Terjerat Cinta Kalila

Terjerat Cinta Kalila
Martha


__ADS_3

Pagi itu Marcel terlihat begitu sibuk karena pekerjaan yang menumpuk sekian lama. Ditambah ada klien yang harus ia temui dan membahas sesuatu yang penting.


Masih terlalu awal bagi Lila untuk mengerti situasi ini, sebab ia tak paham untuk memberikan bantuan yang seperti apa pada Marcel. Dan syukurnya Marcel tak merasa terganggu dengan kehadiran Lila yang hanya diam saja memandangi dirinya mondar mandir tak karuan.


Tiba-tiba seseorang masuk ke kamar Marcel. Ketiganya tertegun. Terutama Lila yang melihat orang itu adalah Martha. Seseorang yang selama ini ia tahu selalu berada di samping Marcel.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Martha lalu duduk di sofa sambil memandangi Lila.


"Iya nih, ada yang mau aku urus sama klien," jawab Marcel yang sibuk kembali membereskan berkas-berkasnya di atas meja.


"Ooh," Martha lalu memalingkan kembali matanya ke arah Lila. Tentu saja, Lila menjadi kikuk dengan sorotan mata yang entah apa artinya itu. Bukan sinis, bukan ramah.


"Kenapa kesini?" tanya Marcel.


"Gak ada. Mau lihat mainan baru kamu aja," jawab Martha menyindir.


Marcel menoleh sejenak dan melotot sesaat ke Martha, tapi justru dianggap lelucon oleh wanita itu.


"Santai. Aku kesini mau pamit, sayang."


"Mau kemana kamu?" tanya Marcel bersuara lirih. Pergerakannya yang tadi cepat karena buru-buru itu kini melambat. Terlihat Marcel membereskan berkasnya dengan sangat lambat. Seolah tak mau melihat ke arah Martha yang sedang berbicara. Mata Lila menangkap pergerakan tersebut.


"Aku harus kembali ke Bali. Papa sakit, sayang. Aku harus menemuinya walau aku tak ingin."


"Hm, pergilah," suara tak rela melepaskan dari Marcel terdengar sakit di telinga Lila. Entah mengapa.


"Oke. Secepatnya aku akan kembali kok, itupun kalau kamu masih membutuhkan aku," sahut Martha kembali menyindir Lila.


Lila merasa tak nyaman. Pelan ia melihat sosok Marcel yang berdiri lemas mendengar kabar kepergian Martha ini. Di sisi lain, sekali lagi ia melihat Marcel yang tampak sedih dari balik punggungnya, merasa sakit, kali ini di hatinya. Lalu ia menoleh ke Martha yang juga masih memandangi dirinya dengan lekat.


"Duh, apa lagi ya," celetuk Marcel kembali berpura-pura sibuk dan mengaburkan pandang-pandangan antara kedua wanita itu.


"Kayaknya udah, aku pergi dulu. Kalian aku tinggal ya," ucap Marcel melihat Martha dan Lila bergantian. "Jangan bertengkar!" perintah Marcel sebelum ia beranjak pergi.

__ADS_1


Kini tinggal dua wanita yang 'bersaing' di hati Marcel itu.


"Maaf, aku harus pulang."


Lila berinisiatif untuk meninggalkan ruangan itu terlebih dahulu, tapi Martha menahannya. "Gak mau ngobrol sejenak?"


"Hm?" tanya Lila bingung.


"Tapi jangan di sini, takut jika dia menaruh alat perekam atau semacamnya untuk memastikan kita tak bertengkar," canda Martha yang membuat Lila heran.


Setelah itu mereka turun menggunakan lift yang terhubung ke lobby hotel. Kehadiran mereka berdua menjadi bahan gosipan para karyawan yang sudah mengenal mereka.


Bahkan ada suatu omongan yang membuat Lila bergidik ngeri ketika seseorang karyawan berbisik dengan suara yang cukup terdengar oleh Lila maupun Martha.


"Lihat tuh, gundik tua sama gundik muda akur. Pak Marcel pasti bahagia melihat kedua gundiknya begitu harmonis."


Tapi Martha tampak tak terganggu dengan omongan itu, dia terlihat cuek dan tetap melangkah dengan percaya diri. Sementara Lila berjalan tunduk dan berusaha berlapang dada pada omongan orang-orang yang pasti akan ia hadapi pula kemudian hari.


Di balik Martha, Lila melirik penampilan wanita itu. Sungguh berbeda jauh dengan dirinya. Walau setelah dipikir, mereka berdua berstatus sama di samping Marcel. Selingkuhan, simpanan, gundik, apapun itu. Sosok Martha yang sexy, elegan dan dewasa, jika dibandingkan dengan Lila yang berpenampilan ala kadarnya, hanya feminin, dan sudah, tidak ada poin plus lagi. Tapi mengapa Marcel mempertahankan Lila jika ada wanita secantik ini di sampingnya.


