Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Kebohongan Pertama


__ADS_3

Marcel merobek baju mahal yang berdosa itu. Berani sekali memperlihatkan kulit kulit Lila di depan pria hidung belang lainnya. Menelanjangi tubuh Lila dalam sekejap.


"Itu mahal," protesnya.


"Biarin. Udah dari tadi ingin ku bakar baju ini." Jawab Marcel yang saat ini menindih tubuh polos Lila.


"Bukannya seleramu yang begitu? Cewek sexy, dewasa," sindir Lila.


Marcel tertawa geli, membenamkan wajahnya di dada Lila yang tampak manis.


"Jawab dulu!" paksa Lila dan menolak sentuhan lanjutan Marcel.


"Tapi kamu gak sexy, sayang. Menyerahlah mencoba-coba!" tawanya lagi dan kembali menghujani Lila dengan ciuman.


Lila tampak tak puas dengan jawaban Marcel. Dan kodrat Lila untuk terus menuntut jawaban, ia terus menodong Marcel untuk memberi klarifikasi soal makna 'tak sexy' tadi.


"Kalau aku gak sexy, minggir. Cari yang sexy sana!"


"Maaf ya, sudah terlanjur." Goda Marcel terus menerus.


Pembukaan ritual sudah selesai, sekarang waktunya Mister bekerja. Marcel melakukannya dengan lembut. Menikmati tubuh Lila dan menikmati ekspresi Lila yang menggemaskan.


"Kamu itu bukan tipe yang sexy. Itu yang aku tau." Jelas Marcel sembari melakukan kegiatannya. "Jika kamu mau mencari pria lain dan mencoba menjadi nakal, jadilah sexy. Aku akan menenggelamkan mu di lautan."


Lila merasakan sesuatu yang jauh lebih dahsyat saat Marcel menggerakkan seluruh tubuhnya untuk menghancurkan Lila. Hm, wanita itu tumbang. Dalam kenikmatan. Apapun yang dikatakan Marcel saat itu terasa manis di telinganya. Bahkan ia lupa pada waktu. Untuk pertama kalinya ia tidak pulang ke rumah om nya dan membuat khawatir orang-orang.


"Gimana Na? Diangkat?" tanya Bu Mis yang khawatir.

__ADS_1


"Enggak, ma. Bentar aku telepon Minnie dulu."


Nana menelepon Minnie di tengah malam, saat wanita itu sedang tidur di dunianya.


"Ini jam berapa beb? Ganggu ya.." kesal Minnie.


"Beb, kamu tadi sama Lila kan? Kok dia belum pulang?" tanya Nana panik. Minnie yang mendengar juga panik. Matanya otomatis terbuka lebar dan menjelaskan situasinya.


"Dia udah pulang dari jam 11 tadi beb. Katanya tante nyuruh pulang."


"Iya emang, tapi dia belum nyampe sampe sekarang beb."


"Gimana dong?" tangis Minnie. "Lapor polisi?"


"Gak bisa beb. Ini belum 1x24 jam."


"Mama takut dia kenapa-kenapa di jalan, Na."


Tring. Suara hape Nana berbunyi. Ternyata kabar dari Lila. Ia membaca pesan singkat dari Lila yang sedikit membuat kedua orangtuanya tenang.


"Pa, ma, Lila baru ngabarin karena Minnie tadi nelepon dia. Dia tadi ketemu teman SMP nya waktu jalan pulang, jadi nginep di sana. Jadi kita tidur aja dulu ya. Besok baru kita tunggu Lila."


Tenanglah om Jo dan bu Mis. Mereka pun akhirnya bisa tidur tenang karena masih ada kabar dari keponakannya.


Besoknya..


Di pagi hari buta yang masih menyisakan kenangan tadi malam keduanya. Dimana Marcel mencengkram Lila penuh nafsu seolah memberi wanita itu pelajaran soal tubuh dan kulitnya yang hanya boleh dilihat Marcel.

__ADS_1


"Kakak pernah jatuh cinta gak?" celetuk Lila.


Marcel memandangi wajah polos yang baru saja bertanya padanya perihal cinta. Konyol. "Hmmm, gimana ya aku jawabnya.." jawabnya seraya terus menggoda Lila. Memang menggoda wanita itu sangat menyenangkan baginya.


"Ya tinggal jawab pernah atau enggak," celetuk Lila yang sedikit ngambek.


Lalu ia memalingkan tubuhnya yang cuma dibalut selimut dari Marcel. Marcel tahu Lila merajuk. Tangannya kemudian melingkar ke pinggang kecil yang selalu ia peluk. Menghujani bahu Lila dengan ciuman mesra sembari berkata, "Apa pentingnya cinta atau tidak, toh manusia diciptakan berpasangan kan? Gunanya pasangan itu apa? Cuma sebagai pelampiasan nafsu. Kebetulan kamu lah pasanganku."


Marcel merasa lega setelah menjawab pertanyaan itu. Ia lantas tersenyum sumringah, berbeda dengan Lila. Jantungnya berdegub kencang. Bukan karena gugup, melainkan kaget mendengar jawaban yang begitu ringan keluar dari bibir Marcel.


"Tidak ada satupun wanita yang dekat denganmu mampu buat kakak suka atau tergerak gitu?"


"Sampai saat ini tidak. Tapi kalau mister, mungkin ada yang dia sukai," Marcel terus menggoda Lila sembari menciumi punggungnya. Sesekali ia memandang Lila yang merintih menahan hasrat sebagai balasan dari gerakan eksotis yang ia lakukan pada perempuan itu.


Marcel merasa puas melihat ekspresi Lila yang membangkitkan kelelakiannya sekali lagi.


"Kenapa nanya gitu? Kamu jatuh cinta samaku nih ceritanya?" lagi-lagi Marcel menggoda dari balik telinga Lila.


Tapi wanita itu tak menggubris. Dia terdiam dalam pikiran. Lila mati kutu. Pertanyaan simpel yang membuat lidahnya keluh. Raut wajahnya pun murung. Ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi takut kehilangan.


Marcel pun yang melihat diamnya wanita itu kian panik. Tapi ia berusaha untuk menutupi kepanikan itu dan mengatakan sesuatu yang memukul mundur Lila dan hatinya.


"Aku peringatkan, jangan sampai kamu suka sama aku. Kamu sendiri tau alasannya. Jadi buang perasaan kamu itu, Lila."


Tak tahan dengan kata-kata itu, Lila akhirnya buka suara. "Iya, iya, gak akan." Jawabnya kesal.


Marcel hanya tersenyum tipis melihat Lila yang ngambek. "Ayo, ayo, siap siap, aku antar kamu pulang sebelum hotel aku di bom sepupumu!" seru Marcel menggoda Lila untuk bangun sambil menepuk bokong Lila.

__ADS_1


__ADS_2