
Tanpa sadar, mereka berdua telah menghabiskan sepanjang malam dan melupakan sunset dalam kenikmatan. Kini keduanya berada di kursi bagian tengah mobil, berpelukan layaknya pasangan yang sedang di mabuk asmara.
Lila menenggelamkan wajahnya ke dada Marcel yang berotot, dan dirinya pun dipeluk oleh sebelah tangan Marcel yang sedari tadi mengelus lembut punggungnnya yang belum terlapisi baju itu.
"Tanyakan lah yang ingin kamu tanyakan. Tak ada satupun yang akan aku tutupi. Aku akan menjawab semua dengan jujur apapun itu. Jangan dengarkan orang lain. Mereka tak tahu apapun tentangku termasuk sepupumu."
Cukup lama bagi Lila mengeluarkan sepatah kata karena ragu-ragu. Ia masih mengatur hati agar Marcel tak tersinggung pada pertanyaannya. Karena saat ini ia merasa nyaman didekap dan dipeluk lembut oleh Marcel.
"Ehem, kembali lagi di acara Mata Kalila, kali ini narasumber saya seorang pengusaha muda yang sukses dan misterius," Lila membuka percakapan mereka dengan bergaya seolah ia adalah Najwa Shihab yang sedang membawakan acara. Hal itu semakin menambah kesan gemas ke Lila.
"Ada kisah dibalik penamaan hotel anda? M2M? Apa itu terinspirasi dari gundik tersayangmu?" Akhirnya Lila memberanikan diri menanyakan satu pertanyaan yang mengganjal hatinya.
Tak langsung menjawab, Marcel justru mengencangkan pelukannya dan membuat Lila terhimpit dan sesak.
"Baiklah, karena mbak Kalila sangat penasaran soal Martha, maka akan saya jawab secara jujur."
Deg deg, suara deguban jantung Lila terasa ke kulit Marcel. Sepertinya wanita itu takut jika jawaban Marcel mengecewakan dirinya dan sebaliknya malah jadi bumerang untuk Lila.
"Aku dan Martha tidak ada hubungan yang khusus. Semua didasari dengan hubungan simbiosis mutualisme. Ngerti kan kamu? Sama-sama saling menguntungkan."
"Seperti?"
"Keluarganya di Bali miskin, dan dia bekerja merantau ke Batam. Awalnya dia ditipu kenalannya hingga dia bisa sampai ke sini dan bekerja di tempat pelacuran. Terus aku ketemu dia, cerita soal ini itu. Hingga akhirnya terbentuklah hubungan yang saling membantu ini. Dia butuh uang, dan aku butuh s**s. Bagaimana pun aku pria yang sudah menikah."
"Lalu, istrimu? Mengapa kamu dengan orang lain jika ada dia."
"Dia pergi meninggalkan aku."
Kalimat itu mengagetkan Lila hingga membuat mulutnya ternganga lebar. Pertanda tak percaya bahwa istrinya meninggalkan pria tampan dan kaya ini.
"Dia pergi bersama orang yang dia cintai saat kami baru menikah satu bulan." Marcel memandang Lila yang masih menganga. Pelan ia mengatupkan bibir perempuan itu sambil tersenyum. "Jadi bukan karena aku selingkuh dengan Martha makanya dia pergi, tapi dialah yang pergi meninggalkan aku."
__ADS_1
Lila menatap Marcel dengan perasaan kasihan sebelum akhirnya tangan besar Marcel mendarat ke jidat Lila. "Tidak, tidak, jangan merasa kasihan padaku. Karena ada bagusnya juga dia pergi, jadi aku bisa ketemu kamu sekarang." Goda Marcel.
Jawaban seperti ini yang membuat perasaan Lila tak tenang, sebab ada harapan di dalamnya.
"Kok bisa cowok ganteng gini ditinggalin? Secantik apa sih dia sampai segitunya? Selingkuhannya lebih ganteng apa?" tanya Lila keheranan.
Marcel terkekeh pelan. Mengusap kepala Lila, dan mencium kening perempuan itu.
"Hm, dia wanita tercantik yang aku temui selama aku hidup."