Untuk beberapa saat, mereka berdua saling pandang, dan mengagumi satu sama lain.


"Jika dibandingkan kamu, aku tidak ada apa-apanya, bahkan minus," celetuk Lila lucu yang lalu membuat Martha hampir memuncratkan minuman yang baru saja ditenggaknya.


"Kenapa gitu?" tanyanya sambil tersenyum geli.


"Ya contohnya semua orang yang ada di sini, lebih memilih memandang mu. Bodoh banget Marcel."


Martha tersenyum kecut, serasa mengejek apa yang baru saja dikatakan Lila. Membuat wanita ini sedikit tersinggung.


"Jika dibandingkan dengan Sindi, kita berdua bahkan tidak ada apa-apanya. Baik aku, atau kamu."


"Sindi?" tanya Lila bingung.

__ADS_1


"Hm, istri Marcel. Dia gak cerita apapun ke kamu tentang istrinya?" tanya Martha lagi seolah mendominasi percakapan. Dan Lila menjawab pertanyaan itu dengan gelengan.


"Mungkin ia tak percaya padamu, makanya dia gak cerita apapun tentang istrinya. Yang pasti, Sindi itu cantik, baik, pintar, kaya. Beda level dengan kita yang cuma selingan," jelas Martha sambil tertawa terpaksa.


"Jangan coba-coba bertanya tentang istrinya kecuali dia sendiri yang cerita padamu. Hentikan menanyakan soal Sindi sebelum ia bosan dan menendangmu jauh." Sambungnya.


"Aku akan ke Bali sebentar, kamu lihat tadi ekspresi Marcel kan?" tanya Martha masih mendominasi disertai intonasi bangga yang ada dalam dirinya.


"Gak perlu cemas. Ekspresi tadi hanya ekspresi kehilangan satu mainan. Anggap saja ia sedang berduka karena kehilangan mainan lama yang selalu bersamanya. Jadi, sebagai mainan baru, kamu harus menyenangkan hatinya. Jangan melakukan apapun yang membuatnya muak. Berdandanlah karena Marcel itu suka cewek yang sexy dan elegan. Astaga, gayamu seperti anak Tk."


Kesal gak tuh dikomentari sama selingkuhannya selingkuhan kamu, gais? Tangan Lila yang tadinya sopan di atas dengkul kini terkepal kuat karena menahan emosi. Bisa-bisanya si Martha menghina penampilan Lila yang terinspirasi oleh cewek kawaii ala ala Jejepangan?


"Dan jika ketika aku kembali nanti dia sudah bosan denganmu, menjauhlah dengan sukarela!" Martha memperingati.


"Dengan senang hati. Sialan!" umpat Lila yang sudah tak tahan dan buru-buru beranjak pergi.


Martha masih memandangi kepergian pesaingnya dengan tatapan penuh arti. Lalu ia bergumam sendirian, "Kalila. Aku lah yang tidak ada apa-apanya dibanding kamu." Lalu setelah itu Martha beranjak pula dan kembali ke kediamannya untuk mengambil koper.


Tak disangka siluet seseorang tampak dari kejauhan sedang menunggunya. Martha yang tahu betul itu siapa, langsung mendekatinya dan tersenyum manja seperti biasa.


"Apa harus pergi ke Bali?" tanya Marcel lalu dijawab gelengan pelan dari Martha.


"Udah ada Lila, untuk apa lagi aku ada di sini."


Penjelasan Martha bak pisau silet yang menjerat Marcel. Kalila. Benar, ada Kalila yang akhir-akhir ini bersamanya. Apalagi janjinya pada Lila untuk menggunakan dia seorang. Membuatnya tak menampik apapun di hadapan Martha.


"Tapi tetap saja, apa harus pergi?"


"Hm, papa butuh aku. Aku minta maaf udah kecewain kamu dan makasih untuk semua yang udah kamu berikan ke aku."


"Sial." Marcel mengharu. Kalau tidak mikirin malu, mungkin sudah ditumpahkan saja air mata.


Sadar ia tak bisa menghentikan langkah Martha, saat ini yang bisa Marcel berikan hanya pelukan dan kecupan kecil pertanda perpisahan.

__ADS_1


"Oh iya. Baik baik pada Kalila. Dia baik. Nilai 96 untuk dia." Ujar Martha yang mengalihkan topik agar tak ikut bersedih pula.


"Apasih.."


__ADS_2