
Tak menunggu waktu lama, Om Jo yang bersiap untuk tidur, menyempatkan sejenak waktunya demi mengunjungi keponakan tercinta. Karena pada dasarnya memang setelah hari penyambutan kedatangan Lila, mereka tidak terlibat obrolan yang intens. Bagaimana tidak, pagi-pagi sekali om Jo sudah berangkat kerja, bertemu pun cuma untuk sarapan sebentar.
"Lila.." panggilnya lalu mengetuk pintu kamar keponakannya.
Tidak ada jawaban dari kamar Lila. Tapi suara gaduh terdengar. Gadis itu baru saja menuruni ranjangnya dan melangkah ke pintu untuk membuka pintu dan menyapa paman nya.
"Boleh om masuk sebentar, Lil?" tanya Om Jo. Lalu diiyakan Lila. Mereka berdua masuk berbarengan. Lila kembali duduk di ranjang sementara Om Jo duduk di single sofa yang ada di sudut ruangan.
"Kenapa om?" tanya Lila lebih dulu.
"Om cuma mau lihat keadaan kamu. Gimana? Enak gak di sini? Betah?" tanya Om Jo pelan-pelan mengulik.
"Betah kok om. Om sama tante kan ngasih aku makan terus," tak lupa ia menjawab sambil bercanda.
"Lalu kalau memang betah, kenapa kamu murung terus? Ada masalah?" tanya Om Jo kembali secara hati-hati.
"Enggak apa-apa kok, om. Aku cuma lagi lelah dan gak fit aja. Kan om tau, aku suka sakit-sakitan. Hehehe," candanya lagi dengan tawa yang tak geli.
"Kamu sakit? Om telpon mama ya, biar dia ngasih tau apa obat yang biasa kamu konsumsi," Om Jo mulai panik dan hendak bangkit mengambil ponsel miliknya yang entah dimana ia letakkan.
"Jangan, om! Kalau om telepon mama bisa heboh. Om tau sendiri gimana mama. Bisa-bisa dia terbang ke sini, malam ini juga."
Setelah menimbang perkataan Lila, Om Jo membenarkan kelakuan adik perempuannya. Lalu mengurungkan niat untuk menelepon adiknya.
__ADS_1
"Yaudah kalau kamu cuma kecapekan, tapi kalau misalnya kamu ada masalah, jangan sungkan cerita sama om, tante, Nana juga ada buat belain kamu. Jangan dipendam sendiri. Kalau kamu bisa selesaikan, coba selesaikan. Kalau gak bisa, ingat buat kasih tau om. Ya?" pesan Om Jo sebelum ia keluar dari kamar Lila dan kembali membiarkan gadis itu istirahat.
Walau sebenarnya hati Om Jo sedikit tidak enak perihal ini, entah Lila sedang menyembunyikan sesuatu, atau anak itu memang sedang sakit.
"Selamat pagi!!" sapa Lila dengan ceria yang baru saja selesai mandi lalu turun ke dapur saat Bik Nah dan Bu Misha masak untuk sarapan orang rumah.
"Pagi!!!" sambut Bu Mis juga tak kalah ceria nya. "Kamu udah baikan, sayang?"
Lila mengangguk pelan tanda mengiyakan pertanyaan Bu Mis. Tak lupa senyum cerah tetpantul dari sudut bibirnya.
"Syukurlah, tante dan semua orang khawatir banget saat dengar kamu sakit. Sekarang kamu kok udah bangun? Ini masih pagi loh."
"Bantuin masak, tante. Udah capek tiduran terus di tempat tidur, saatnya badanku bergerak, tante. Udah kaku banget nih," candanya sambil menggerak gerakkan pundaknya.
"Halah, yaudah sini. Kamu kupas kupas kentang sama wortel ya. Tante mau buat sup ayam jamur."
Lila mengambil pisau dan menguliti kentang yang sudah tersedia di meja. Wajah ceria yang tadi ia tunjukkan, kembali ditekuk saat tidak ada yang memperhatikan. Ya, wajah ceria itu hanya topeng, agar semua orang di rumah ini tidak khawatir dan terus menanyakan apa yang terjadi. Sebab setiap ada pertanyaan 'kamu kenapa?', pikiran Lila langsung terbayang pada kejadian yang menghilangkan keperawanannya. Tanpa sadar, air matanya hampir saja keluar. Buru-buru ia usap matanya.
Sarapan telah usai, dan suasana kembali seperti biasa, dimana ia sendirian di rumah. Lagi dan lagi Lila merenung. Namun kali ini ia mengunci pintu kamarnya. Agar sekiranya Bik Nah yang sibuk mondar mandir tidak mengadukan apapun ke tuan rumah.
Dan Lila masih setia untuk berbaring di ranjang sembari melihat kartu pemberian Marcel yang selalu ia pegang. Kepalanya buntu, tidak menemukan satu pun solusi untuk bisa terbebas dari situasi tersebut. Masalahnya bukan ada di jumlah uang, tapi resiko dari pilihan yang sudah dia ambil.
Kan tidak mungkin Lila mengadu bahwa ia telah diperkosa Marcel kepada keluarganya, lalu menuntut agar Marcel bertanggung jawab. Padahal semua orang tau, Marcel pria yang telah berumah tangga. Sekali lagi dia menangis. Menenggelamkan wajahnya di bawah bantal agar suara rintihan tangis kesakitan itu tak terdengar dari segala penjuru.
__ADS_1
"Non," ketuk Bik Nah ke pintu kamar Lila yang sepertinya masih paham dengan kegundahan gadis itu.
"Iya, Bi."
Lila menyibakkan bantal yang sudah basah itu dan mengambil tisu untuk mengusap air matanya. Pura-pura memasang masker wajah instan untuk menutupi wajah sembab nya. Barulah ia membuka pintu kamarnya dan menyambut Bik Nah yang tak tahu mau ngapain.
"Non, saya masih kepikiran sama non Lila. Non Lila mau jalan-jalan ke tempat yang tenang? Biar dianterin Pak Budi."
Lama Lila menjawab, namun karena kesopanan ia menerima tawaran itu. Lagipula ia juga perlu menenangkan diri.
Dia meminta waktu sejenak untuk membasuh wajahnya dan mengganti pakaian. Setelah itu Lila melenggang ke pintu depan dan melihat Pak Budi yang sudah stay di depan mobil rush hitam, milik Om Jo.
"Mari, Pak!" seru Lila tak sabar dengan wajah senyum sumringah pada orangtua itu.
Pak Budi mengemudikan mobil ke manapun yang ia kehendaki sambil menceritakan apapun yang ia temukan selama perjalanan. Tapi tak ada satupun yang masuk ke telinga Lila karena gadis itu memikirkan hal yang lain.
"Sudah siang, Non. Mau makan siang dulu? Tanggung kalau kita pulang, Non," kata Pak Budi setelah ia capek cuap-cuap.
"Oke, Pak," jawab Lila semangat.
Dan pak Budi membelokkan mobil ke sebuah cafe yang sangat dekat dengan laut. Sambil makan, juga bisa menikmati pemandangan laut yang beriak damai.
"Wah, selera Bapak." sindir Lila yang takjub saat orangtua itu mengetahui tempat yang digandrungi anak muda.
__ADS_1
"Saya sering mengantar non Nana ke sini, non. Jadi tau. Silahkan masuk, non. Bapak nunggu di warung kopi depan sambil main catur sama yang seumuran bapak. Nanti kalau Non Lila udah selesai, telepon aja, non."
Lila mengangguk dan masuk ke cafe.