaan hatinya untuk bertemu dirinya.
"Gak heran kenapa matamu berbinar saat kubilang dia ada di sini." ucap Nana menggeleng kepala heran sambil menunjuk Marcel. Rasanya ingin ia teriak saat itu juga dan bilang, 'Woi cewek-cewek Kepri yang pernah nolak kalian, lihat si ho** akhirnya punya pacar.' Tapi diurungkan karena memikirkan Sindi. Oke, demi Sindi.
"Jangan buat Sindi gak nyaman!" perintah Marcel setelah ia menangkap sorot mata Nana yang otaknya sudah travelling memikirkan kejahilan saat bertemu Dem.
"Iya, iya." Jawab Nana mencibir.
Sebenarnya Marcel juga kesal. Dari sekian banyak orang kenapa harus makhluk itu dulu yang tau soal hubungannya. Kalau tidak ada Sindi di depannya, mungkin Marcel sudah menjeburkannya ke lautan.
__ADS_1
"Yaudah berangkat lah, orang rumah udah nungguin kami nih," ajak Nana yang matanya udah risih melihat senyuman di antara dua pasangan yang lagi kasmaran itu.