Jawaban Marcel membuat Lila kesal. Cepat ia mendorong tubuh Marcel dari dekatnya. Dan mengalihkan pandangannya ke jendela mobil.
"Aku bicara jujur loh, karena memang kenyataannya begitu." sahut Marcel kembali merangkul Lila. "Dan selingkuhannya, hm, kayaknya aku jauh di atas dari dia."
"Najis!" sorot mata Lila seolah berkata begitu. Tapi bibirnya tak sanggup mengatakannya.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan?" tanya Marcel yang sudah cukup lelah mengenang masa lalunya.
"Aku tau rasanya ditinggal orang yang kita cintai. Sakit banget. Bahkan keinginan mati aja gak cukup." usap Lila pada kepala Marcel. Alih-alih marah, Marcel justru menerima perlakuan itu dengan lapang dada. Hingga akhirnya Lila melepaskan pelukannya.
"Sudah, sudah. Pakai bajumu! Ayo pulang."
Lila menurut. Dirinya yang puas karena pikiran kalutnya tentang Marcel akhirnya ia temukan jawabannya. Walau masih banyak yang ingin ia tanyakan, tapi cukuplah sampai disitu sebelum Marcel berubah pikiran dan menjadi buas kembali karena marah.
Baru selesai bersiap, hape Marcel berdering. Suara pekiknya mengagetkan keduanya termasuk Lila yang masih hendak memakai bajunya.
Di layar hp, tampak tulisan 'mama'. Cepat-cepat Marcel menjawab panggilan mamanya.
"Halo. Lama banget sih." sahut mamanya yang terdengar Lila samar-samar.
"Ada apa, ma?" tanya Marcel malas.
__ADS_1
"Mama di restoran Asix nih, mau ke kamar kamu tapi sepertinya kamu ganti password. Jadi, segera kemari ya." perintah mamanya dengan lembut.
"Ih, enggak ah. Aku capek. Lagian kenapa mama ke sini gak bilang-bilang." sentak Marcel.
Suara Marcel yang sedikit meninggi membuat Lila heran. Benar nih ke ibunya seperti itu ngomongnya? Batin Lila. Lalu Lila yang merasa keetisan di atas segalanya, mencubit perut keras Marcel agar kiranya pria itu tau kalau tidak boleh berbicara kasar pada orang tua. Tapi sepertinya Marcel tak mengerti dan hanya berisyarat untuk mempertanyakan apa yang dilakukan Lila barusan.
"Loh, kan mama mau ngasih surprise untuk anak laki-laki mama yang baru berulang tahun."
"Gak ada surprise surprise-an. Ma, aku udah 30. Jangan bikin aku kayak anak kecil lah." pinta Marcel yang segan pada Lila di sampingnya.
"Setua apapun kamu, di mata mama kamu tetap anak kecil, sayang. Jadi ke sini dong.." ucap mamanya dengan suara yang sok sok imut demi merayu sang putra. Hal itu mengundang tawaan kecil pada Lila.
"Ih, najis mama jangan gitu ah. Gak ada pantes-pantesnya!!" teriak Marcel lagi.
Tak sabar, Lila kembali mencubit perut Marcel hingga ia memekik kesakitan.
"Aw, apasih?"
"Gak boleh gitu ngomong sama orangtua! Gak sopan."
"Tapi...."
Walau suara Lila berbisik pelan, tapi sepertinya yang berada di balik panggilan sana mendengarnya.
"Sayang, kamu harus datang sekarang, mama gak bawa uang cash, kartu kredit mama juga ketinggalan. Jadi tolong, datang ya."
Tuut tuut. Dengan segera mamanya mengakhiri panggilan. Membuat Marcel suntuk karena dipaksa untuk bertemu saat itu juga.
"Karena rumah kamu lebih jauh dari resto, kita singgah sebentar ketemu mama ku. Kamu nunggu di mobil aja. Oke?" ijin Marcel yang berkali-kali menghela nafas hingga membuat Lila tertawa kecil.
"Iya, yaudah ayo jalan." ajak Lila yang ternyata tidak keberatan.
__ADS_1