
Siang ini lagi-lagi Marcel meminta Lila untuk menemuinya. Ia ingin meluruskan pertengkaran tempo hari dengan Lila. Dan sekarang ini Marcel yang berinisiatif menjemputnya di rumah. Betapa kaget Lila ketika ia menoleh keluar pagar rumah dan mobil Marcel bertengger tepat di depan gerbang.
"Kenapa kesini? Kalau ada yang lihat gimana?" tanya Lila panik begitu ia menaiki mobil dan duduk di samping kemudi.
"Apa sih? Memangnya kenapa? Lagian semua juga udah pergi kan?"
"Bisa dikategorikan kita sedang selingkuh. Kamu gak paham atau gimana sih?" omel Lila yang masih me-wanti-wanti takut jika orang rumah tiba-tiba pulangĀ atau ada orang yang mengenal Marcel dan melihatnya masuk ke mobil pria yang sudah berumah tangga.
Marcel tersenyum masam mengetahui alasan Lila panik, "Selingkuh ya? Boleh juga," ucapnya sambil bercanda.
"Aku gak sedang melawak!" seru Lila yang ternyata masih kesal.
Marcel paham jika wanita itu merasa kesal. Apalagi kini ia tahu derita Lila dan keinginan gila nya hanya karena ditinggal menikah. Pas rasanya jika ia meminta agar Lila tak menyukainya. Karena takut jika wanita ini akan terluka lagi karena dirinya yang juga sama berengseknya.
Tangan Marcel meraih kepala Lila, membawanya ke dalam pelukan dan mendekapnya penuh kasih.
"Baiklah, aku minta maaf karena sudah berteriak pada nona Kalila."
"Eh?" Lila heran. Apa yang salah dengan pria ini. Kok tiba-tiba doi melembut bahkan meminta maaf.
Tanpa banyak bertanya, Marcel langsung menghidupkan mesin mobilnya dan mengajak Lila mengarungi lautan. Betapa bahagianya Lila diajak jalan-jalan begini. Karena selama beberapa hari dirinya benar-benar hanya terkurung dalam pikiran yang kalut. Kali ini, ia bisa merasakan hawa ombak yang menyapu lelautan. Ditambah kebiruan yang seolah memanggil dirinya untuk terjun ke sana.
Lila membuka kaca mobil dan merasakan angin sepoi-sepoi sengaja menyapu wajahnya. Menerbangkan rambut hitam panjangnya terurai tak terarah. Dan entah mengapa Marcel melihat kecantikan alami yang disembunyikan gadis itu. Wajah bahagianya begitu terlihat saat berada di luar, berbeda ketika mereka di kamar dan melakukan ritual pemuas nafsu.
"Kemaruk!" celetuk Marcel yang juga menyembunyikan senyumnya dari sudut bibir.
"Ini pertama kalinya aku jalan-jalan sejak ke sini. Kota ini keren banget!" ucap Lila secara heboh.
"Memang sepupumu kemana aja?" tanya Marcel penasaran.
"Ah, dia selalu sibuk, gak ada waktu setiap kali aku ajak jalan." sungut Lila sebal.
"Mau ke pantai?" tanya Marcel tiba-tiba.
__ADS_1
"Memang boleh?" ekspresi semangat Lila saat Marcel menawari ke pantai benar-benar menggemaskan menurut Marcel. Ingin rasanya ia menggoda gadis itu saat itu juga. Tapi, sudahlah...
"Mengapa gak boleh?"
"Kalau ada orang yang lihat gimana?" sesal Lila.
"Tenang saja, cantik. Mas akan membawamu ke pantai dan memaksamu memakai bikini yang seksi," godanya kemudian. Baru saja diniatin, sudah dilakukannya.
Wajah Lila memerah karena malu, yang akhirnya membuat mulutnya bungkam dan memasrahkan diri kepada Marcel yang akan membawanya entah kemana.
Perjalanan panjang mereka tempuh, hingga sampai di pantai yang menjadi primadona di sekota Tanjungpinang. Lila mengerjap keluar mobil tanpa ijin atau pamit. Ia berlarian ke sana kemari bak anak monyet yang keluar dari kungkungan. Marcel yang kesal karena ditinggal begitu aja, buru-buru turun dari mobilnya dan menyusul Lila. Takut jika wanita itu kesasar entah kemana.
Tapi begitu melihat Lila berdiri di tepi pantai sambil memercikan air dengan kakinya, hati Marcel bergetar. Dia gak tau apa itu. Yang pasti ada sesuatu yang gatal dalam dirinya. Sosok indah Lila di bawah awan putih dan di atas laut biru bagai mahakarya lukisan sang legenda. Tanpa sadar ia sunggingkan pula senyum demi menikmati keindahan itu.
Lamunannya pecah ketika Lila memanggil dirinya untuk mendekat ke pantai. Marcel pun menurut.
