Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Namanya Lila


__ADS_3

"Jadi, namanya Lila?" tanya Marcel dalam hati sambil mengamati pergerakan Lila yang asyik mengobrol dengan Nana and the ceweks.


Di saat pengamatan itu, muncul seorang perempuan cantik nan sexy ke antara laki-laki haus belaian itu. "Hai, Cel," sapa perempuan itu yang mengakibatkan kecemburuan dari makhluk lainnya di sana karena ia cuma menyapa Marcel.


"Halo, tante, kita orang bukan sih?" protes Fandi karena merasa diabaikan dan disetujui oleh Carlos dan Aji yang juga sama kesalnya karena pengabaian tersebut.


"Apa sih? Cuma Marcel sama Demian yang enak dipandang di kumpulan ini. Btw, mana dia?"


"Absen. Disidak bos besar karena ketahuan foya-foyain duit hasil keuntungan bisnis," jawab Aji.


"Ah,,, sayang banget. Kalau Marcel gak di sini, kalian pasti terlihat seperti kutu. Yakin deh."  Perempuan itu mengelendot manja dan menempelkan dadanya ke punggung Marcel. Sementara pria itu masih sibuk mengamati Lila.


"Kamu lagi liatin dia?" tanya Lea yang tahu kemana arah mata Marcel ke sosok asing yang baru ia lihat pertama kali di tempat itu. "Kenapa sih semua orang melihat dan menanyakan dia terus?" keluh perempuan itu dengan nada iri. Biasa, perempuan.


"Ya namanya barang baru, pasti dilirik," celetuk Fandi barbar yang membuat wajah Lea menjadi semakin tak senang akan kehadiran Lila.


"Le, usaha lo lagi butuh investor kan?" celetuk Marcel tiba-tiba mengagetkan Lea. "Kalau butuh, gue bisa beri beberapa, tapi lo harus bantu gue."


"Bantu apa, Cel?" Lea menanyakan penuh harap di wajahnya. Tampak ia senang mendengar kabar tersebut.


"Jebak dia dan tuntun ke gue. Gue kasih berapapun yang lo minta," ujar Marcel penuh keyakinan yang membuat mata para sahabat terbelalak termasuk Lea.


Setelah mendeklarasikan kalimat perjanjian, Marcel beranjak pergi ke arah lantai dansa dan menari penuh semangat bersama perempuan-perempuan yang tak kalah aduhai yang siap menerima kedatangannya penuh suka cita. Gelora di dadanya bergejolak. Tak tahu apa yang ia rencanakan, tapi itu mungkin menyenangkan baginya.

__ADS_1


"Lihat, lihat, kelakuannya. Najis gak sih?" Nana kembali heboh saat melihat Marcel menari di kelilingi perempuan yang sengaja menari dengan sensual untuk menarik perhatiannya.


"Malam ini siapa lagi yang dia bawa pulang?" sahut Minnie menimpali.


"Gak lihat Lea sudah mengirim signal? Walaupun dia mati-matian ngejar Demian tapi tetap aja gatel ke Marcel," timpal yang lain.


"Perempuan-perempuan itu harus puas bahkan hanya harus menari dengannya."


Lila yang tak tertarik lagi pada Marcel yang sudah menikah, secepat kilat mengalihkan pandangannya ke arah lain sesaat ia melihat tingkah nakal Marcel. Cuma, dia mendapati sepupunya yang tetap memandang Marcel penuh kebencian. Hal itu bisa ia rasakan dari sorot mata pembunuh milik Nana. Sesaat Lila merasa takut menyadari hal itu.


"Beneran, sepertinya memang harus menjauhi orang bernama Marcel itu." ujar Lila dalam hati.


Tanpa mereka sadari, jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.15. Artinya, kegiatan itu sudah seharusnya berakhir bagi orang baik-baik yang datang cuma sekedar ngumpul dan saling menyapa. Tapi untuk orang seperti Marcel, masih terlalu sore untuk pulang. Lagi pula tidak ada tanda lelah di wajahnya walau dia sudah menari secara gila barusan.


"Oke deh, sampai jumpa lagi, Lil." Jawab mereka secara ramah walau sebenarnya menyayangkan kepergian Lila yang memiliki jiwa gampang berbaur.


Nana menarik tangan Lila dan membawanya pergi dari kerumunan itu. Dan entah kenapa, mata Lila menuju arah Marcel yang lagi beristirahat ke tempatnya semula sekedar untuk minum. Laki-laki itu pun memandangi kepergian Lila dari balik gelas yang sedang ia tenggak airnya. Mata mereka bertemu, dan mereka menyadari hal itu masing-masing. Seutas senyum tersimpul di bibir Marcel. Hanya dia lah yang paham arti senyuman itu.


Senyuman itu terus terngiang di kepala Lila bahkan ketika mereka sudah berada di perjalanan pulang. Apa yang ia dengar dari bibir Nana pun tak lagi tersaring sempurna. Semua dipenuhi sosok misterius yang berhasil menarik perhatiannya.


"Wajah dan senyum itu tak asing bagiku. Tapi ketemu dimana coba makhluk sempurna begitu?" Lila terus menerus bertanya di dalam hatinya. Begitu mengganjal dan gatal untuk mengerti arti tatapan Marcel padanya.


Jauhi, berbahaya, sudah menikah. Tiga kata sakti yang lalu ia gunakan untuk mengusir bayangan Marcel dari pikirannya.

__ADS_1


"Gila!" sahut Lila tiba-tiba, Nana yang menyetir pun dibuat kaget dengan kata-kata yang tak tahu diperuntukkan ke siapa.


"Aku, gila?"


"Gak, kok. Cuma lagi mikirin teman-teman klub mu."


"Yah begitulah, mereka tadi itu teman dekat aku di klub. Yang lain, malas untuk akrab. Karena ada yang cuma tebar pesona, genit, sok kaya, sok cantik, segala macam lah. Nah, sama Minnie dan yang lain itu kita memang sevisi. Diving itu benar-benar kebutuhan kita, bukan sekedar gaya."


"Oh, makanya aku bilang gila," sahut Lila tertawa kecil. "Oh iya, tadi aku sempat takut ke kamu."


"Ha? Ke aku?" tanya Nana gak kalah kagetnya dari celetukan Lila tadi.


"Iya, waktu kamu memandangi orang yang bernama Marcel tadi. Mata kamu kayak mengeluarkan api gitu. Serius, aku takut banget," seru Lila yang tak ditanggapi oleh Nana. "Memangnya kamu ada dendam tersendiri ke orang itu?"


"Dendam sih enggak, tapi yang aku tau, dia itu si berengsek yang sudah menghancurkan hidup orang lain," jawab Nana dengan nada yang tidak enak didengar.


"Hidup orang lain? Kamu?" tanya Lila kembali.


"Enggak sih, orang lain lagi. Intinya dia itu berengsek, udah. Makanya aku peringatkan, jangan dekat-dekat dia. Kalau ketemu di jalan, kabur aja. Jangan terlibat apapun sama dia. Ok?"


"Penasaran sih, tapi gak berani nanya lanjut," keluh Lila seolah menyindir mood Nana yang seketika memudar saat nama Marcel disebut.


"Siap, bos!" seru Lila bak melakukan gerak penghormatan pada pembina upacara. Walau sebenarnya dia tidak mengerti apa yang terjadi di sini, tapi untuk sementara mari percaya pada sepupunya dulu. Jika ia bilang untuk jauhi laki-laki itu, maka harus dijauhi. Pasti ada alasannya.

__ADS_1


__ADS_2