Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
First Time


__ADS_3

Saat sedang menggoyangkan anggota tubuhnya ke dalam Lila, Marcel merasakan ada yang mengalir di dalam sana, tapi bukan berasal dari dirinya. Sebentar ia mengintip apa wanita ini sudah berada di puncaknya atau belum. Sampai akhirnya ia menuntaskan kegiatan itu dan melihat cairan merah seperti darah mengalir dari dalam bersama cairan lainnya.


"Anjir.. Ini pertama kalinya dia," sesal Marcel dalam hati. Pastinya dia shock melihat kejadian barusan. Buru-buru ia meninggalkan tubuh Lila yang masih lemah ke kamar mandi dan merenungi perbuatannya.


Pelan-pelan, Lila bangkit dan mengambil pakaiannya yang berserakan. Perih, rasanya perih. Bagian bawahnya sakit bukan kepalang. Tapi dipaksakannya tubuh itu untuk memakai pakaian dan melilit tubuh yang sudah hina itu paling tidak dengan beberapa lembar pakaian.


"Cekrek." suara pintu yang canggung terdengar di telinga Lila yang baru saja selesai berpakaian.


"Kamu udah mau pergi?" tanya Marcel yang juga canggung saat keluar dari kamar mandi. Dan dijawab anggukkan pelan dari Lila.


"Sebentar!" perintah Marcel. Lalu dia berjalan bebas menuju baju yang berserakan di lantai, mengambil dompet dan mengeluarkan satu buah kartu dari sana lalu memberikan pada Lila. "Ambil ini sebagai kompensasi. Kodenya 223344."


Lila menurut dan mengambil kartu itu. Lalu ia hendak pergi sebelum kata-kata Marcel mampu menghentikan langkah beratnya. "Ini yang terakhir."


"Apa?" tanya Lila yang kaget.


"Jangan bertemu lagi setelah ini. Aku tidak ingin melihatmu. Masalah Lea, udah aku atur. Dan batalkan saja perjanjian kita," ungkap Marcel yang kembali ke kamar mandi.


Lila tak tahu dirinya harus merasa bahagia karena perjanjiannya batal atau justru sedih karena merasa terbuang setelah apa yang sudah dilakukan Marcel barusan. Paling tidak, yang harus ia lakukan sekarang adalah menahan perih dan ke parkiran. Pulang, lalu membersihkan diri yang telah ternoda itu.


Sepanjang hari ia terus muram. Kadangkala ketika tidak ada siapa-siapa ia menangis menyendiri. Sekeras apapun ia tutupi rasa sesak dan takut itu, Nana dan orangtuanya juga tetap tahu ada yang tidak beres dengan dirinya. Sebab wajah sembab nya tak bisa ia sembunyikan.


"Lil, jalan-jalan, yuk!" ajak Nana setelah ia melihat Lila murung.


"Enggak, ah, aku capek. Mau tidur aja," jawabnya yang membuat Nana beserta orangtuanya kebingungan. Pasalnya, Lila yang biasa ceria tiba-tiba berubah jadi kerupuk kesiram air. Melempem gak karuan yang akhirnya justru membuat semua orang tampak khawatir.

__ADS_1


Mereka bertanya satu sama lain dalam pandangan. Tetap tak menemukan jawabannya. Semoga tidak ada yang terjadi, doa Nana dalam hati.


Sementara di sebuah bar malam.


"Wagelaseh, yang baru jalan sama sepupu Nana. Gimana, gimana?" tanya Fandi penasaran.


"Murahan. Sama aja kayak yang lain, cuma butuh duit," jawab Marcel sekenanya sambil menenggak minuman.


"Semurah itu? Bisalah gua pake sehari bro," goda Fandi lagi.


"Sudah gue cap. Mau lo?"


"Anjir, segampang itu?" tanya Fandi menaikkan satu tingkat oktaf pita suaranya.


"Suara lo kampret. Pake toa sekalian."


Marcel lalu memukul kepala Fandi dengan handphone yang ia genggam.


"Pengen apa lo? Pengen gue tonjok muka lo?"