"Jangan kemaruk lah, malu!" kilahnya saat menyaksikan tingkah Lila yang ingin berteman dengan air. Ditambah raut wajah kagum Marcel yang masih tertera jelas.
"Di Jakarta gak ada pantai sebiru ini kak, senang banget aku." girang Lila lagi.
"Gak ada daleman dan gak bawa baju ganti." lirih Lila yang menyesal karena tidak membawa persiapan apapun setelah datang ke pantai.
"Gampang, tanggalkan baju luarmu. Daleman kan bisa kering di mobil."
"Ih, malu!!" tolak Lila mentah-mentah mengingat dirinya hanya memakai daleman senada yang dilapisi tank top.
"Yaudah, tunggu. Aku ke toko sana beli baju untukmu."
Lalu Marcel pergi beberapa saat dan membawa satu set kaos tipis serta legging hitam sedengkul.
"Ha?" mata Lila membulat begitu melihat kedua pakaian yang tidak serasi sama sekali.
"Tadinya aku mau beli bikini, tapi mikir-mikir, kalau kulitmu nanti dilihat pria lain dan membuat muak. Aku bisa jadi DPO dengan kasus mencongkel mata. Jadi pakai saja!" perintah Marcel yang langsung dituruti Lila.
__ADS_1
Mereka berdua lantas bermain air bersama hingga kulit menjadi keriput. Kelelahan terlihat jelas di wajah Marcel. Hari juga sudah mulai petang, saat yang tepat untuk menikmati sunset di pantai. Senyum sumringah tak pernah luntur dari wajah Lila, dan hal itu yang disukai Marcel. Wajah ceria yang sudah lama tidak ia lihat. Wajah ceria yang pertama kali pula membuatnya berpaling dari perempuan-perempuan penggoda lainnya ke Lila seorang.
"Wah, keren banget. Kak, fotoin aku pas nanti sunset ya!" pinta Lila saat ia menyadari hari sudah mulai gelap dan mereka telah berganti di mobil.
"Hm," sahut Marcel singkat.
Angin pantai yang kencang lagi-lagi menerbangkan rambut Lila. Merasa agak terganggu, wanita itu mencari pita untuk mengikat rambutnya. Tapi sebuah tangan menghalangi dirinya.
"Kamu cantik," seru Marcel dengan suara lirih.
Sungguh, Lila mematung mendengar kalimat itu dari bibir Marcel. Lebih membuat merinding, Marcel mengatakannya dengan nada pilu dan mata ketulusan. Kan Lila jadi tergoda. Jujur, Marcel saat itu juga terlihat sangat tampan. Berbeda ketika wajahnya dipenuhi kerutan karena kemarahan. Kini Lila merasa Marcel benar-benar menjadi pria yang lembut.
"Tanpa menjadi sexy, kamu pun sudah cantik. Makanya aku bilang agar kamu tak mencoba menjadi sexy seperti orang lain," sambungnya.
Lalu tangan Marcel bergerak perlahan membenarkan rambut Lila yang berantakan. Mengelus lembut dan menyibakkan rambut yang membandel ke belakang telinga. Sesaat pula mata mereka saling beradu.
Ketika angin memecah keheningan, keduanya tersadar dari pandangan. Merasa malu dan memalingkan wajah ke arah berlawanan. Lalu Marcel mendaratkan tangannya ke paha Lila. Mengelus lembut paha bebas Lila yang tak dilapisi kain itu.
Saat tangan pria itu menyentuhnya, tubuh Lila bergetar hebat. Jiwanya berteriak di dalam, seakan menginginkan hal yang lebih dahsyat dari sekedar sentuhan. Sial, pria ini memang luar biasa menggoda, pikirnya.
"Kamu kenapa? Lagi pengen?" tanya pria itu secara menggoda tanpa melepas sentuhannya.
"Gak, gak," jawab Lila panik menutupi rasa panas dalam dirinya.
"Kita lagi di mobil loh, bukannya kamu gak suka main di mobil?" tanyanya lagi makin menaikkan sentuhan tangannya ke bagian belakang Lila.
"Iya emang," Lila masih menolak jujur padahal nafasnya sudah memuncak di dada.
"Pembohong! Daripada mulutmu, aku lebih percaya sama tubuhmu," lanjut pria itu.
Sial, dia benar. Semakin lama sentuhannya, semakin pula Lila menginginkannya. Kali ini Lila duluan yang berinisiatif meluncurkan bibirnya ke bibir Marcel. Melanggar perjanjian yang ia langgar sendiri untuk tidak 'main' di mobil.
"Kamu mulai nakal, aku jadi suka," cerca Marcel terus menerus. Lantas tanpa sungkan, jari-jarinya menuju ke arah yang paling menginginkan masa depan terjadi. "Kamu harus coba rasanya di mobil, gak kalah dahsyat daripada tempat tidur."
__ADS_1
Terserah, mana yang lebih dahsyat, yang penting lahap aku sekarang juga, teriak Lila dalam hati.