Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Sindi Sarastika


__ADS_3

Setelah kelas terakhir, Nana berniat mengunjungi apartemen C demi menjumpai Sindi. Bermodal alamat dan sepeda motor, ia tancapkan gas ke sana.


"Anjir, ini nih hunian orang kaya. Cel, lo perlu investasi ke sini nih." gumamnya berdecak kagum memandangi gedung apartemen yang hampir mencakar langit.


"Btw, nomor kamarnya berapa deh?" lemas nya saat ia sadar hanya alamat yang ia bawa. Tanpa nomor kamar, foto, atau sebagainya.


Walaupun ia pernah melihat sekilas Sindi Sarastika yang terkenal se kampus karena kecantikan yang luar biasa. Bahkan Nana sempat mengagumi mahasiswi cantik yang menjadi bulan-bulanan senior cewek karena berhasil mencuri perhatian semua mahasiswa laki-laki.


"Udah cantik, kaya, pintar lagi. Nikmat mana yang didustakan?" gumamnya terus menerus.


Nana mulai berkeliling mencari Sindi, menanyakan ke bagian informasi dan hasilnya nihil.


"Tidak ada yang bernama Sindi Sarastika di sini, mbak." jawab orang itu setelah mencari berkas para penghuni apartemen.


"Ah, apa mungkin menyewa di sini ya, pak?" tanya Nana lagi.


"Kemungkinan, tapi gak ada sih mbak yang begitu. Kalau hunian ini disewakan, akan ada pemberitahuan yang sampai ke forum kami."


Nana melajukan sepeda motornya kembali ke jalanan. Tak tahu mau kemana. Dan tak mungkin juga kembali ke kampus sebelum ia menemukan keberadaan Sindi dan mendengar alasan ia absen sudah hampir dua minggu.


Saat tiba di daerah kumuh yang ada di Jakarta, mata Nana menangkap sosok yang ia kenal. Seorang wanita berdiri di dekat halte sambil ditemani pria pria aneh dengan segala tindak tanduknya. Bahkan seorang di antara pria itu mendekat ke belakang Sindi dan menempelkan bagian tubuh depannya.


Cepat-cepat ia mengerem mendadak dan menghentikan motornya tepat di depan pria yang hendak berbuat asusila tadi.


"Gue laporin polisi lo ya!! Om gue Kapolsek di daerah sini! Bajin*** lo!" teriak Nana yang menarik perhatian semua orang di sana.


Banyak dari wanita yang mengamini karena mereka juga korban dari pria cabul itu sebelum datang Sindi. Sindi pun yang merupakan korban sontak kaget saat tubuh pria itu hanya berjarak 5 cm darinya.


"Arrrgggg." teriaknya pula.

__ADS_1


Bak pahlawan tanpa tanda jasa, Nana loncat dari motornya dan menyambangi orang cabul yang sedang panik itu. Gimana gak panik, suasana halte ramai, dan dia tak punya akses untuk kabur. Untungnya, orang lain yang ada di sana pada baik dan menghalangi jalan si cabul itu.


"Om, ada orang cabul di halte dekat apartemen C. Kirim orang, tangkap dia!!" seru Nana di telepon hendak membuktikan perkataan soal om nya yang seorang Kapolsek.


Benar saja, 10 menit berhasil dilumpuhkan pria pria kuat yang juga berlagak pahlawan, cabul itu berhasil dibekuk karena om Rudi alias papa Kalila sendiri yang turun tangan bersama dua anggotanya.


"Makasih banyak," tutur Sindi yang merasa lega.


"Gak masalah." Jawaban santai Nana. Lalu ia melirik Sindi dengan seksama dan berkali-kali mengagumi keindahan yang ada di depannya. Elegan dan anggun.


Puas memandangi, Nana akhirnya sadar akan tujuannya bertemu Sindi. Takut lupa dan Sindi keburu pergi, Nana dengan sopan memperkenalkan diri.


"Oh iya, apa kamu Sindi Sarastika mahasiswi jurusan ilmu politik universitas A?"


Wajah Sindi kaget. Matanya tak lagi menatap Nana dengan berani. Justru ia lebih sering menundukkan kepalanya.


"Iya, ada apa ya?"


"Ada apa ya?"


"Kita ke cafe aja yuk. Gak enak bicara di sini, banyak orang yang ngeliat kamu terus." canda Nana sok akrab.


Sindi menurut dan ia duduk di boncengan motor Nana. Mereka berkendara ke cafe terdekat dan memesan sesuatu lalu membicarakan maksud Nana mencarinya.


"Kamu udah dua minggu gak hadir, jadi sebagai mahasiswi dengan segudang prestasi, semua dosen cariin kamu tuh." jelas Nana perlahan.


Sindi semakin menunduk dalam. "Ada sesuatu yang susah buat dijelaskan." tandasnya.


"Ah," pasrah Nana. "Terus, Kajur memintamu untuk ikut berpartisipasi dalam debat tingkat provinsi bersamaku. Kamu bisa?" tanya Nana hati-hati.

__ADS_1


"Hm..." Sindi berdehem.


"Apa ada sesuatu? Jika ada masalah soal kuliah, katakan saja, nanti akan aku ajukan ke kajur." tutur Nana.


Mata Sindi terbelalak. Ia tak menyangka Nana orang yang blak-blakan.


"Tidak ada masalah kok. Yaudah, besok aku datang kuliah."


"Oke, besok aku jemput ya. Di aparte..." Nana ragu untuk menyebut apartemen C, sementara ia sudah ke sana bertemu bagian informasi dan tak menemui penghuni bernama Sindi.


"Oh, sebenarnya bukan di apartemen C nya, aku di apartemen D. Karena waktu itu lagi masa pembangunan dan aku gak tau alamatnya, aku buat aja C." jelas Sindi.


"I..iya.. Aku jemput di apartemen D ya." Nana merasa canggung, sebab ia tak menanyakan apapun soal hunian Sindi, tapi anak itu justru menjelaskan.


***


Keputusan Kajur tidak dapat diganggu gugat. Sindi telah hadir esoknya dan berbicara soal keikutsertaan Sindi dan Nana mengikuti debat politik mewakili fisipol kampus A.


"Gimana?" tanya Nana yang tak tenang menunggu di luar ruang Kajur.


"Gak bisa diganggu gugat. Fix." Jawab Sindi yang lemas karena mendengar ocehan Kajur yang tak ada habisnya.


"Yaudah lah, mari bekerja sama, teman!" seru Nana menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Sindi menyambut uluran tangan Nana. Sejak saat itu mereka selalu berdua dan tambah dekat. Berdiskusi setiap saat dan belajar bersama. Bahkan Sindi juga sering ke rumah om Nana yang katanya kapolsek itu.


"Ih, serem ah. Om kamu kan kapolsek. Aku takut sama polisi!" panik Sindi berdalih saat mereka sudah tiba di teras rumah mewah milik om nya Nana.


"Emang kamu DPO apa sampe takut sama polisi. Udah ayuk masuk. Om ku baik loh, tante ku juga." Nana menarik tangan Sindi. Memang Nana ini punya sifat memaksa ya. Semua orang ditarikin kayak kambing. -_-

__ADS_1


Dengan berat hati, Sindi ikut di belakang Nana.


__ADS_2