"Ya, jangan.. Tapi, kok bisa lo bawa doi? Terhitung masih beberapa hari nih doi di sini!"


"Yah, namanya juga butuh duit. Kayak gak ngerti cewek model begitu aja lo."


Suara dentuman musik di bar menebarkan aura bahagia. Tapi Marcel selalu terngiang wajah Lila dan matanya yang menangis setiap kali ia membuka mata. Perasaan bersalah benar-benar menyelimuti hatinya.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak percaya pada omongan mereka, ketika aku melihat sendiri bagaimana kamu memperlakukan aku di bandara," kata-kata yang terlontar dari bibir Lila ini selalu mengganggu hari-harinya. Sebab, perempuan itu orang pertama yang menyatakan dirinya baik bahkan sebelum mengenal dirinya secara pribadi.


Sial, sial. Marcel bodoh. Umpatnya terus pada diri sendiri setiap kali wajah Lila berkeliaran di pikirannya.


Dan Lila yang tidak memiliki gairah hidup pun hanya bisa berbaring di atas ranjang sambil memulihkan rasa perih di antara kedua pahanya. Memandangi kartu debit yang diberikan Marcel, ia pun kembali mengingat momen momen menakutkan yang telah ia terima dari Marcel.


Ingin marah, tapi tak ada yang bisa ia lakukan, toh, semua telah terjadi, dan Lila tak lagi perawan. Memang, Marcel memberikan kompensasi yang bisa terhitung besar jumlahnya. Tapi tetap saja, harga diri, dan tubuhnya sudah dibeli dengan seperangkat angka yang tertera di kartu debit tersebut. 


"Hah.." helaan nafas terus menerus yang hanya mampu mengusir kesepian kamarnya kala itu.


Ternyata beberapa pasang mata masih saja memperhatikan gerak gerik Lila yang tak biasa. Mereka pun bingung, sebab Lila tak mau keluar dan tak lagi makan banyak sejak hari ia pulang dengan perenungan.


"Na, kamu tau apa yang terjadi dengan Lila? Mama khawatir nih," ucap Bu Mis yang menghampiri Nana dan papanya yang sedang rapat darurat membahas perubahan tingkah laku Lila.


"Aku juga bingung, Ma. Tiba-tiba dia kayak ayam sakit gitu. Mendem terus di kamar," jawab Nana yang tak kalah khawatirnya.


"Jangan-jangan waktu kamu bawa ke klub waktu itu kali!" tangkap Om Jo mengait-ngaitkan.


"Enggak, Pa. Waktu di diving masih ok ok aja. Malah berbaur dengan baik sama temanku, Pa."


"Sebenarnya kemarin dia itu menelepon mama, bilang mau minjam motor untuk jalan-jalan. Ya aku ijinin aja, takut bosen kan. Nah, abis pulang dari jalan-jalan dia langsung jadi begitu, Pa!" jawab Bu Mis yang akhirnya jujur pada suaminya soal Lila yang meminjam sepeda motor untuk keluar jalan-jalan.


Baik Om Jo dan Nana lalu melemas bersamaan. Keduanya bersandar ke sandaran sofa. Masih tidak mengerti akan situasi yang membuat Lila muram. Beragam spekulasi mereka keluarkan seperti, menabrak orang, atau kecelakaan, atau mungkin dicelakai orang. Tapi semakin mereka mengambil kesimpulan, semakin pula kekhawatiran mereka membesar.


"Pa, jangan ngomong dulu ke Jasmin kalau Lila seperti itu, ya. Takutnya dia juga khawatir di sana. Nanti pelan-pelan coba kita tanya, apa yang terjadi sama dia," pinta Bu Mis.

__ADS_1


"Hmm.." dehem Om Jo secara panik mengingat tabiat adik perempuannya yang bisa berubah menjadi ninja warrior bila anak semata wayangnya disenggol barang se-inchi. Om Jo lebih takut kepada adik perempuannya yang mengamuk, jika tahu terjadi sesuatu pada anaknya. Padahal ia sudah berat hati menitipkan anaknya sendirian menelusuri kota orang. 


__ADS_2